Tentang Al-Aqsha

Masjid Al-Aqsha sudah ada jauh sebelum nabi Muhammad SAW lahir dan masjid Al-Aqsha sendiri disebut-sebut di dalam Al-Quran AL-Kariem. Bahkan meski dahulu digunakan sebagai tempat ibadah kaum yahudi dan nasrani, namun Allah SWT tetap menyebutnya sebagai masjid. Padahal saat itu risalah Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW belum sampai ke tanah Palestina. Saat itu yang disebut sebagai masjid Al-Aqsha belum lagi berfungsi sebagai tempat shalat umat Islam. Karena risalah Islam masih kecambah yang baru diturunkan di Makkah.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( Al Israa’ ayat 1)

Al-Aqsha dan Sekitarnya adalah Tanah yang Diberkahi

Pada ayat di atas kita dapati ketetapan Allah SWT bahwa masjid Al-Aqsha dan tanah di sekitarnya adalah tanah yang diberkahi. Boleh dibilang sebuah situs suci di atas muka bumi yang wajib dijaga kesuciannya oleh umat Islam.

Masjid Al-Aqsha tidak boleh dikotori apalagi sampai dirusak oleh tangan-tangan kotor Israel sang penjajah durjana. Saat ini mereka sedang melakukannya di depan mata dunia. Kalau dunia diam saja itu karena dunia takut pada Israel yang kuku-kukunya tertancap di leher setiap insan.

Namun umat Islam yang hidup di bawah naungan Quran dan bersama sejarah gemilangnya, tidak pernah takut apalagi gentar menghadapi yahudi laknatullahi ‘alaihim. Maka perlawanan atas agresi Israel tidak pernah berhenti sampai yahudi hengkang dari tanah suci umat Islam itu.

Al-Aqsha Adalah Masjid Pertama Setelah Al-Haram Makkah

Disebutkan di dalam hadits shahih bahwa masjid Al-Aqsha itu termasuk masjid-masjid yang paling bersejarah bagi umat Islam. Dibangun di masa paling awal dalam kehidupan manusia. Tepatnya hanya berjarak 40 tahun saja setelah masjid Al-Haram di Makkah dibangun.

Dari Abu Dzar ra berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: Masjid apakah yang pertama kali didirikan di atas permukaan bumi?” Beliau menjawab, “Masjid Al-Haram.” Aku bertanya lagi, “Lalu masjid apa?” “Masjid Al-Aqsha”, jawabnya. “Berapa jarak waktu antara keduanya?”, tanyaku lagi. Beliau menjawab, “40 tahun.” (HR Bukhari)

Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa masjid Al-Haram Makkah dibangun jauh sebelum diciptakannya Adam dan Hawwa. Kalau begitu, berarti masjid Al-Aqsha ini adalah masjid tertua di dunia setelah masjid Al-Haram.

Tentu saja sebagai salah satu dari dua masjid tertua, masjid Al-Aqsha punya nilai tersendiri di hati kaum muslimin. Maka wajar bila umat Islam sedunia marah kalau peninggalan ini dirusak begitu saja oleh penjajah Israel yang tidak berperadaban itu.

Al-Aqsha: Kiblat Pertama Umat Islam

Yang lebih menarik lagi, masjid Al-Aqsha juga dijadikan oleh Allah SWT sebagai kiblat buat umat Islam sejak perintah shalat diberlakukan. Rasulullah SAW bersama para shahabat shalat menghadap ke masjid Al-Aqsha selama beberapa waktu lamany, sebelum kemudian dipindahkan ke arah ka’bah.

Bahkan di kota Madinah ada sebuah masjid bernama masjid Qiblatain. Artinya masjid yang punya dua kiblat. Sebab konon di sinilah dahulu orang-orang berpindah kiblat dari masjid Al-Aqsha di Palestina ke Ka’bah di Makkah.

Jadi kenapa sekarang ini kita sangat peduli pada masjid Al-Aqsha, salah satunya karena masjid itu adalah kiblat kita pertama kali sebelum dipindah ke Makkah. Tempat itu punya hati tersendiri di hati umat Islam dan telah menjadi bagian sejarah syariah yang tak akan terlupakan.

Kalau ada tangan berdarah yang berupaya menghancurkannya, tentu saja umat Islam akan bangkit dari seluruh dunia untuk menghentikannya. Bahkan bukan sekedar menghentikanya, tapi mengusir yahudi dari bumi Palestina.

Al-Aqsha adalah Masjid Para Nabi

Selain itu, hubungan seorang muslim dengan masjid Al-Aqsha adalah hubungan historis. Di mana para nabi dan rasul dahulu hidup dan tinggal di seputar masjid tersebut.

Misalnya nabi Sulaiman dan ayahandanya, nabi Daud ‘alaihimassalam. Demikian juga masjid itu adalah tempat nabi Ibrahim, sehingga sekarang ini ada tempat yang disebut dengan Al-Khalil Hebron. Nabi Musa dan nabi Isa ‘alaihissalam juga tidak bisa lepas sejarahnya dari masjid itu.

Dan umat Islam lebih berhak untuk bernabi kepada para nabi itu ketimbang orang-orang yang mengaku sebagai keturunan yahudi. Sebab Allah SWT telah menyebutkan bahwa meski secara nasab, orang-orang yahudi dan nasrani memang keturunan dari para nabi di atas, namun secara ideologis umat Islam adalah para pewaris sah mereka.

Sebab nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir dari serangkaian para nabi yang telah diutus sebelumnya. Agama Islam lebih berhak untuk menjaga peninggalan para nabi dari pada orang-orang yahudi dan nasrani.

Umat Islam Sangat Dianjurkan Berkunjung ke Masjid Al-Aqsha

Di dalam kitab tershahih kedua dan ketiga di dunia setelah Al-Quran, yaitu shahih Bukhari dan Shahih Muslim, disebutkan perintah dan anjuran bagi umat Islam sedunia untuk mengunjungi masjid itu. Tentunya juga masjid Al-Haram Makkah dan masjid Nabawi di Madinah.

لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد مسجد الحرام ومسجد الأقصى ومسجدي

Tidaklah diupayakan untuk berkunjung kecuali kepada tiga masjid: Masjid Al-Haram, Masjid Al-Aqsha dan masjidku ini (Nabawi). (HR Bukhari dan Muslim)

Kalau sekarang ini ada penjahat yang merusak dan ingin merobohkan masjid itu, tentu saja harus ditentang dan dilawan. Sebab buat umat Islam, sekedar berkunjung ke sana sudah merupakan ibadah tersendiri.

Masjid Al-Aqsha bukan sekedar masjid biasa, melainkan sebuah masjid yang kita secara khusus diperintahkan untuk mendatanginya. Maka perusakan dalam bentuk apapun terhadap masjid adalah urusan hidup dan mati buat umat Islam. Tidak bisa kita diam saja, acuh tak acuh, atau malah secara sinis mengejek saudara kita yang berjuang mempertahankan masjid ini. Sungguh sikap yang sangat bodoh dan kurang ajar, yang lahir dari sikap masa bodoh yang akut.

Tapi kami tidak menyalahkan sikap sebagian umat Islam yang begitu. Wajar sekali mereka bersikap demikian, karena sejak TK hingga Perguruan tinggi, kurikulum pendidikan mereka memang dibuat oleh yahudi. Mulai dari materi kurikulum sejarah sampai sains. Akhirnya yang dihasilkan adalah generasi umat Islam yang secara fikrah sudah terkena erosi al-ghazwul fikri sesat.

Umat Islam Diperintahkan untuk Shalat di Masjid Al-Aqsha

Secara khusus ada perintah dari nabi Muhammad SAW buat umat Islam untuk melakukan shalat di masjid Al-Aqsha. Bahkan sebelum mi’raj naik ke langit, beliau SAW pun melakukan shalat terlebih dahulu di masjid itu.

Padahal kalau dipikir-pikir, ngapain harus mampir dulu jauh-jauh ke sana? Mengapa beliau tidak langsung mengorbit ke langit dari Makkah?

Rupanya di sinilah letak nilai masjid Al-Aqsha dalam agama kita. Ternyata kita memang diperintahkan untuk melakukan shalat di dalamnya. Tentunya bila kita mampu dan punya cukup dana.

عن ميمونة مولاة النبي قالت: يا نبي الله أفتنا في بيت المقدس فقال: أرض المنشر والمحشر ائتوه فصلوا فيه

Dari Maimunah maula Nabi SAW berkata, “Wahai Nabiyallah, beri kami fatwa tentang Baitil Maqdis.” Beliau menjawab, “Baitul Maqdis adalah tnah mansyar dan mahsyar. Datangilah dan shalatlah di sana.” (HR Ahmad 6/463 dan Ibnu Majah 1/429)

Kalau masjid ini dirusak atau dirobohkan yahudi, maka umat Islam harus menghalangi. Sebab umat Islam diperintahkan untuk shalat di sana oleh nabinya.

Fakta Sejarah: Al-Aqsha milik Umat Islam

Belum lagi kalau kita lihat sejarah. Masjid Al-Aqsha ini sepanjang sejarah telah menjadi milik umat Islam. Dikelola dan dimakmurkan oleh umat Islam. Tidak kurang dari 15 abad lamanya. Terhitung sejak diserahkannya kunci Baitul Maqdis secara resmi oleh pemimpin tertinggi agama nasrani saat itu kepada khalifah yang agung, Umar binAl-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Kejadian itu pada tahun ke-15 hijriyah, atau 5 tahun setelah wafatnya nabi Muhammad SAW.

Sejak saat itu hingga abad 20 ini, masjid Al-Aqsha milik umat Islam 100%. Diakui secara de Facto dan de Jure. Adapun penjahat perang Yahudi baru kemarin sore ( tahun 1948 ) merebutnya dari tangan umat Islam yang sedang lengah.

Oleh : Ahmad Sarwat LC

5 Balasan ke Tentang Al-Aqsha

  1. Ali Aceng mengatakan:

    Mewakili pengunjung,bahwa di islamic bnyk yg minta pemutaran film lg,kalau bisa di siapkan info pake komputer.

  2. Syubban mengatakan:

    Ali Aceng di Islamic mana ??? kalo di Niyabah Sukabumi Insya Allah Tim saya akan datang untuk memutar film nya pake infokus

  3. samali mengatakan:

    Rumus Kehancuran

    Kamis, 10/07/2008

    Pewaris bumi

    Allah SWT berfirman .

    وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ(105)

    Artinya :” Sesunggunya bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang sholeh” (Al Anbiya’ 105)
    . Untuk kesejahteraan umat manusia, Allah menciptakan dua hukum di dunia ini; Pertama, hukum alam atau sunnah kauniyyah dan kedua, hukum agama atau sunnah tasyri’iyyah. Sunnah kauniyyah atau sering dusebut dengan istilah Sunnatullah merupakan sejumlah aturan-aturan yang diikuti oleh alam dan berlaku secara mutlak , absolut dan universal seperti gravitasi bumi, hukum sebab-akibat dsb. Hukum alam ini diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia agar mau meneliti dan memanfaatkannya seoptimal mungkin demi kesejahteraan dan kemajuan peradabannya di dunia. Allah berfirman : Lihatlah apa-apa yang ada di langit dan bumi. (Yunus 101)
    Ketika umat Islam terdahulu memenuhi seruan ini, lalu meletakkan dasar-dasar ilmu untuk memahami dan menguasai hukum alam, mereka menjadi pewaris bumi dan bisa mengendalikan dunia. Namun ketika mereka lalai dan tidak memperhatikan hukum kauni mereka terperosok dalam kemunduran dan keterbelakangan serta menjadi mangsa empuk musuh-musuhnya.
    Hukum kauni dianugerahkan Allah kepada seluruh umat manusia sebagai manusia, tidak pandang agama ataupun keimanannya. Ia adalah suatu ketentuan Allah yang tidak berkurang dan juga tidak bertambah, neraca timbangan segala sesuatu yang tetap, juga sebagai anugerah Ilahi terhadap alam seisinya. Allah menyatakan : “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (Al Qamar 49). Pasang surut kemajuan peradaban suatu bangsa tergantung kadar penguasaan dan pendayagunaan hukum kauni dalam kehidupan ini.
    Sedangkan aturan-aturan yang menjadi kerangka bagi prilaku manusia secara individual ataupun sosial yang harus ditaati dalam hidup ini adalah hukum agama atau syari’atullah yang dibawa oleh para Rasul. Syariah ini berperan sebagai pelengkap hukum alam, yang seirama dengan fitrah manusia dan sejalan dengan rahasia aturan kauni, juga sebagai penerang akal untuk mencapai hakekat dan melindungi manusia dari kesesatan.
    Syariat samawiyah ini telah mencapai kesempurnaan dan kelengkapannya pada risalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW yang terkandung dalam Alquran dan Assunnah. Syariah petunjuk ini disampaikan kepada seluruh umat manusia untuk dianut sebagai pedoman hidupnya di dunia tanpa ada paksaan.
    Bangsa atau umat yang akan menjadi pewaris bumi adalah umat yang berpegang teguh pada dua macam hukum di atas. Merekalah yang disebut sebagai orang-orang sholeh dalam arti seutuhnya. Selama umat memiliki ciri keseholehan umum maka Allah SWT menjadikannya sebagai pewaris bumi.
    Kesholehan manusia bisa dipilah menjadi dua; pertama, kesholehan dalam aspek hukum kauni /sunnatullah dan kedua, kesholehan dalam aspek syari’atullah. Di bidang peradaban material, maju mundurnya suatu bangsa tergantung dengan kadar keshalehan umum mereka di bidang hukum kauni. Sedangkan pewarisan bumi yang hakiki dan kesempurnaan peradaban dunia hanyalah bisa diraih dengan ajaran Islam. Karena ajaran Islamlah yang memadukan antara dua kashalehan yaitu penguasaan hukum kauni dan pengaplikaisan hukum qur’ani di dunia ini secara integral.

    Rumus Kehancuran

    Kemajuan peradaban suatu bangsa atau kehancurannya tidak terlepas dari aturan perubahan terhadap apa yang ada dalam jiwa bangsa itu. Allah SWT menyatakan “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah apa-apa yang ada pada suatu kaum sehingga kaum itu mau merubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri” (Ar Ra’d 11). Kehancuran suatu bangsa tidak akan terjadi secara mengagetkan, akan tetapi melewati proses panjang. faktor-faktor penghancur itu masuk terlebih dahulu dalam sendi-sendi masyarakat itu secara perlahan sehingga lambat laun akan menghabiskan semua unsur kekuatannya dan pada ronde akhir, masuklah bangsa itu dalam jurang krisis multi dimensi lalu hancur secara total.
    Kita mengenal dalam sejarah, berbagai bangsa dengan peradabannya yang dihancurkan Allah. Kaum Nabi Nuh, kaum ‘Aad, Tsamud, Fir’aun dll. merupakan bangsa-bangsa hebat yang pernah berperadaban tinggi, namun kemudian diluluh lantakkan Allah karena kekufuran telah merasuk dalam sel-sel kehidupan mereka sehinga menjadi karakteristik umum bangsa-bangsa tsb.
    Proses kehancuran suatu peradaban membutuhkan waktu yang panjang namun upaya membangun kembali peradaban tsb. menghabiskan waktu yang lebih lama lagi. Suatu peradaban memungkinkan untuk diselamatkan dari kehancuran. Bisa cepat atau lambat tergantung proses perubahannya bila ke arah yang positif akan selamat dan maju tapi bila berubah ke arah hal-hal negatif berarti akan cepat menghancurkan.
    Umat Islam pernah memiliki peradaban tinggi bahkan dianggap terhebat dan terlama sepanjang sejarah peradaban manusia . Di bidang sosial dan kemanusiaan Islam telah mencapai puncaknya. Di bidang iptek Islam telah meletakkan sendi-sendi dasarnya. Seandainya umat Islam tetap istiqamah dan memiliki kesiapan untuk berprestasi lebih baik niscaya menjadi pewaris dunia sekarang ini, memimpin dunia , beramar ma’ruf dan nahi munkar, menebarkan ketenangan jiwa ke seantero dunia.
    Ketika umat Islam ‘berubah’ dan ‘menyimpang’ dari jalan ajarannya yang lurus, mulailah muncul perpecahan dan orang-orang terbaiknyapun dikuasai oleh para thaghut.
    Penyimpangan ini dimulai dari sistem pemerintahan. Dari sistem syura berubah menjadi sistem otoriter. Hubungan sosial horizontal antara individu yang bersendikan kebebasan umatpun hilang sirna. Dan puncak penyelewengan ini adalah hancurnya hubungan manusia secara vertikal dengan Allah SWT. yaitu ditinggalkannya sholat lima waktu oleh sebagian besar umat Islam . Keislaman mereka tinggal namanya saja sedangkan prilakunya jauh dari nilai-nilai Islam dan menjurus kepada kehancuran individu dan sosial
    Bila ketiga faktor ini telah sirna yaitu faktor rohani (spiritualitas) untuk melestarikan hubungan dengan Allah lewat sholat, faktor kepemimpinan dengan sistem syura dan faktor solidaritas umat yang tercermin dalam sistem ekonomi Islam, ketiganya semakin menghilang dalam kehidupan umat Islam, maka akan terjerembablah ke dalam kemunduran. Kalau kita buat rumus kehancuran adalah sbb:
    Kehancuran spiritualisme + Otoriterianisme + kemiskinan = kehancuran umat. Bila tiga faktor di atas yang nota bene menjadi keistimewaan peradaban Islam telah lenyap maka akan tumbanglah umat ini menuju kehancuran.
    Rumus kehancuran tersebut tersirat dalam berbagai hadits Rasulullah Saw a.l.:”Simpul-simpul Islam akan lepas terurai satu persatu . Simpul pertama yang terurai adalah sistem pemerintahan dan simpul yang terakhir adalah sholat” (H.R. Imam Ahmad dalam kitab Musnad Juz IV hal 232). Terurainya simpul sistem pemerintahan ini tercermin pada sistem otoriter yang meninggalkan aspek syura dari umat Islam dan terciptanya kesenjangan antara penguasa dengan Al Quran. Marilah kita merenungi nasib bangsa ini, apakah sudah mendekati rumus kehancuran ? Na’udzubillah min dzalik. (Achmad Satori Ismail)

    • Putri Maharani mengatakan:

      Bismillah. Afwan, ana sedang mencari hadis,tapi belum dapat.
      Tentang jaminan Allah tentang terjaganya Masjidil Harom dan Masjid Nabawi, serta perintah untuk menjaga Masjid al Aqsha.
      Sehingga yang ditekankan adalah perintah untuk melindungi masjid Al Aqsha dari serangan musuh. Sebab, dua masjid yang lain telah mendapat jaminan aman oleh Allah.
      Jazaakumullahu khayran.

  4. Blog Islami mengatakan:

    setelah peringatan terakhir alloh mengubah arah kiblat ke makah, ini alasannya http://1000islami.blogspot.co.id/2016/09/mengapa-kiblat-pertama-umat-islam-dan.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: