Al-Aqsha Akan Bebas Dalam Waktu Dekat

Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz N Mehdawi mengungkapkan, Masjid Al-Aqsha dan kawasan Palestina akan bebas dari penjajahan dalam waktu dekat ini, mengingat banyaknya dukungan kaum muslimin seluruh dunia.

Dalam pidato tertulis dibacakan Arif Hizbulah pada Tabligh Akbar “Bebaskan Al-Aqsha Milik Muslimin” yang diselenggarakan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) di Masjid Agung Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Ahad (13/7).

Menurutnya, walaupun Palestina selama 60 tahun ini dalam pejajahan, namun tidak akan melemah apalagi jatuh ke tangan musuh. Hal ini karena sesuai janji Allah yang akan memenangkan orang-orang beriman yang mau berjuang, sebagaimana terdapat dalam surah Ash-Shaffat ayat 171-175.

“Kelemahan tidak akan terjadi selama-lamanya, dan kekuatan tidak akan terjadi selamanya-lamanya, ” tandas Mehdawi.

Ia menyebutkan, kekuatan dahsyat yang diklaim penjajah pada dasarnya hanya untuk menyebarkan rasa putus asa di hati orang-orang beriman. Untuk itu, Dubes Palestina meminta segenap potesi kaum muslimin menajamkan cita-cita, menjalankan niat dan meneguhkan keyakinan, untuk memastikan kemenangan.

Dubes mengutip hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan, “Akan selalu ada segolongan dari umatku yang berperang di pintu Damaskus dan sekitarnya serta di pintu Baitul Maqdis dan sekitarnya. Tidak membahayakan orang yang menghinakannya, dan mereka selalu menampakkan diri di atas kebenaran sampai hari kiamat.”

Dubes Palestina Mehdawi tidak hadir karena mengikuti pertemuan New Asian African Strategic Partnership di Jakarta.

Sementara itu, Imam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) H. Muhyiddin Hamidy dalam tausiyahnya menyampaikan, Al-Aqsha adalah masjid yang dimuliakan Allah, kiblat pertama, dan milik kaum muslimin seluruh dunia.

“Kita harus yakin, Al-Aqsha milik kaum muslimin, pasti akan kembali ke pangkuan muslimin secepatnya, ” ujarnya.

Deklarasi Pembebasan Al-Aqsha

Sebelumnya, Sekitar 2.000 umat Islam mengikuti “Longmarch Bebaskan Al-Aqsha Palestina” berjarak 17 km pada Sabtu (12/7) tengah malam di Wonigiri, Jawa Tengah, membubuhkan tanda tangan “Deklarasi Wonogiri untuk Pembebasan Al-Aqsha”.

Deklarasi ditulis di atas spanduk putih berukuran 1, 5 m x 6 m, bertuliskan “Dengan niat memenuhi perintah Allah memuliakan Masjid Al-Aqsha kiblat pertama, negeri para nabi, dan tempat Isra Mi’raj Nabi Muhammad, yang sekarang dijajah Zionis Israel, maka kami siap berjihad membebaskan Masjid Al-Aqsha untuk dikembalikan ke pangkuan muslimin”.

“Kita seluruh kaum muslimin siap berangkat bersama-sama shalat di Masjid Al-Aqsha, tempat yang Allah berkahi, ” tandas Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) H.Muhyiddin Hamidy dalam siaran perskepada Eramuslim.

Dalam tausiyahnya Imaam Muhyiddin menyampaikan, kaum muslimin di seluruh dunia bertekad menunjukkan aksi nyata secara istiqamah membebaskan Masjid Al-Aqsha, semata-mata karena memenuhi perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Ketua Panitia Tribolo Waloyo mengatakan, Longmarch Pembebasan Al-Aqsha merupakan rangkaian ajakan kepada kaum muslimin untuk turut serta membebaskan Masjid Al-Aqsha dari penjajahan Zionis Israel di Palestina. Spanduk “Deklarasi Wonogiri” dibentangkan di tempat start longmarch di Desa Jurug, Pokoh Kidul, dibawa keliling kota melewati Ngadirojo hingga ke Masjid Agung Kabupaten Wonogiri.

Peserta longmarch datang bukan hanya dari Kabupaten Wonogiri dan sekitarnya. Tetapi juga dari luar kota, seperti Banjarnegara, Cilacap, Purwokerto, Purbalingga, Kebumen, Solo, Jogjakarta, Pekalongan, Brebes, Tegal, Pemalang, Jakarta, Bogor, Bekasi, Bandung, Surabaya, Lampung, Pontianak, hingga Nusa Tenggara Timur.

Menurutnya, spanduk tanda tangan akan diserahkan ke Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) untuk dilanjutkan keliling ke berbagai kota, hingga puncaknya akan ditandatangani secara internasional pada agenda Al-Aqsha International Conference “Real Action to Return Al-Aqsha to Moslems” di Jakarta, 21 Agustus mendatang. (novel)

sumber : eramuslim.com

22 Balasan ke Al-Aqsha Akan Bebas Dalam Waktu Dekat

  1. Jihad mengatakan:

    Allahu Akbar
    Amiiiin, seluruh ummat Islam sedunia harusnya mendo’akan. Bagaimana Jamaah Muslimin, respon anda tentang jihad ke Palestina mempertahankan Al-Aqsha? koq gak ada respon.

  2. Indra Bilabong mengatakan:

    Saya memang optimis, tapi anda jangan asal bicara dong. Buktikan kita bersama. Ayo Perangi yahudi

  3. Nia Kurniasih mengatakan:

    Maaf mau tanya Jamaah muslimin sama dengan LDII enggak?
    Bukannya Pimpinan LDII dari Jamaah muslimin?

  4. Nia Kurniasih mengatakan:

    Oh maaf Pimpinan LDII Nurhasan Ubaidillah tadinya dari Jamaah muslimin.

  5. zurick zaryan mengatakan:

    Assalamualaikum semua…
    Jihad:
    Jihad tidak selalu mengangkat senjata, mengangkat pena juga bisa disebut jihad.

    Indra:
    Mudah-mudahan kita terlaksana, tapi bagaimana Khalifah Umar ibnu Khatab bisa mengambil lagi? tidak dengan kekerasan.

    Nia Kurniasih:
    Menurut saya Nurhasan Ubaudillah tidak ada hubungannya dengan Jamaah Muslimin (Hizbullah)

    All:
    Jawaban yang paling tepat mungkin ada yang bisa membalas dari Cileungsi Pesantren Al-Fatah. Bagaimana? kita tunggu.

    Wassalam

  6. mujahid mengatakan:

    Assalamualaikum,
    Wah Bagus donk Yahudi memang kelewatan, ummat Islam mesti bersatu dan kita harus punya satu sentral kepemimpinan seperti zaman Rasulullah dan para sahabatnya….
    Jama`ah Muslimin (hizbullah) harus menjadi lokomotif bagi bersatunya muslimin menghancurkan Zionis Israel.

  7. zurick zaryan mengatakan:

    didukung…….!!!!!!!!!!!!!!
    Ikuti juga UNDANGAN KONFERENSI INTERNASIONAL AL-AQSHA beserta Tabligh Akbarnya…..
    Lihat di Undangan Halaman Depan.

  8. fauzi mengatakan:

    saya banga sekali pernah mengikuti longmarh untuk pembebasan allaqsho,dan impian saya inginpergi kesana,dan saya yakin allaqsho akan kembalilagi ketangan kaumuslimin.

  9. zurick zaryan mengatakan:

    Insya Allah antum bisa……..(saya juga belum neh)

  10. asma mengatakan:

    Al-Aqsha Haqquna… Al-Aqsha milik kita (muslim) semua..
    setiap muslim yang beriman harus tergetar untuk mau membebaskan mesjidil Aqsha dari kaum Yahudi.
    Allahu Akbar…

  11. Salmina Fajar Cs mengatakan:

    Dalam minggu-minggu terakhir ini di Niyabah Sukabumi telah gencar diadakan pemutaran film dokumenter tentang kejamnya penjajahan Israel atas bangsa palestina yang dikomandani oleh ikhwan Bilal SR.
    Beserta ikhwan-ikhwan pendukung lain-nya dalam rangka menggalang tandatangan tanda solidaraitas atas penderitaan bangsa Palestina serta keberadaan atau keutuhan dan kemurnian Masjid Al-Aqsha yang telah diinjak-injak harga dirinya.
    Tandatangan-tandatangan yang digalang sebanyak-banyaknya tesebut adalah demi untuk meringankan beban penderitaaan saudara kita yang tengaha berada dalam cengkeraman penjajahan Kaum Zionis Israel.
    Adalah ………………………………………………………………………………………………………………. akh. capek nulis banyak-banyak.

  12. Ibenk mengatakan:

    Satu infokus cukup untuk promosi kekejamana Israel atas bangsa Palestina. dan itulah yang dilakukan oleh syubban Sukabumi ke beberapa tempat di wilayah niyabah nya
    Semenjak diberlakukannya Deklarasi Jakarta oleh Jamaah Muslimin dengan ghazwah Al-Aqsha-nya, maka spontan reaksi ikhwan tergerak ghirahnya untuk membantu men sosialisasikan amanat itu dalam aksi nyata dengan cara keliling antar kampung dengan jadwal nya sendiri memutar film dokumenter kisah nyata tentang kebiadabad Israel atas penghancuran masjid yang dimulyakan Allah SWT yaitu masjid Al-Aqsha.
    BANGSA YAHUDI AKAN HANCUR TIDAK AKAN LAMA LAGI ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,ALLAHU AKBAR

  13. Bainy mengatakan:

    Oban titah nelpon Pak Iqbal ceuk Ucup

  14. Ahmadinedjad mengatakan:

    Ahmadinejad: Pemerintah Israel Bendera Setan

    Jumat, 10 Oktober 2008

    Presiden Iran Ahmadinejad, kembali berpidato ”anti-Israel” dengan mengatakan, negara Yahudi adalah bendera setan. Sebelum ini ia meragukan holocoust

    Hidayatullah.com–Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Sabtu (18/8), menyimpulkan pidato anti-Israelnya dengan pernyataan bahwa Pemerintah Yahudi adalah bendera setan.

    Rezim Zionist (Israel) adalah benderanya setan dan pemilik bendera untuk melakukan agresi dan pendudukan, kata Ahmadinejad dalam suatu pertemuan keagamaan di Teheran.

    Iran telah 27 mencap Amerika Serikat sebagai ‘Setan Besar’ berkaitan dengan tuduhan AS membenci Islam dan Muslim serta terus berlanjutnya tudingan Washington sebagai sponsor utama apa yang oleh Teheran disebut ‘kejahatan Zionist’ di Timur Tengah.

    Ungkapan bendera Setan dikaitkan dengan hubungan antara Israel dan AS serta kebijakan-kebijakan bersama mereka terhadap dunia Arab.

    Sejak dia dilantik menjadi presiden pada Agustus 2005, Ahmadinejad telah beberapa kali melancarkan serangan-serangan verbal terhadap Israel, termasuk seruan-seruannya untuk membasmi Israel dari bumi Islam, dan relokasi negara Yahudi ke Eropa dan Korea Utara.

    Dia juga menyebut Holocaust adalah ‘cerita yang mendekati kebohongan.

    Buka perlintasan

    Dari Yerusalem diberitakan, Ahad (19/8), Israel membuka pelintasan dengan Jalur Gaza bagi pengiriman bahan bakar minyak setelah beberapa generator di daerah pantai iu ditutup.

    Para pejabat Palestina mengatakan tidak kurang 400.000 orang menghadapi kemungkinan tidak menerima pasokan listrik setelah pembangkit listrik utama daerah itu tidak beroperasi, yang menyebabkan daerah itu gelap gulita.

    Seorang juru bicara militer mengatakan Israel telah membuka pelintasan Nahal Oz dengan Gaza untuk mengizinkan bahan bakar minyak dikirim.

    Israel memasok sebagian besar listrik Gaza sebagai bagian dari perjanjian perdamaian sementara, tapi mulai menghentikan pasokan itu akhir pekan lalu, dengan alasan kuatir akan keamanan dengan membuka pelintasan-pelintasan perbatasan.

    Menurut para pejabat Palestina dan Israel, penduduk Gaza menggunakan sekitar 200 megawat listrik, di luar 120 megawat yang diberikan langsung dari jaringan listrik Israel, 17 disalurkan dari Mesir, dan 65 dihasilkan pusat pembangkit listrik Gaza.

    Pada hari yang sama, Israel juga diberitakan mendeportasi 50 pengungsi Sudan yang memasuki negara itu secara tidak sah pada hari-hari sebelumnya, kata seorang pejabat senior.

    Para pengungsi Sudan ini diserahkan kepada pihak berwenang Mesir sesuai dengan prosedur deportasi yang dipercepat, kata seorang pejabat senior di kantor PM Ehud Olmert kepada AFP.

    Para pengungsi Afrika yang berusaha memasuki Israel secara tidak sah melalui perbatasan 250kmnya dengan Mesir, ditangkap hampir setiap hari.

    Lebih dari 240 warga Afrika, sebagian besar Sudan dari wilayah Darfur yang porakporanda akibat perang itu, ditangkap pada Juli saja sewaktu berusaha melintasi perbatasan itu, kata para pejabat Mesir.

    Dalam usaha untuk mencegah arus pengungsi, Israel mengatakan siapapun yang secara tidak sah memasuki negara itu dari Mesir akan dipulangkan. Tapi Israel juga mengatakan pihaknya akan membantu sejumlah kecil para pencari suaka dari Darfur.

    Menurut data PBB, kini ada 1.200 pengungsi dari Sudan di Israel, di antara mereka 300 berasal dari Darfur.

  15. KOpian mengatakan:

    Israel: setan, manusia, or setan aja?
    for everyone
    Lokasi masih di WH, kosan tercinta. Tepatnya di depan tv di balkon. Anak2 WH kumpul di depan tv abis makan malam. Ada b-wie, nandito, anggito, ulan dan aku. kita lagi nonton berita. Tema terpanas yang menghiasi berita selama beberapa pekan ini: serangan-biadab-israel-laknatullah-ke-Lebanon-juga-Palestina-yang-kurang-ajar-banget-bikin-pengen-nonjok.

    Komentar2 segera berhamburan keluar. Biasa, khas anak2 WH. Sampai berita MMI akan mengirim 500 personil untuk membantu Lebanon muncul di layar kaca. Wuush, kita merinding seketika. Para personil jihad itu terbalut kafieh. Aura jihad nya bahkan bisa terpancar lewat tv saja. Gumam ‘Allahu Akbar’ terdengar sekali dua kali dari mulut anak2 WH. pemuda2 dengan muka yang terbalut kafieh itu di satu sisi menimbulkan harap, di sisi lain menampar telak: kite udah bantu apa aja neh? ato cuma bisa bantu ngomelin israel tanpa gerak nyata? hiks…

    Setelah berita, kita jadi terlibat pembicaraan seru. Tentang jihad, tentang persaudaraan muslim yang (harusnya) bagai satu tubuh itu, tentang khilafah, tentang kehancuran israel dan amerika yang entah kapan, tentang PBB yang gitu deh…dan hal2 lainnya. Tentang kelemahan diri yang masih terus terbuai ghozwul fikri…

    A : indonesia kan negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia. kita bisa jadi target selanjutnya.

    B : kata israel mah: indonesia sih gak perlu. cukup pake ghozwul fikri lewat film, chicklit and teenlit aja pemuda muslimnya udah bisa kita kuasai kok. udah melempem, udah bisa jauh dari agamanya…

    Berita selesai. Remote ditekan, mencari channel lain, yang ternyata masih menyiarkan berita serangan-biadab-israel-laknatullah-ke-Lebanon-juga-Palestina-yang-kurang-ajar-banget-bikin-pengen-nonjok.

    Hmm….

    Ya Allah ampunilah kelemahan diri ini…

    Astaghfirullah…

    (sorry kalo bahasa yang dipakai ada yang tak berbudi. lagi emosi)

  16. KOpian mengatakan:

    Tak ada! Tak ada yang seindah jama’ah!
    for everyone
    Subhanallah…memang Allah itu Maha Indah…

    Tadi kembali berinteraksi dengan ‘keluarga kampus’ setelah sekian lama aku vakum. Ternyata aura yang kutemukan masih sama: ukhuwah berbalut kasih. Membuat perasaan ini nyaman sekali.

    Tadi sekaligus melepas rasa rindu. Kembali menatap wajah-wajah saudari yang menjadi rekan2 seperjuangan selama kurang lebih lima tahun. ‘Mut, aku kangen’ sapa mereka. Alhamdulillah, aku masih dikangenin Haru dan menghangat hati ini mendengarnya…Miss u too sista!

    Suasana pertemuan tadi sungguh berbeda dengan biasanya. Suasana jadi lebih santai dan ‘bersahabat’. Bisa menyelipkan canda di tengah pembicaraan serius. Sejak kami lengser dari kampus, hubungan memang jadi lebih agak santai. Mungkin dulu mau santai repot, karena masih banyak amanah yang dipikul setiap orang sehingga membuat tegang syaraf hehe…

    Agenda digulirkan satu persatu. Sejam pun lewat tanpa terasa. Dan diam2 aku menikmati setiap detik yang kulewatkan bersama mereka. Setiap patah usul yang dilontarkan masing2 personil. Setiap adu argumen. Setiap koor setuju. Menikmati setiap detiknya, karena takut tak punya kesempatan untuk mengalaminya lagi.

    Dan interaksi tadi membuncahkan haru. Kembali menyadarkan hati, bahwa dakwah memang indah, ukhuwah memang indah, jama’ah memang indah. Tiada tanding. Tiada banding.

    Segala puji bagi Mu Ya Allah, yang telah berkenan membawa ku ke jalan dakwah dan tarbiyah. Semoga dapat istiqomah. Tsabat, ’till the ocean runs dry, ’till the day i die. Allahumma Amin…

  17. KOpian mengatakan:

    JALAN PANJANG MENUJU KHILAFAH ISLAMIYAH

    Catatan Redaksi Khilafah1924.org : Berikut ini adalah berita Konferensi Khilafah Internasional yang pernah diselenggarakan di Jakarta 28 Mei 2000. Tulisan ini pernah dimuat di koran Republika, 31 Mei 2000. Untuk mengenang momen bersejarah tersebut, sekaligus untuk menyongsong Konferensi Khilafah Internasional di Jakarta 12 Agustus 2007 ini, redaksi menyajikan tulisan ini untuk Anda.

    Stadion Tenis Indoor Senayan Jakarta Ahad (28/5/2000) pagi, ratusan massa berkumpul dan duduk teratur. Yang pria duduk di sisi sebelah kiri. Sedangkan wanita, hampir semuanya berkerudung, duduk di sisi sebelah kanan.

    Ceritanya, pagi hingga siang itu, berlangsung sebuah konferensi internasional. Dari empat pembicara yang duduk di depan, seorang berasal dari Australia (Ustadz Ismail Al Wahwah), seorang dari Malaysia (Ustadz Dr Sharifuddin M Zain), dan dua orang lagi dari Indonesia (Ustadz KH dr Muhammad Usman dan Ustadz KH M Al Khaththath).

    Meskipun konferensi itu bertaraf internasional, tetapi tak terlihat bendera negara peserta terpampang di sana. Tak ada merah putih, tak ada bulan sabit dan bintang, juga tak ada warna biru berbintang. Yang ada cuma bendera hitam bertuliskan kalimat La illaha illallah yang dipampang di sana-sini.

    Memang, tujuan konferensi itu bukan untuk menonjolkan negara dalam satu perbedaan. Seperti mengkotak-kotak sesuatu yang dahulu sudah dipersatukan dalam persamaan ideologi, menjadi terpisah-pisah dalam garis kebangsaaan. Malah sebaliknya, konferensi itu ingin menonjolkan satu kesamaan dan membuang jauh-jauh ide-ide nasionalisme.

    Konferensi bertajuk Khilafah Islamiyah itu diselenggarakan oleh sebuah partai politik berideologi Islam yang menamakan dirinya Hizbut Tahrir. Tak aneh bila partai ini menggagas ide pembentukan khilafah Islamiyah. Karena menurut salah seorang anggota partai ini, Muhammad Al Khaththath, tujuan partai ini memang ke arah itu.

    “Kami ingin melanjutkan kehidupan Islam dan memahami bahwasanya problematika utama yang menimpa kaum Muslimin saat ini disebabkan tidak diterapkannya hukum-hukum Islam di tengah masyarakat. Dan satu-satunya wadah yang mampu menjamin penerapan sistem dan hukum-hukum Islam secara total di tengah-tengah masyarakaat hanyalah khilafah al Islamiyah,” ungkapnya.

    Berbicara soal keinginan mendirikan satu kekhalifahan, Hizbut Tahrir yang juga banyak terdapat di beberapa negara Islam, bukan yang pertama dan satu-satunya yang bercita-cita mendirikan kekhalifahan Islam. Sejak lama keinginan seperti itu sudah muncul. Seperti yang pernah digagas oleh tokoh pembaharu Islam dari Mesir, Hasan Al Banna, dengan kelompoknya Ikhwanul Muslimin. Sayangnya, sebelum cita-cita ini kesampaian, Al Banna keburu meninggal dunia.

    Terlepas dari siapa yang menggagasnya, semua orang Islam pasti mendambakan suatu pemerintahan global yang benar-benar berpegang teguh pada ketentuan Islam. Terlebih melihat kondisi umat Islam yang sekarang ini tercabik-cabik setelah runtuhnya kekhalifahan Islam terakhir tahun 1924.

    Siapa yang menduga, wilayah Islam yang dulu terbentang sangat luas meliputi seluruh jazirah Arab, Syam, Turki, Semenanjung Balkan, Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika bagian utara, bahkan sampai ke Eropa bagian barat, bisa terpecah-pecah menjadi lebih dari 50 negara-negara kecil. Ironisnya, antara yang satu dengan yang lain, dalam batas-batas tertentu sudah tak ada kepedulian. Hubungan kebersamaan akidah diganti dengan hubungan bertetangga. Masing-masing mereka dibentengi oleh perasaan nasionalisme.

    Kata nasionalisme inilah yang dituding oleh KH dr Muhammad Usman, salah satu pembicara dalam konferensi tersebut sebagai biang pecahnya umat Islam. ”Persoalan tanah Palestina yang hingga kini masih diduduki dan dikuasai oleh Yahudi merupakan bukti nyata akibat nasionalisme,” ungkapnya.

    Bercerita soal Palestina dan Yahudi, yang muncul memang kisah duka tentang sebuah bangsa yang disisihkan. Meskipun sudah berpuluh-puluh tahun tanah Palestina dirampas dan penduduknya diusir bahkan dibantai oleh bangsa Zionis ini, namun hingga kini belum ada tanda-tanda penyelesaian. Kaum Muslimin yang berjumlah 1,4 miliar seakan tak berdaya berhadapan dengan bangsa Yahudi yang jumlahnya cuma segelintir.

    Malah, negara-negara Muslim atau negara yang penduduknya didominasi kaum Muslim saling berlomba-lomba memberikan keabsahan kepada Israel. Mereka membuka hubungan diplomatik. Bahkan tak merasa risih bekerjasama dengan negara yang telah membantai saudaranya sendiri itu.

    Ini cuma satu contoh. Contoh lain, bagaimana bangsa Chechnya dan Dagestan harus berjuang sendiri dengan senjata seadanya menghadapi gempuran pesawat-pesawat tempur canggih tentara Rusia. Demikian pula di Bosnia dan Kosovo, di Moro, China, Vietnam, Kashmir, Ambon, dan sebagainya.

    Lebih dari itu, sambung Usman, nasionalisme bukan hanya membuat kaum Muslimin bersikap individualistik. Tetapi juga rentan memunculkan konflik antara sesama umat Islam sendiri. Ini karena benturan kepentingan. Lihatlah perseteruan antara Suriah dengan Turki tentang daerah Liwaul Iskandariah, atau perang antara Irak dan Iran yang memperebutkan Pulau Abi Musa, Tambul Besar, dan Pulau Ton.

    Persoalan lain, negara-negara berpenduduk Muslim umumnya tergantung pada negara-negara berpenduduk non-Muslim. Pemerintahan negara berpenduduk Muslim tak punya kedaulatan penuh. Untuk berbagai urusan penting, mereka menyerahkan keputusannya kepada sang ‘majikan’. Lihatlah Indonesia. Sebagian besar kebijakan ekonomi dan juga politik, senantiasa membebek dengan kepentingan IMF.

    Dalam hal akidah dan pemikiran, banyak kaum Muslimin di berbagai belahan dunia yang terpesona dengan ide-ide kufur. Belum lagi pembenaran kepada sesuatu yang menjurus ke arah kemaksiatan, seperti pergaulan bebas atau tontonan-tontonan vulgar. Demikian juga dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam masih sangat tertinggal. Semua itu menambah daftar panjang problematika yang dihadapi umat Islam saat ini.

    Sehubungan dengan keinginan mendirikan Khilafah al Islamiyah, tentu banyak pertanyaan yang kemudian muncul. Seperti juga yang terlontar dalam konferensi tersebut. Misalnya, bila nanti berdiri kira-kira siapa yang paling tepat untuk dibaiat menjadi khalifah? Negara mana yang paling tepat sebagai pusat kekhalifahan? Bagaimana merangkul demikian banyak golongan dalam Islam?

    Selalu kandas

    Tak sedikit pula yang merasa pesimis dengan keinginan ini. Alasan mereka, sudah sedemikian sering keinginan seperti ini terlontar tetapi selalu saja kandas di tengah jalan. Selain itu, banyak negara yang mengklaim dirinya sebagai negara Islam toh tetap saja tidak mampu membangun dirinya sendiri. Ada juga yang berpendapat kondisi riil umat Islam saat ini sudah demikian kompleks, sehingga akan banyak persinggungan kepentingan antara negara dan khilafah.

    Setidaknya ada dua pendekatan untuk menjelaskan mengapa kekhalifahan tersebut perlu dibentuk. Pertama, hukum syara’. Kedua, harapan bahwa dengan khilafah ini segala problematika umat Islam bisa terpecahkan.

    Menurut Ismail Al Wahwah, ulama Islam dari Australia, mendirikan khilafah itu wajib hukumnya. Ia mengambil dalil beberapa ayat Alquran yang menginginkan umat Islam sebagai satu kesatuan dalam negara yang satu, di bawah kepemimpinan imam yang satu, yang memerintah dengan peraturan yang satu yang berasal dari syariat Allah SWT.

    Seperti yang terungkap dalam QS Al-Hujuraat: 10 yang menyatakan, umat Islam satu dengan yang lain sesungguhnya adalah saudara. Kemudian dalam QS Ali Imran: 103 disebut juga bahwa umat Islam seluruhnya harus berpegang pada agama Allah dan tidak boleh bercerai berai.

    Selanjutnya segala perkara harus diputuskan menurut apa yang diturunkan Allah, seperti yang dituntun dalam QS Al-Maa’idah 44, 45, 47. Karena Islam adalah sebuah agama yang dari akidahnya terlahir peraturan kehidupan yang sempurna. Yang mengatur urusan-urusan individu – dalam aspek akidah, ibadah, akhlak, dan muamalat – dan mengatur urusan pemerintahan dalam aspek pemerintahan, ekonomi, sosial, jihad, hubungan internasional, ‘uqubat, dan lain-lain.

    Pendekatan kedua tampaknya tak perlu diragukan. Setidaknya ada harapan bahwa problematika umat Islam sedunia akan bisa tertanggulangi dengan adanya kekhalifahan yang menjamin terlaksananya syariat Islam secara total.

    Hanya saja prosesnya butuh waktu. Jelas tak mungkin terbentuk dalam waktu dekat. Tak cukup juga dengan berkoar-koar menyatakan kekhalifahan itu perlu, tapi tak mengetahui bagaimana tahap demi tahap mewujudkannya. Barangkali harus dimulai dari sebuah keluarga. Kumpulan-kumpulan keluarga Muslim yang sepaham ini akan melebar hingga memegang kendali sebuah negara. Barulah kumpulan dari negara ini akan sepaham untuk membentuk satu kekhalifahan.

    Tak boleh pesimis memang. Meskipun kondisi riil saat ini sangat tidak menguntungkan. Lihat saja, meskipun pemeluk agama Islam sudah terbilang banyak, tetapi di antara mereka masih bersikukuh dengan berbagai pemikiran dan perasaan. Ada yang Islami, ada yang kapitalis, ada yang sosialistik, ada yang bertolak dari nasionalisme dan patriotisme, dan tak sedikit juga yang bertolak dari semangat kesukuan atau fanatisme madzhab.

    Sementara negara-negara yang katanya Islam, malah semuanya masih memberlakukan perundang-undangan dan hukum kufur. Hanya sebagian saja hukum-hukum Islam yang diambil. Seperti hukum nikah, talak, rujuk, cara memberi nafkah, waris, perwalian, atau sengketa tentang anak. Selebihnya, entah hukum dari mana diambil.

    Singkatnya, cita-cita mewujudkan sebuah khilafah Islamiyah itu perlu proses dan tahapan yang jelas agar tidak kandas di tengah jalan. ”Mendirikan sebuah khilafah itu tidak dengan cara mendadak. Segala sesuatunya harus matang,” ujar dosen Pascasarjana IAIN Bandung, Dr Daud Rasyid MA.

    Menurutnya, melihat kondisi umat Islam saat ini, belum ada indikasi umat sudah siap membentuk khilafah. ”Masih terlalu jauh untuk berpikir seperti itu. Pemahaman umat tentang Islam itu sendiri masih rendah. Semua ini perlu proses yang tahapan-tahapannya jelas dan harus dilalui satu persatu. Tidak bisa dengan meloncat-loncat.”

    Kendati begitu ia membenarkan dengan adanya kekhilafahan, Islam akan menjadi kuat. Tetapi membentuk khilafah itu bukan hal gampang. Karena itu menurut Daud, yang perlu dilakukan saat ini adalah menumbuhkan kesadaran umat Islam tentang pentingnya khilafah. ”Ini barangkali bisa dimulai dari keluarga, lalu kelompok. Lalu ke level yang lebih tinggi lagi,” paparnya. Jadi, perlu kesabaran umat untuk membangun khilafah (Republika Online edisi :
    31 May 2000)

  18. KOpian mengatakan:

    RUU MEDIA MASSA NEGARA KHILAFAH

    Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi

    Pengantar

    Media massa (wasa’il al-i’lam) bagi negara Khilafah dan kepentingan dakwah Islam mempunyai fungsi strategis, yaitu melayani ideologi Islam (khidmat al-mabda` al-islami) baik di dalam maupun di luar negeri (Sya’rawi, 1992:140). Di dalam negeri, media massa berfungsi untuk membangun masyarakat Islami yang kokoh. Sedang di luar negeri, media massa berfungsi untuk menyebarkan Islam, baik dalam suasana perang maupun damai untuk menunjukkan keagungan ideologi Islam dan sekaligus untuk membongkar kebobrokan ideologi kufur buatan manusia. (Masyru’ Dustur Daulah Al-Khilafah, pasal 103).

    Mengingat fungsi strategis ini, dapat dimengerti mengapa Hizbut Tahrir dan para ulamanya menaruh perhatian serius dalam masalah ini. Maka dalam kitab Ajhizah Daulah Al-Khilafah (2005:143), Hizbut Tahrir telah menambahkan satu departemen terkait media massa dalam struktur negara Khilafah, yaitu Departemen Penerangan (da`iratul i’lam).

    Para ulama Hizbut Tahrir juga terus memikirkan dengan serius bagaimana pengaturan media massa kelak dalam negara Khilafah. Syaikh Ziyad Ghazzal adalah salah satunya. Beliau telah menulis kitab setebal 77 halaman dengan judul Masyru’ Qanun Wasa’il Al-I’lam fi Daulah Al-Khilafah (RUU Media Massa dalam Negara Khilafah) (2003). Kitab inilah yang akan kita telaah pada kesempatan ini.

    Syaikh Ziyad Ghazzal sendiri adalah seorang mujtahid dari Hizbut Tahrir Palestina. Beliau telah menghasilkan karya-karya berharga berupa sejumlah RUU untuk negara Khilafah yang akan segera berdiri, insya Allah. Karya beliau lainnya adalah Masyru’ Qanun Al-Ahzab fi Daulah Al-Khilafah (2003). (Lihat RUU Parpol Negara Khilafah; majalah Al-Waie, No 92, April 2008).

    Merinci RUUD Khilafah

    Dalam kitab Masyru’ Dustur Daulah Al-Khilafah (RUUD Negara Khilafah) edisi revisi mutakhir (mu’tamadah) yang dikeluarkan Hizbut Tahrir, terdapat dua pasal yang mengatur penerangan (i’lam) dan alat penerangan umum (wasa’il al-i’lam), yaitu pasal 103 dan 104. Pasal 103 menerangkan keberadaan Departemen Penerangan (da’iratul i’lam) serta tugas pokoknya di dalam dan di luar negeri. Sedang pasal 104 menerangkan bahwa keberadaan suatu media massa tidaklah memerlukan izin (tarkhis) dari negara, tapi cukup menyampaikan pemberitahuan kepada Departemen Penerangan. Pasal ini juga menerangkan pihak yang harus bertanggung jawab terhadap segala isi media, yaitu pemimpin redaksi.

    Dua pasal tersebut jelas masih bersifat global. Sebagai ketentuan dasar dalam Undang-Undang Dasar, bolehlah dua pasal itu dianggap mencukupi. Namun untuk pengaturan media massa dalam kehidupan sehari-hari yang sangat kompleks, tentu harus ada ketentuan perundang-undangan yang lebih rinci. Di sinilah kitab Syaikh Ziyad Ghazzal menemukan tempatnya. Kitabnya merupakan rancangan undang-undang Islami yang digagas untuk merinci lebih lanjut dari dua pasal tersebut.

    Rincian Syaikh Ghazzal terwujud dalam 32 pasal yang terdiri dari 2 (dua) bagian; Pertama, pasal 1-19 menjelaskan bagaimana pengaturan media massa dalam negara Khilafah. Kedua, pasal 20-32 menjelaskan tindak pidana yang dilakukan media massa.

    Pengaturan Media Massa

    Pasal 1-19 menjelaskan bagaimana pengaturan media massa dalam negara Khilafah. Syaikh Ghazzal mengawalinya dengan mendefinisikan pengertian alat penerangan umum (wasa’il al-i’lam) sebagai alat-alat untuk menyampaikan sesuatu secara terbuka dan terang-terangan. Alat-alat ini meliputi : stasiun TV baik di bumi maupun di angkasa luar, stasiun radio, terbitan berkala (al-mathbu’at ad-dauriyah), dan film serta panggung pertunjukan. (pasal 1 & 2).

    Setiap individu rakyat berhak untuk menyampaikan sesuatu kepada publik melalui alat-alat tersebut. Hak ini diakui syariah berdasarkan dalil-dalil yang mewajibkan atau mensunnahkan menyampaikan sesuatu secara terbuka dan terang-terangan. Banyak dalil dikemukan oleh Syaikh Ghazzal, misalnya tindakan Ibnu Abbas yang secara terang-terangan mengkritik Khalifah Ali bin Abi Thalib RA. Diceritakan oleh Ikrimah bahwa Ali bin Abi Thalib telah membakar orang-orang zindiq yang murtad sebagai hukuman atas mereka. Berita ini sampai kepada Ibnu Abbas, lalu dia berkata,”Kalau aku, tidak akan membakar mereka, karena ada larangan Rasululah SAW,’Janganlah kamu menyiksa dengan siksaan Allah!’ dan niscaya aku hanya akan membunuh mereka karena sabda Rasululah SAW,’Siapa saja yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia!” (HR. Bukhari). (h. 5) (Al-Maliki, 1990:83)

    Hadits ini menunjukkan adanya hak untuk menyampaikan sesuatu kepada publik secara terbuka lewat media massa. Namun, hak ini diatur dengan sejumlah kewajiban dan syarat tertentu. Orang yang mau menerbitkan majalah, atau mendirikan stasiun TV dan radio, misalnya, memang tidak disyaratkan meminta izin (tarkhis) kepada negara, karena izin sudah diperoleh secara langsung dari syariah. Dia hanya diwajibkan menyampaikan pemberitahuan (i’lam) kepada institusi negara yang terkait. Pemberitahuan ini hanya berupa sejumlah penjelasan yaitu tentang : (1) jenis media massa, alamatnya, dan bahasa yang akan digunakan, (2) nama pemilik media, kewarganegaraan, dan alamatnya, (3) nama pemimpin redaksi, kewarganegaraan, dan alamatnya. (pasal 3 & 4). Pemilik media dan pemimpin redaksi ini haruslah warga negara Khilafah. Sebab kewarganegaraan (tabi’iyah) itulah yang melahirkan hak dan kewajiban sebagai warga negara, termasuk hak menerbitkan media massa (pasal 5 & 6).

    Jika kemudian hak ini disalahgunakan untuk menyebarkan ide batil seperti nasionalisme dan demokrasi, siapa yang bertanggung jawab? Syaikh Ghazzal menerangkan dalam pasal 7, yang bertanggung jawab terhadap seluruh isi media adalah pemimpin redaksi dan wartawan atau penulis artikelnya secara langsung. (h. 10). Jadi, wartawan kedudukannya sama dengan warga negara lain. Kalau memang bersalah harus diadili dan dihukum. Tidak diistimewakan atau mempunyai privilege tertentu yang membuatnya berbeda dengan warga negara biasa. (pasal 9, h. 13). Ini sangat berbeda dengan wartawan Barat, yang sering kali tidak mau bertanggung jawab dengan dalih “kebebasan pers” atau merasa kebal hukum karena media massa sudah dianggap pilar keempat dalam sistem demokrasi. (Sya’rawi, 1992:142).

    Namun andaikata pemimpin redaksi atau wartawan suatu media diadili dan dipenjara, tak berarti medianya otomatis dibekukan atau dihentikan. Sebab media hanya dapat dibekukan atau dihentikan dalam satu keadaan, yaitu jika pemilik media bukan lagi warga negara Khilafah (pasal 12). Pihak yang berhak memberi peringatan, membekukan, atau menghentikan operasional suatu media pun bukanlah pihak penguasa (al-hukkam), melainkan peradilan saja (pasal 13).

    Kantor berita asing (seperti Reuter, AFP) atau perwakilan media asing (seperti perwakilan BBC) harus mendapat izin dari Departemen Dalam Negeri. Departemen ini juga yang berhak membekukan atau mencabut izin suatu kantor berita atau perwakilan media asing (pasal 10). Produk cetak dari luar negeri yang masuk lewat jalur perdagangan seperti majalah atau koran, harus mendapat izin Qadhi Hisbah (pasal 11).

    Yang tak kalah menariknya, dalam RUU ini Syaikh Ghazzal menjelaskan pengaturan seni peran (drama), film, musik dan nyanyian, dan lawak (tasliyah). Jadi, jangan dibayangkan media massa dalam negara Khilafah nanti isinya ngaji melulu. Ngaji jelas ada, tapi seni yang halal tetap dibolehkan dalam negara Khilafah.

    Seni peran bagi Syaikh Ghazzal boleh dalam Islam dengan sejumlah syarat. Kebolehannya antara lain didasarkan pada hadis sahih mengenai seorang lelaki Baduwi bernama Zahir bin Hiram. Zahir ini seorang yang buruk rupa, tapi Nabi SAW mencintainya. Suatu saat Nabi SAW menemui Zahir yang sedang menjual barang dagangannya. Nabi SAW pun memeluknya dari belakang sedang Zahir tak melihatnya. “Lepaskan aku, siapa ini?” kata Zahir. Tapi setelah Zahir menoleh dan tahu siapa yang memeluknya, Zahir terus melekatkan punggungnya pada dada Nabi SAW. Nabi SAW lalu berkata,”Siapa yang mau membeli budak ini?” Zahir menjawab,”Demi Allah, jadi Anda melihat saya barang yang murah?” Nabi SAW menjawab,”Tapi di sisi Allah engkau mahal harganya.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Bazzar). (Ath-Thahtahwi, 1997:125)

    Setelah menukilkan riwayat di atas, Syaikh Ghazzal menyimpulkan bolehnya seni peran. Sebab Nabi SAW telah memainkan peran sebagai pemilik budak, padahal sebenarnya beliau bukanlah pemilik budak (Zahir), dan beliau pun juga mengajak hadirin untuk membeli Zahir, padahal Zahir bukanlah budak yang sedang diperjualbelikan. (h. 18).

    Namun kebolehan seni peran ini dibatasi 5 syarat : (1) tidak adanya ikhtilath (campur baur) pria wanita, (2) tidak adanya laki-laki yang menyerupai wanita atau sebaliknya, (3) tidak memerankan malaikat, para nabi, Khulafaur Rasyidin, isteri-isteri Nabi SAW, dan Siti Maryam, (4) tidak membuat atau menggambar sesuatu yang bernyawa, dan (5) tidak menampilkan kejadian Hari Kiamat atau sesudahnya seperti surga dan neraka (pasal 14, h.16). Yang mirip dengan seni peran adalah lawak (tasliyah /tarfiih) yang juga boleh menurut Syaikh Ghazzal dengan syarat tidak adanya ikhtilath pria wanita (pasal 17).

    Syaikh Ghazzal juga menerangkan bolehnya musik dan nyanyian meski juga dibatasi dengan sejumlah syarat, misalnya : tidak disertai dengan nyanyian dan tarian wanita, tidak disertai tarian laki-laki yang bergerak gemulai, dan tidak adanya ikhtilath pria wanita (pasal 18). Beliau menjelaskan pasal ini agak panjang lebar (perlu sekitar 10 halaman), karena masalah ini cukup pelik mengingat banyak perbedaan pendapat sehingga diperlukan penelusuran dan pentarjihan dalil-dalilnya secara mendalam. (Al-Baghdadi, 1991; Al-Jazairi, 1992).

    Tindak Pidana Media Massa

    Pada pasal pasal 20-32 Syaikh Ghazzal menjelaskan berbagai tindak pidana yang dilakukan media massa sekaligus kadar sanksinya. Beliau sebenarnya menyadari bahwa pembahasan ini sebenarnya masuk dalam UU Hukum Pidana (al-qanun al-jina`i). Namun beliau meletakannya dalam RUU Media Massa dengan maksud untuk memberi gambaran yang jelas mengenai kehidupan media massa dalam negara Khilafah. Semua tindak pidana media massa ini masuk kategori ta’zir, yakni hukuman yang tidak ditentukan kadarnya oleh syariah, kecuali pidana qadzaf (menuduh berzina) yang termasuk dalam kategori hudud (h. 55).

    Beberapa tindak pidana itu adalah melakukan provokasi (tahridh) (pasal 22-25), penghinaan (sabb) (pasal 25-27), memfitnah (iftira`) dan menuduh berzina (qadzaf) (pasal 28-29), menyebarkan gambar porno atau gambar aktivitas seksual (pasal 30-31), dan menyebarkan berita bohong (pasal 32). Contoh pasalnya : siapa saja yang di media memprovokasi publik agar tidak taat kepada khalifah, dipenjara maksimal satu tahun (pasal 24). Siapa saja yang di media menghina tuhan-tuhan atau aqidah kaum kafir dzimmi, dipenjara maksimal enam bulan (pasal 27). Siapa saja yang memfitnah di media, misalnya menuduh si Fulan koruptor atau menerima suap, dipenjara maksimal dua tahun, kecuali ada bukti-buktinya (pasal 28). Orang yang menyebarkan gambar porno di media, yaitu gambar (khususnya wanita) yang menampakkan lebih dari wajah dan dua telapak tangannya, dipenjara maksimal dua tahun (pasal 30).

    Inilah gambaran singkat kitab karya Syaikh Ziyad Ghazzal. Dengan membacanya, kita akan dapat membayangkan betapa baiknya suasana dan kehidupan media massa yang ditata dengan syariah di negara Khilafah nantinya. Media massa akan menjadi alat konstruktif untuk memelihara identitas keislaman masyarakat, dengan tidak melarang unsur hiburan (entertainment) yang sehat dan syar’i. Tak seperti sekarang, ketika media massa mengabdi pada ideologi kapitalisme yang kafir. Media massa kini telah menjadi alat destruktif untuk menghancurkan nilai-nilai Islam, dengan mengeksploitir hiburan yang berlumuran dosa dan membejatkan moral. Na’uzhu billah min dzalik. [ ]

  19. KOpian mengatakan:

    KITAB BARU HIZBUT TAHRIR
    UNTUK MENYONGSONG BERDIRINYA KHILAFAH

    Hizbut Tahrir terus menggencarkan dan menggiatkan perjuangannya di seluruh dunia untuk menyongsong kembalinya Negara Khilafah. Salah satu bentuknya adalah menyempurnakan berbagai persiapan konseptual andaikata Khilafah berdiri lagi di sebuah negeri Islam dalam waktu dekat ini, insya Allah.

    Setelah pada tahun 2004 menerbitkan kitab Usus at-Ta’lim al-Manhaji fi Daulah al-Khilafah (2004) –membahas detil sistem pendidikan formal dalam negara Khilafah— pada tahun 2005 Hizbut Tahrir mengeluarkan dua kitab baru, yaitu Mafahim Siyasiyah li Hizb at-Tahrir –membahas konsep dan analisis politik internasional menurut perspektif Hizbut Tahrir— dan kitab Ajhizah Daulah al-Khilafah (fi al-Hukm wa al-Idarah), yang membahas struktur pemerintahan Islam (Khilafah) dalam bidang pemerintahan dan administrasi. Buku terakhir memuat hal-hal baru yang berbeda sebagai tambahan atau penyempurnaan dari kitab sistem pemerintahan Islam yang sudah ada sebelumnya, yakni Nizham al-Hukm fi Al-Islam (2002).

    Kitab Ajhizah Daulah al-Khilafah tersebut merupakan kitab terbaru yang diadopsi oleh Hizbut Tahrir. Istilah para aktivis Hizbut Tahrir, itu adalah “kitab mutabannat.” Di kover depan kitab tersebut tertulis “wa huwa yulghiy maa khaalafahu” (kitab ini membatalkan kitab sebelumnya yang menyalahinya). Jadi, kitab ini dimaksudkan untuk menyempurnakan kitab serupa sebelumnya, yakni Nizham al-Hukm fi al-Islam (2002).

    Apa yang baru dalam kitab Ajhizah Daulah Al-Khilafah itu? Sebenarnya, secara umum isinya sama dengan kitab Nizham al-Hukm fi Al-Islam. Tapi ada beberapa hal yang baru, antara lain :
    Pertama, jumlah struktur dalam negara Khilafah menjadi 13 (tiga belas) jihaz (aparatur), yaitu :
    (1) Khalifah
    (2) Para Mu’awin (Wuzarat At-Tafwidh), yakni para pembantu khalifah dalam bidang pemerintahan
    (3) Wuzarat At-Tanfidz, yakni para pembantu khalifah dalam bidang administrasi.
    (4) Para wali (gubernur)
    (5) Amirul Jihad
    (6) Al-Amn al-Dakhili (Keamanan Dalam Negeri)
    (7) Al-Kharijiyah (Luar Negeri)
    (8) Ash-Shina’ah (Industri)
    (9) Al-Qadha` (Peradilan)
    (10) Jihaz Idari (Mashalih Al-Nas), departemen-departemen pelayanan masyarakat.
    (11) Baitul Mal (Kas Negara)
    (12) Al-I’lam (Penerangan)
    (13) Majelis Umat (untuk musyawarah dan muhasabah/kontrol).

    Bandingkan dengan struktur Khilafah dalam kitab Nizham al-Hukm fi Al-Islam (2002) yang terdiri dari 8 (delapan) aparatur :
    (1) Khalifah
    (2) Mu’awin Tafwidh, yakni pembantu khalifah dalam bidang pemerintahan
    (3) Mu’awin at-Tanfidz, yakni pembantu khalifah dalam bidang administrasi.
    (4) Amirul Jihad
    (5) Para wali (gubernur)
    (6) Al-Qadha` (Peradilan)
    (7) Jihaz Idari (Mashalih Ad-Dawlah)
    (8) Majelis Umat

    Kedua, dalam detil-detil hukum untuk masing-masing aparatur, juga ada hal-hal baru. Misalnya pada pembahasan khalifah, ada bahasan tentang pemimpin sementara (al-amir al-mu`aqqat). Ini tidak ada dalam kitab Nizham al-Hukm fi al-Islam (2002). Jika khalifah merasa ajalnya sudah dekat, khalifah berhak mengangkat seorang al-amir al-mu`aqqat. Tapi amir ini tidak berhak mengadopsi undang-undang (tabanni al-ahkam), sebab ini adalah otoritas khailfah semata (Ajhizah Daulah Al-Khilafah, hal. 29-31).

    Ketiga, ada pembahasan tentang lagu kenegaraan, atau bahasa Arabnya “hutaaf”. Apakah Khilafah nantinya akan punya lagu kenegaraan tertentu? Nah, dalam kitab Ajhizah Daulah Al-Khilafah ini, masalah lagu kenegaraan dibahas cukup tuntas walau pun hanya secara garis besar, hanya 2 (dua) halaman saja, yakni hal. 173-174. Intinya, Khilafah boleh mempunyai satu lagu kenegaraan tertentu, tentunya dengan ketentuan-ketentuan khusus yang tidak keluar dari koridor syariah Islam.

    Itulah antara lain hal-hal baru dalam kitab paling anyar Hizbut Tahrir, Ajhizah Daulah al-Khilafah. Bagi kaum muslimin pada umumnya, dan para aktivis Hizbut Tahrir pada khususnya, sudah barang tentu perlu mengkaji kitab ini dengan seksama. Siapa tahu, Khilafah berdiri besok pagi, insya Allah, sehingga Anda semua sudah tahu bagaimana menyusun sistem pemerintahan secara benar menurut Islam.

    Secara intelektual, kitab baru tersebut membuktikan, bahwa tetap ada dinamika ilmu dan intelektual dalam Hizbut Tahrir, walau terdapat ide-ide tertentu yang wajib diadopsi dan diutamakan oleh setiap anggota Hizbut Tahrir, meski pun anggota itu adalah seorang mujtahid mutlak. Jadi kitab baru ini membuktikan, bahwa pintu ijtihad memang tak pernah tertutup. Sebab pintu ijtihad, sebagaimana pandangan Hizbut Tahrir sendiri, tetaplah terbuka. Tapi terbukanya pintu ijtihad ini tentu hanya untuk para ulama (mujtahid), bukan untuk orang yang jahil (bukan mujtahid).

    Semoga Khilafah Islam segera berdiri dalam waktu sebentar lagi, dengan pertolongan dan seizin Allah Azza wa Jalla. Dan saat itulah kaum muslimin akan kembali kepada Islam secara kaffah, meskipun kaum kafir dan antek-anteknya –seperti kaum liberal— jelas akan membencinya. [m. shiddiq al-jawi]

  20. maaretz mengatakan:

    Obama prayed at the Western Wall when Moslems did Shubuh praying in the Al-Aqsha mosque.

    The most effective strategy to approach a community by following yheir way of life, included their worship. The US presidential candidate from Democrat Party Barack Hussein Obama, 47, also realized this kind tactic could be used to assure the Jewish voters.

    That’s why in his last two day visit in Israel on Thursday two weeks ago, he visited the Western Wall or Kotel in Hebrew which sacred by Jews. This holy place located in the Al-Aqsha mosque compound, east Jerusalem.

    He didn’t come as a tourist. Even he was Christian, this US first black presidential nominee came to pray. He wore white kippa (Jewish cap) and accompanied by Rabbi Shmuel Rabinowitz that in charge on the Wall. Obama and his wife Michele along ten minutes read Psalm 122 which is pray for peace in Jerusalem.

    This holy city for three religions – Islam, Jewish, and Christian – was disputed. Palestinians wish Jerusalem will become a capital of their next independent state. But Israel recognized it after Six Day War 1967 as their eternal and undivided capital through Jerusalem Basic Law passed by Knesset in 1980.

    As tradition, Obama put in his pray note into crack of the Wall. The note should be classified leaked to public after a seminary student with initial name Aleph took and gave it to Maariv newspaper.

    Its content: “God, protect me and my family. Forgive my sins and help me to face pride and desperateness. Give me wisdoms to do right and fair. Appoint me as yhe way of your will.”

    Actually, to keep secrecy, twice a year Rabbi Rabinowitz removes pilgrim’s pray note to a secret place before Rosh Hassanah and Easter. Off course, that incident worried Jewish religious authority. Rabbi Rabinowitz wrote an apologized letter to that Illinois Senator. “God has forbidden anyone read someone’s pray note,” he said. Scaring Aleph asked Obama’s forgiveness on Channel 2.

    Jerusalem lawyer, Shahar Alon, requested Attorney General Menachem Mazuz issued an order for the police to investigate this case. By leaking publicly, Maariv has violated laws and principle rights for individual respect and freedom,” he added.

    He called for boycott until that daily apologize. But Maariv defended themselves. They argued Obama distributed his pray note when he went out of his stay in King David Hotel, Jerusalem. “Because Obama wasn’t Jews, there’s no rights violation.”

    Obama didn’t care on that issue. The most important for him, he was more attractive for Jewish voters than his competitor John McCain from Republic side. That’s way in his visit to the Wall, he also campaigned. “We will continue to ensure Israel’s security because Israel was our true friend,” Obama said.

    The pilgrims were enthusiastic on Obama’s visit. Women pilgrims on the other side of the Wall stood on chairs to witness him more closely. They also fought for shaking hand with him. Even an ultranationalist activist, Itamar Ben-Gvir, yielded, “Jerusalem is not for sale.”

    Eventually, Obama caused Arabs and Moslems hurt feeling as he arrived at 5.00 am at the Western Wall while Moslems did Shubuh praying in the Al-Aqsha mosque.

    Arutz Sheva/Haaretz/Maariv/Faisal Assegaf

  21. sato mengatakan:

    amis, Oktober 30, 2008
    HADIRILAH…! SEMINAR AL AQSA HAQQUNA !!!

    HADIRILAH…! SEMINAR DAN TABLIGH AKBAR AL AQSA HAQQUNA !!!

    “Aksi Nyata Mengembalikan Masjid Al-Aqsa ke Pangkuan Muslimin”

    Menghadirkan Pembicara :

    Dr. Adhyaksa Daullt, SH, M. Sc (Menegpora RI)

    H. Ahmad Heryawan, Lc. (Gubernur Jawa Barat)

    Fariz N. Mehdawi (Duta Besar Palestina)

    Syeikh Dr. Mahmoud Al-Khatib (Ketua Divisi Luar Negeri Al-Quds Intitution Yaman)

    Dr. Abdul Ghani Shamsuddin (Presiden Sekretariat Ulama Asia Tenggara)

    Drs. K.H. A. Hafidz Utsman (Ketua MUI Jawa Barat)

    Abdurrahman Sony Sugema, MBA (Ketua Sidang Konferensi Internasional )

    Herry Nurdi (Pemred Sabili)

    Prof. Dr. dr. Saleh Alkatiri, MD, M.Sc (Dewan imamah Jama’ah Muslimin (Hizbullah))

    Dr. K.H. Miftah Faridl (Ketua MUI Kota Bandung)

    Drs. Fahmi Lukman, M. Hum (PP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI))

    K.H. Abdullah Gymnastiar (Pimpinan Ponpes Daarut Tauhid)

    Drs. K.H. Yakhsyallah Mansur, MA (Mudir ‘Am Ponpes Al-Fatah Cileungsi Bogor)

    Ustadz Ferry Nur, S.Si (Sekjen KISPA)

    Hedi Muhammad, S.H (Sekjen Forum Ulama dan Umat Islam)

    Drs. Taufiqurrahman (Pengasuh OBSESI Pagi Radio Dahlia FM)

    Ustadz Lesmana Ibrahim

    Drs. K.H. Bukhari Muslim (Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Kota Bandung)

    Ketua PW Muhammadiyah

    Pimpinan Cabang Al-Irsyad Al-Islamiyyah Kota Bandung

    H. Muhyiddin Hamidy (Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah))

    Seminar Al-Aqsa Haqquna

    Sabtu, 3 Dzulqa’dah 1429H/1 November 2008M. Pukul 08.30-15.30 WIB

    Gd. Wahana Bakti POS Ruang Mas Suharto Lt. 8

    Jl. Banda No. 30 Bandung

    Tabligh Akbar Al-Aqsa Haqquna

    Ahad, 4 Dzulqa’dah 1429H/2 November 2008M pukul 08.00-11.30 WIB

    Masjid Raya Bandung

    Alun-Alun

    Penyelenggara : Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

    Maktab ‘Am Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

    Wilayah Jawa Barat

    Jl. Diponegoro No. 48 Bandung, Indonesia

    (022) 72797769; 081320052222

  22. gigiman mengatakan:

    LDII dan Jmaa’ah Muslimin beda, sama nya cuma sama-sama mem “firqoh” kan muslim diluar golongannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: