Tangisan Untuk Puing Al-Aqsha

Oleh Syaikh Najih Bakerot

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan symbol-simbol Islam tetap tegak dan menjadikan sekolah-sekolahnya tetap makmur. Ia akan tetap ada hingga akhir zaman bersmaan dengan orang yang berinfaq di jalanya atau memperhatikan perkembanganya. Tempat-tempat ini akan menjadi nafas bagi orang-orang shaleh diantara para umara dan penguasa. Hingga hilanglah perkampungan muslim akibat fitnah dan kelemahan atau penyakit “wahn” yang menghinggapi sebagian pemimpin muslimin yang mengakibatkan hancur luluh dan porak porandanya semua sendi-sendi islam seperti sekarang ini.

Walapun begitu, bangunan Jawaliyah merupakan salah satu symbol Aqidah Islam masih jelas terlihat bagi para pemimpin yang memahami pentingnya symbol ini.

Tempat :

Jawaliah terletak di sebelah utara Masjid Al-Aqsa yang dibatasi di bagian utara dan baratnya dengan sekolah Umar ibnu Khotob di areal lapangan dekat dengan tembok Al-Aqsha.

Pendiri

Bangunan ini didirikan oleh gubernur Ilmu Din Sanjar Jawali. Dulunya bekas rumah keluarga Bakar. Sanjar bekerja sama dengan Nasher Muhammad wali kotaGaza yang kemudian ia ditangkap dan dipenjarakan. Setela ia keluar Nasher kemudian pindah ke Kairo dam menjadi pangawas di Sekolah dan Rumah sakit Qalawan.

Setelah meninggalnya Nasher, Sanjar kemudian diutus ke Gaza mengantikan nasher menjadi hakim di Gaza dan membangun tempat ini.

Preode Pendirian

Sekolah ini didirikan pada tahun 685 H. pada zaman al-Muluk yaitu preode ketika Sanjar sebagai Hakim wilayah Palestina dan Gaza. Dibangun itu, tidak ada ukiran atau prasasti yang menandai pendirian bangunan ini. Besar kemungkinan prasasti ini sudah dihapuskan pada awal abad ke lima ketika Jawaliah mengawali renovasi pada masa kekhalifahan Utsmaniyah hingga tahun 1870.

Jawaliah masih merupakan gedung besar yang menghadap kiblat. Disampingnya terdapat dua ruangan yang mempunyai lima jendela. Selain itu di samping Jawaliah terdapat bangunan-bangunan baru seperti sekolah Umar Ibnu Khottob yang didirikan pada tahun 1923. Di sebelah utara, pada ruangan yang ketiga, terdapat lapangan yang memanjang yang merupakan tempat masuknya kaum muslimin ke al-Aqsha melalui jalan al-Saro kalau dulu, atau sekarang bernama jalan Al-Alam.

Di sana juga ada ruangan-ruangan di sebalh timur dan utaranya. Dan dibagian baratnya ada lapangan. Pada zaman penjajahan Salibis tempat ini dijadikan gereja bagi para prajurit Haikal.

Ketiga shalahuddin al-Ayubi membebaskan negeri ini dari tangan Salibis. Ia menjadikan ruangan ini sebagai kuburan pemimpin Ayubiyin.

Sekolah terbesar ini kemudian dihancurkan pada pertengahan abad dua puluh dan tidak tersisa kecuali puing-puing dan bekas bangunan yang mengelilinginya dari peninggalan Utsmaniyah.

Sekolah hari ini :

Hingga hari ini sekolah tersebut hanya tinggal dua ruangan. Di bawahnya dibangun terowongan yang digunakan Zionis Israel sebagai benteng kepolisian Israel dan tempat wisatawan manca Negara, untuk melihat secara langsung apa yang terjadi di dalam masjid Al-Aqsha

Penutup :

Kami menyerukan kepada para pengelola waqaf Islam atau kepada siapa yang berkepentingan terhadap symbol kaum muslimin saat ini untuk memperhatikan tempat tersebut. Karena saat ini tempat tersebut dijadikan pintu masuk cepat menuju al-Aqsha bagi Israel. Oleh karena itu, tempat tersebut layak mendapatkan prioritas renovasi, sebelum segala sesuatunya hilang.

Insya Allah di masa yang akan datang tempat ini akan menjadi cahaya dan sekolah yang mulia sebagaimana masa lalunya. (asy)

sumber infopalestina.com

4 Balasan ke Tangisan Untuk Puing Al-Aqsha

  1. sirkombet mengatakan:

    Siapa yang akan menangisi?, Ummat islam di Timur tengah saja tidak peduli, wahai umat islam, bersatulah. Masa rumah ibadah kita mau dihancurkan diam saja?

  2. slavent mengatakan:

    SELIPKAN SEBARIS DO’A UNTUK PALESTINA
    http://www.kispa.org
    2008-09-09 13:50:37

    Untukmu jiwa-jiwa kami. Untukmu darah kami

    Untukmu jiwa dan darah kami. Wahai Al-Aqsha tercinta

    Kami akan berjuang. Demi kebangkitan Islam
    Kami rela berkorban. Demi Islam yang Mulia

    Untukmu Palestina tercinta. Kami penuhi panggilanmu
    Untukmu Al-Aqsha yang mulia. Kami kan terus bersamamu

    Ya Rabbi izinkanlah kami. Berjihad di Palestina-Mu
    Ya Allah masukkanlah kami. Tercatat sebagai syuhada-Mu

    (Palestina Tercinta, Nasyid Shouhar)

    ***

    Kadang terbetik sebuah pertanyaan, kenapa orang Islam, ketika menunaikan ibadah haji, menangis ketika berdoa di hadapan ka’bah Masjidil Haram atau di hadapan mimbar Masjid Nabawi? Saya kemudian berkesimpulan, karena mereka tidak sekedar melihat kab’ah atau mimbar itu sebagai benda mati. Mereka melihat rangkaian perjalanan panjang kehidupan yang menyertai keberadaan Baitullah dan Masjid Nabawi itu dan kisah-kisah panjang yang mempertemukan mereka.

    Boleh jadi yang terbayang di pelupuk mata seorang yang berdoa menghadap ka’bah adalah keagungan Allah Swt yang bercampur dengan kerendahan dirinya dan dosa-dosa yang telah dilakukannya. Betapa ia merasa menanggung dosa yang begitu tinggi, sedang dihadapannya adalah Allah yang Maha Dahsyat Siksanya sekaligus Maha Pengampun. Betapa ia mengadukan segala kegundahan yang meliputi hidupnya, sedang dihadapannya adalah Allah yang Maha Menyempitkan sekaligus Maha Meluaskan kehidupan. Betapa ia merasa hina, sedangkan dihadapannya adalah Allah yang Maha Menghinakan sekaligus Maha Memuliakan. Kebimbangan di antara khauf dan raja’, boleh jadi itulah yang mengahadirkan tangis dan derai air mata.

    Demikian halnya ketika seorang menghadap mimbar Nabi di masjid Nabawi. Boleh yang jadi yang terbayang dipelupuk mata adalah Nabi Muhammad Saw dengan segala keagungan akhlaknya. Ia merasa lemah dalam menanggung beban kehidupan, sedang dihadapannya adalah ingatan akan Muhammad Saw yang juga menanggung beban demikian berat dalam menegakkan risalahnya, namun ia tetap sabar, tabah dan teguh dalam keimanannya. Beliau memberikan teladan terbaik dalam kehidupan manusia. Amat kasih terhadap kaum mukmin dan bersikap lembut terhadap orang-orang yang memusuhinya, sedang ia begitu jauh dari kemulian akhlak-akhlak Rasulullah Saw tersebut.

    Demikian juga dengan Masjid Al-Aqsha, yang pernah menjadi kiblat pertama bagi kaum muslimin. Ia menjadi tempat tujuan Isra’ Nabi Saw, dan menjadi titik tolak Mi’raj beliau ke Sidratul Muntaha. Namanya diabadikan dengan jelas di dalam Al-Quran yang menjadi pedoman hidup ummat Islam hingga akhir zaman. Pengabadian namanya adalah legalitas dari Rabb pemilik langit dan bumi ini, dan yang maha memelihara makhluk-makhluk di dalamnya. Adalah suatu hal yang wajar, jika ummat Islam sedunia memprotes atas upaya Zionis Israel yang selalu berusaha meruntuhkan salah satu dari tiga masjid suci ummat Islam itu, untuk diganti dengan kuil yang diklaim dulunya sebagai tempat bekas kuil mereka berdiri sebelum dihancurkan oleh tentara Romawi. Padahal keberadaan kuil itu tidak didukung oleh bukti historis, hanya mengikuti persangkaan mereka (mitos)belaka.

    Jelas-jelas bahwa dalam Masjidil Al-Aqsha adalah masjid yang diakui oleh Allah yang juga menurunkan kitab taurat kepada mereka, tetapi mereka tidak mau mendengarnya. Mereka tetap melakukan penggalian-penggalian di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsha yang mengancam fondasi dan runtuhnya Masjid berkubah hijau/biru tua itu (bukan berkubah emas).

    Masjid Al-Aqsha tidak hanya milik rakyat Palestina. Ia adalah milik ummat Islam seluruh dunia. Berjihad dengan harta dan jiwa untuk mengembalikan Palestina dari Zionis Israel dan membersihkan dari penjajah adalah wajib bagi seluruh muslim, baik dengan cara persuasif maupun politik. Namun pembebasan palestina bukanlah perkara mudah, karena menuntut ummat Islam bersatu dan dengan kekuatan akidahnya tidak membiarkan saudaranya terus dirundung malang.

    Ingatan akan hal inilah yang kadang menjadikan seorang tidak kuasa menahan tangis ketika mendengar ceramah tentang Al-Aqsha. Ia ingat akan kesuciannya, kekejaman zionis untuk melenyapkannya, dan kelemahan ummat untuk membebaskannya. Tangisan itu adalah ekspresi bentuk ketidakberdayaan dan kelemahan manusia dihadapan Allah Swt.

    ***
    Siang itu, di Jum’at pertama dari bulan Ramadhan, saya mendengarkan penuturan khotib tentang kondisi terakhir yang dialami Masjid Al-Aqsha dan saudara-saudara kita di Palestina. Sungguh menggetarkan dada. Rakyat Palestina yang ingin bermunajat di sana, tidak diperbolehkan masuk melainkan yang sudah berusia di atas 45 tahun. Itu pun dengan pengawalan ketat tentara Zionis Israel. Mereka yang tidak diperkenankan masuk, terutama pemuda berusia 30-45 tahun, tentu akan sedih bercampur geram. Bagaimana mungkin Masjid yang Allah telah berikan otoritasnya bagi kaum muslimin, justru mereka dilarang untuk memasukinya.

    Allah berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS 2:217)

    Baik Masjidilharam maupun Masjidil Aqsha, keduanya adalah masjid yang disucikan. Maka menembus barikade tentara Zionis yang menghalangi masuknya penduduk Palestina itu, bahkan jika dilakukan di bulan Ramadhan yang diharamkan berperang ini, diperkenankan oleh Allah. Hanya sayang, mereka tidak berdaya dan tidak memiliki kekuatan.

    Khotib yang bertutur tentang kondisi Masjidil Aqsha itu, sungguh mampu mengingatkan kembali, khususnya pada diri ini, untuk tidak melupakan nasib Al-Aqsha yang terancam dan nasib saudara-saudara di Palestina yang selalu dirundung penderitaan. Tanpa melupakan kepedulian terhadap nasib penduduk negeri ini yang juga selalu dirundung duka, kepedulian terhadap mereka di Palestina adalah prioritas, meski secara lokal kita bisa melakukan upaya persuasif dan diplomasi politik. Di akhir khutbah, saya tidak kuasa membendung linangan air mata ketika sang khotib memanjatkan bait-bait doa untuk keselamatan Al-Aqsha dan mujahidin di sana.

    Saya tidak cuma menangisi kemulian Al-Aqsha yang terinjak-injak, wanita dan anak-anak Palestina yang meradang, dan para pemuda yang terbunuh tanpa perlawanan. Saya juga menangisi diri ini yang kadang terlalu memikirkan diri sendiri dan keluarga, tanpa mau berpikir untuk saudara-saudara di belahan dunia sana yang dihimpit derita. Betapa diri ini selalu lupa untuk menyisihkan sebagian dana, sekecil apapun, untuk disumbang kepada mujahidin Palestina yang menjadi garda terdepan pembelaan terhadap Al-Aqsha. Betapa diri ini kadang mengeyampingkan masalah Al-Aqsha dengan alasan masih banyak carut-marut yang melanda negeri ini yang perlu diperhatikan. Padahal eksistensi dan nasib ummat Islam secara keseluruhan di muka bumi, ditentukan oleh perlawanan yang berlangsung di sana. Bukankah dengan bisa dihancurkannya Masjidil Aqsha, bisa juga dihancurkan masjid suci lainnya? Jika masjid suci yang mampu membangkitkan semangat juang kaum muslimin itu sudah dihancurkan, maka kaum muslimin menjadi laksana jasad tanpa ruh. Kapan saja bisa dibantai oleh musuh-musuh Islam.

    Pada moment Ramadhan ini, di mana doa-doa orang yang berpuasa dikabulkan oleh Allah, saya mengajak kaum muslimin untuk menyelipkan doa pada setiap doa yang kita panjatkan. Baik ketika siang sedang berpuasa, ketika berbuka, ketika habis shalat fardhu, ketika bermunajat di sepertiga malam, atau kapanpun khususnya di bulan Ramadhan ini, untuk keselamatan penduduk dan mujahidin di Palestina. Cukup dengan sebaris doa: “Allahummanshur ikhwana al-mujahidiina fii Filistin (Ya Allah tolonglah saudarakamimujahidin di Palestina).”

    Bagi saya yang imannya masih lemah ini, hanya sebaris doa itulah yang bisa saya persembahkan. Namun tidak tertutup kemungkinan, jika doa itu terpanjat oleh jutaan ummat Islam di seluruh dunia, dengan diiringi istighfar, hamdallah dan shalawat Nabi, Insya Allah, Allah berkenan memberikan pertolongan untuk keselamatan Al-Aqsha yang mulia. Waallahua’lam bishshawaab. (rizqon_ak at eramuslim.com)

  3. slavent mengatakan:

    Detik-detik Keruntuhan Benteng Cordoba

    by: swarahadiwirosa

    Abdullah Bin Abdurrahman berdiri tegap diujung benteng batu setinggi tigapuluh meter yang mengitari Istana. Dari puncak benteng itu ia dapat memandang hingga kedermaga pelabuhan yang kini mulai diselimuti asap dari kapal-kapal yang terbakar. Disamping kanannya disudut dinding yang berbentuk melingkar berkibar bendera merah besar bergambar bintang dan bulan sabit dan bertuliskan kalimat syahadat yang ditulis dalam bentuk kaligrafi indah berbentuk pedang, disulam menggunakan benang emas.

    Baju besi, pelidung paha dari kulit kuda dan apron penutup dada dari rantai yang dijalin serta helm dari baja berkilau tahan karat membuat tubuh sang pimpinan pasukan yang tinggi kerempeng karena rajin berpuasa itu menjadi tampak besar tegap perkasa. Jubah lusuh didalam baju besinya basah oleh keringat, dan sorban penutup kepala yang terkadang digunakan untuk sajadah ketika sholat kini dipakai sebabagai selendang menutupi lehernya. Ujung sorbannya yang sedikit robek-robek karena sering tersangkut ujung pedang itu ikut berkibar-kibar tertiup angin sore yang berhembus kencang diketinggian puncak benteng.

    Matanya yang tajam namun teduh kelihatan merah dan berair karena terkena asap minyak yang dibakar dari senjata pelontar bola api.

    Disampingnya ada dua orang prajurit memegang bendera kecil berbentuk segi tiga. Bendera itu sebagai tanda sandi perintah penyerangan atau penggunaan senjata. Bendera kuning untuk memerintahkan regu pemanah baris ke satu, bendera hijau untuk regu pemanah krisbow, hijau untuk tombak dan warna merah untuk senjata pelontar bola api. Satu setengah meter dari tempatnya berdiri, lima orang prajurit yang sedang sibuk memanah dengan menggunakan panah besar yang disebut krisbow. Telinganya sudah terbiasa dengan bunyi berderit dari kayu dan pelat baja berbentuk busur yang sedang ditarik meregang itu, dan seiring kibaran bendera tanda harus melepas anak panah, alat itu akan menimbulkan bunyi desingan indah manakala anak panah melesat keluar dari larasnya, kemudian dipadu dengan nyanyian kalimat takbir penuh semangat, panah meluncur membawa api dan meninggalkan jejak asap dilangit.

    Disamping regu pemanah krisbow itu, disepanjang puncak benteng tersebut berjejer pula para prajurit-prajuritnya yang gagah berani. Diatas permukaan puncak benteng yang lebarnya kurang dari tiga meter tersebut berdesak-desakan para prajurit pemanah, mereka terdiri dari tiga lapis pasukan. Mereka melepaskan panah-panah, saling bergantian tanpa henti. Sementara itu bebererapa prajurit yang bertugas membawa anak panah berlari mondar-mandir di gang yang sempit itu untuk mensuplai anak panah, membawa minyak bahan bakar yang akan digunakan untuk anak panah api, membawa kantung berisi batu berlapis kain kasar yang berbentuk-bola dan juga kantung-kantung air untuk minum dan pendingin lantai yang menyala karena terkena tetesan minyak panas dan membawa makanan. Disetiap duapuluh prajurit, terdapat alat pelontar bola api berbentuk ketapel besar. Ketapel besar itu dapat melontarkan bola api sebesar kepala sejauh duaratus lima puluh meter. Pada peperangan sebelumnya, alat pelontar api ini adalah senjata andalan pasukan muslim yang dikomandoi Abdullah. Kapal dan perahu-perahu dan juga prajurit-prajurit musuh banyak yang hangus terbakar bila terkena bola api tersebut.

    Sementara Ditanah lapang didalam area benteng, ada pula pelontar bola api yang lebih besar, yang dapat melontarkan bola api jauh melintasi dinding benteng. Dengan daya jangkaunya yang lebih jauh dari panah krisbow, alat itu sangat diandalkan dimedan pertempuran. Tetapi alat itu belum sempurna, masih sering rusak karena penguncinya sering patah dan tali penarik balok pelontar utamanya juga sering putus terkena percikan api.

    Perang sudah berjalan dua miggu, dan akan memasuki minggu ketiga. Bersama rekan-rekannya Abdullah dapat menahan serangan musuh dan masih dapat mempertahankan benteng tersebut. Ia dan seleruh prajuritnya tak merasa lelah.

    Tiba-tiba Abdullah terkesiap! Benteng yang menjadi tempat pertahanannya sesekali terasa bergetar bersamaan dengan suara menggelegar yang disusul dengan nyala api dan kepulan asap yang membumbung tinggi. Diujung puncak benteng, seratus meter dari tempatnya berdiri, dibekas sumber suara ledakan tadi, ia melihat puluhan prajurit yang panik, ia mendengar jeritan prajurit-prajurit yang berteriak karena terluka, terbakar atau yang sedang melayang jatuh menghujam dasar kaki benteng yang berbatu. Dan syahid.

    “Ahmeeeeeeed……!” Ia berteriak keras sambil menempelkan telapak tangan kirinya nya kesamping mulut membentuk corong agar terikannya yang lantang bisa terdengar dan tidak kalah ditelan bisingya desingan anak panah dan bunyi gemertak senjata pelontar.

    Yang dipanggil adalah seorang prajurit bernama Ahmed yang sedang berlari terbungkuk-bungkuk karena merunduk diantara pasukan pemanah. Prajurit itu mempercepat larinya. Ahmed seorang prajurit yang bertugas menyampaikan berita perkembangan terbaru disetiap sudut benteng. Sepanjang hari ia berlari, memberi informasi tebaru kepada setiap pimpinan pasukan diatas benteng.

    “Ahmed! Apa yang terdengar menggelagar dan disertai asap hitam dan nyala api itu, sehingga benteng kita yang kokoh ini terasa bergetar, bahkan aku lihat ada lubang besar dibekas ledakan itu?”. Tanya Abdulah tak sabar kepada prajurit pembawa informasi itu, bahkan ketika sang prajurit itu belum lagi sampai didepannya.

    Ahmed kali ini merasakan kata-kata yang lain dari biasanya. Kata-kata Abdullah yang biasanya tenang dan sejuk kini terasa bernada gusar.

    “Komandan!” katanya seraya mendekat, nafasnya terengah-engah, “Benteng kita telah digempur oleh musuh dengan menggunakan senjata jenis terbaru. Senjata itu bernama meriam atau disebut juga canon! Senjata jenis ini menggunakan bubuk mesiu dan sebuah laras tebal terbuat dari logam yang dicor. Pelurunya terbuat dari logam yang didalamnya diisi dengan bubuk mesiu dan dicampur dengan serpihan-serpihan atau bola-bola logam. Cara kerja senjata itu pertama-tama bagian belakang larasnya diisi dengan bubuk mesiu dan diberi sumbu melalu lubang kecil, lalu peluru yang berbentuk bola dimasukkan kedalam larasnya melalui lubang depan, kemudian sumbu dibagian pangkal laras meriam itu disulut api, maka terjadi ledakan yang mendorong peluru. Peluru seberat tigasetengah kilogram itu dapat meluncur dengan kecepatan tinggi dan dapat mencapai jarak sejauh empatratuslimapuluh meter. Bahkan dengan sudut parabolik jangkauannya bisa lebih jauh lagi, bisa mencapai sejauh tigasetengah kali dari alat pelontar bola api kita. Jadi mereka dapat menembakan peluru itu dari jauh. Sedangkan senjata kita tidak dapat menjangkau posisis mereka. Dan kehebatan senjata itu, ketika ditembakkan dan mengenai dinding, maka bola besi yang disebut peluru itu dapat meledak dengan kekuatan yang dahsyat, ledakannya dapat menghancurkan bebatuan yang menjadi dinding benteng, sedangkan serpihan logamnya dapat menembus baju prajurit kita. Sekali tembak mereka dapat membunuh duapuluhlima orang prajurit kita! Armada laut kita yang bertugas mengamankan pelabuhan sudah hancur! Satu tembakan peluru mereka dapat menenggelamkan perahu layar kita yang berisi seratus duapuluh orang prajurit! Menurutku, bila musuh dapat bergerak maju dan mengarahkan gempurannya ke pintu gerbang istana, kita akan segera kalah!”.

    Abdullah, sang pimpinan prajurat nan perkasa ini tertunduk, ia menggelengkan kepalanya sambil berucap”MasyaAllah”. Lalu dia memandang Ahmed, matanya mengernyit tajam tanda dia sedang bersuaha mengingat sesuatu, lalu dia berkata:

    “Ahmed, apa nama senjata itu tadi?”

    “Meriam, atau Canoon!”

    “Meriam? Aku ingat! Bukankah enam bulan yang lalu, sebelum musuh ini menyerang kota, pada pertemuan dengan Sultan, kita telah pernah membahasnya! Waktu itu ada seorang pemuda ahli senjata menawarkan sebuah rancangan senjata jenis terbaru kepada Sultan. Senjata itu adalah pengembangan dari senjata yang digunakan oleh tentara Cina. Pemuda itu sangat yakin bahwa senjata hasil rancangannya tersebut sangat hebat dan sangat yakin pula bahwa Sultan akan menerimanya. Dan atas rancangannya tersebut ia meminta kepada Sultan agar memberinya bayaran yang besar dan kedudukan yang terhormat dikerajaan. Tetapi sultan menolak. Dan kaupun tahu sendiri bahwa Sultan kita yang ini tidak begitu peduli dengan penemuan para ilmuwan. Sedangkan para penasihat Sultanpun tidak dapat membujuk atau memberi argumen yang baik agar sultan menerima tawaran pemuda itu. Ia lebih suka mendengarkan para ahli politik yang pandai berbicara”

    “Ya, karena penolakan sang Sultan, pemuda ahli senjata itu sangat kecewa lalu ia pergi dan menawarkan rancangannya tersebut kepada pihak musuh. Kini pemuda tersebut mendapat jabatan yang bagus dipihak musuh serta menjadi penasihat startegi perang mereka”. Jelas Ahmed kepada Abdullah.

    “Ahmed, aku ingin bertanya padamu, karena menurut pendapatku dan juga sahabat-sahabatku sesama pimpinan pasukan, bahwa kamu adalah orang yang cerdas dan sangat berbakat! Suatu saat kamu bisa menjadi mentri dikerajaan. Kami semua yakin itu. Pertanyaanku, apa pendapatmu sehingga Sultan menolak pemuda yang mengajukan rancangan senjata yang ampuh itu?”

    Mata Ahmed berseri, ia bahagia mendapat pujian dari Abdullah sang Pimpinan pasukan yang terkenal jujur dan gagah berani itu.

    “Menurutku, dengan menolak tawaran dari ahli senjata itu Sultan telah berbuat kesalahan yang fatal. Menurut pengamatanku Belakangan ini Sultan terlalu sibuk dengan memanjakan para anak-anaknya dan juga terlalu asyik dengan harem-haremnya. Dan hal yang tidak kalah penting adalah Sultan telah mengangkat para penasehat yang teralu menitik beratkan kepada masalah Agama dan Ibadah dan juga para mentri licik yang ahli politik”.

    Abdullah sang pemimpin pasukan benteng barat itu sangat terkejut, alisnya berkerut tanda keheranannya akan ungkapan Ahmed yang dinilainya agak tidak sopan. Ia tidak menyangka mendapat jawaban seperti itu. Ingin rasanya ia mencengkram leher prajurit itu! Jika saja dia masih seperti sepeluh tahun yang lalu yang dikenal keras tegas dan gampang marah, pasti hal itu telah dilakukannya. Ia kini telah berubah menjadi kepala prajurit yang bijaksana. Ia tak habis pikir, megapa Ahmed berkata seperti itu. Ia dapat menerima alasan jika Sultan terlalu sibuk dengan anak-anak dan harem-harem kesayangannya, atau ahli politik, tetapi menyalahkan Sultan karena mengangkat penasehat yang para ahli ibadah adalah suatu pendapat yang kurang ajar. Ia menyesal telah memuji Ahmed tadi.

    “Ahmed, apa maksudmu bahwa Sultan juga salah karena telah mengangkat penasehat yang justru para ahli Ibadah? Aku tidak mengerti maksudmu? Hati-hati, fikiranmu bisa membuatmu menjadi orang yang sombong dan tersesat! Apakah kamu tidak ingat, beberapa waktu lalu sultan memecat seorang ilmuwan dan juga membakar ratusan buku-buku karya imiah ilmuwan tersebut? Kamu bisa dihukum gantung bila berkata seperti itu didepan Sultan. Beristighfarlah! Kamu bisa jadi orang zindik”

    “Maafkan aku!” kata Ahmed tanpa merasa takut atau bersalah. Ia sangat yakin dengan pendapatnya. “Maksudku adalah, semenjak Sultan lebih banyak memiliki penasihat para ahli syariah dan ahli ibadah, kebijakan sultan jadi tidak berimbang lagi. Beliau telah mengesampingkan pentingnya Ilmu pengetahuan dan penelitian serta pengembangan teknologi. Padahal dimasa-masa mendatang bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bangsa yang akan menguasai dunia, tidak peduli apakah dia muslim atau bukan. Bukankah kota Cordoba ini menjadi sangat maju karena Sultan-sultan terdahulu sangat peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi? Apakah kau tidak menyadari bahwa Rasulullah dan sahabat-sahabatnya selain ahli ibadah tetapi juga ahli strategi yang sangat baik. Beliau bahkan menyuruh tawanan perangnya untuk mengajari baca tulis kepada para kaum muslim diMadinah. Surah Al-Quran pertama kali diturunkan adalah perintah untuk membaca! Ketahuilah bahwa Baca tulis adalah pintu pertama menuju abad Ilmu pengetahuan dan Teknologi, kemenangan pasukan nabi diperang khandak juga adalah karena keunggulan Teknologi dan strategi. Bukankah Nabi juga tidak menganjurkan kepada kita untuk beribadah tanpa henti, misalnya berzikir sampai ribuan kali sepanjang malam. Pendapatku, Jika berzikir seperti itu, bukankah Allah telah menciptakan malaikat! Ibadah kita haruslah berimbang, kita seharusnya memakmuran bumi ini dengan kreasi kita, kita ummat Islam harus cerdas, kreatif dan inovatif tentu saja harus sesuai, selaras dan tetap berpegang teguh dengan petunjuk Al-quran dan Hadits. Bila kita dapat memadukan semua itu barulah kita bisa disebut sebagai ummat yang membawa rahmatan lil alamin”.

    Abdullah sang pimpinan prajurit benteng barat termenung, ia beristighfar. Kejernihan hatinya membuatnya cepat menyadari apa yang dimaksud Ahmed. Tapi didalam lubuk hatinya ia masih menyimpan satu pertanyaan. Ia tak sanggup menahannya, naluri keprajuritannya selalu bergerak secara otomatis untuk selalu setia membela Sultan. Lalu ia berkata lagi kepada Ahmed sang prajurit informasi, “Tapi Ahmed, aku berfikir bahwa Sultan juga punya alasan yang mulia untuk menolak rancangan senjata yang punya daya hancur mengerikan itu. Sultan punya sifat kasih sayang yang tinggi terhadap sesama manusia. Ia mungkin berpendapat bahwa senjata itu tidak adil, dan akan mengakibatkan kehancuran dan korban yang besar dipihak musuh” begitu argumen sang pimpinan pasukan benteng barat itu.

    “Ya! Itu suatu sifat yang sangat terpuji! Tetapi bukankah musuh tidak akan pernah berhenti mengganggu kita hingga hari kiamat? Lihatlah akibat dari ketidak pedulian pemimpin kita terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi!” tangan Ahmed menunjuk kearah barat laut, tempat dimana asap membumbung dari pelabuhan. “Aku kagum dengan keberanianmu dimedan tempur, aku iri dengan sifat ketaatanmu pada Allah SWT. Sifat juhudmu adalah panutan bagi setiap prajurit! Tetapi aku juga kecewa padamu! Seharusnya diantara rasa kelezatanmu beribadah, kaupun harusnya menyeimbangkannya dengan hal yang kreatif! Kau bisa merancang senjata-senjata yang lebih baik! Apakah kau tidak sadar bahwa peralatan tempurmu sudah ketinggalan jaman? Tahukah kau apa akibatnya? Lihatlah kedermaga sebelah sana, sekarang pasukan kita digaris depan telah hancur lebur, hari ini saja, kita telah kehilangan limabelasribu prajurit. Sahabatmu yang bernama Mirkad-si orang Tunisia yang memimpin armada laut itu, telah syahid kemarin sore, tubuh sahabtmu itu hancur terkena peluru meriam! Dan sahabatmu Abu Ja’far yang berbadan tinggi besar dari kota Basrah yang memimpin kavileri panah dan tombak beserta seluruh prajuritnya yang bertugas menjaga gerbang kota juga telah syahid pagi ini, tubuhnya hancur dan baju besinya terbelah, kepalanya yang masih utuh sekarang digantung didinding gerbang kota”.

    “Innalillahiwainnailaihirojiuun, Allahumaghfirlahu, Warhamhu, wa-afihi wa-fuanhu..”. Selesai membacakan doa, Abdullah mengusap wajahnya. Ia memandang Ahmed. “Kau benar Ahmed, kau pantas menjadi Mentri atau penasehat Sultan. Selepas perang ini aku akan meminta kepada Panglima kita untuk mengirimmu keIstambul, kau bisa meningkatkan karirmu disana, Pimpinan Ummat ini membutuhkan orang sepertimu untuk menjadi penasihat agar mereka dapat membuat kebijaksanaan yang dapat membawa ummat Islam berjaya dimasa-masa mendatang. Berjaya disegala bidang, bukan berjaya diatas mimbar atau menyendiri dipojok-pojok mesjid dan musholah, mereka akan menjadi dinamis dan kreatif bukannya sibuk beradu debat mengenai agama ini!”.

    Percakapan mereka ditengah hiruk pikuknya senjata menjadi terhenti dengan sebuah ledakan besar didekat pintu gerbang, kira-kira sembilan puluh meter dari tempat mereka berdiri. Mereka melihat puluhan prajurit muslim berguguran. Terbayang kekecewaan yang sangat dalam pada wajah mereka. Lalu Abdullah memeluk Ahmed,

    “Terimakasih Ahmed! Kau memang cerdas, selama ini aku sering berselisih pendapat denganmu dan sering berkata keras kepadamu, bahkan terkadang aku menyangsikan keimananmu. Tetapi ketahuilah Ahmed, kamu sesungguhnya sudah kuanggap seperti adik kandungku!. Sekarang teruskan tugasmu, cepat Informasikan kepada pimpinan pasukan dibenteng sebelah timur “. Abdullah mempersilahkan Ahmed meneruskan tugasnya. Lalu prajurit pemberi informasi itu bergegas menuju pimpinan pasukan berikutnya. Ahmed memandang sang pimpinan pasukan dengan mata berbinar. Kali ini ada perasaan aneh dalam hatinya. Ia merasa lega telah mengatakan unek-uneknya! Unek-unek yang harusnya ditumpahkan didepan Sultan beberapa bulan lalu!

    Matahari tenggelam diiringi kumandang azan bersahut-sahutan, dimasa damai biasanya setiap sore ketika akan tenggelam, bila dilihat dari atas benteng, matahari bersinar indah membawa warna keemasan, siluet bayang-bayang benteng membawa kesan kokoh terhadap benteng yang mengelilingi istana Sultan. Para penduduk kota Cordoba begitu yakin bahwa Islam akan berjaya dinegri yang dulunya cuma dipenuhi bukit berbatu ini dan kini menjadi Indah karena dibangun oleh kaum Muslim yang datang membawa kemakmuran. Tetapi sore ini warna matahari itu terlihat kemerahan dan terlihat redup karena tertutup asap kelam dari kapal-kapal yang terbakar, membawa kesan kepada Istana itu suasana yang menyeramkan. Sepanjang hari ini pasukan Muslim yang gugur berjumlah lebih dari tigaribu tujuhratus limapuluh orang ! Jumlah yang sangat banyak!

    ****

    Minggu ketiga, hari ketujuh semenjak gempuran musuh menggunakan meriam.

    Abdullah sang pimpinan pasukan dibenteng sebelah barat tak sabar menunggu berita perkembangan terbaru dari Ahmed. Tetapi Ahmed, belum terlihat.

    Ahmed adalah seorang prajurit yang bertugas sebagai pembawa informasi . Ia berdarah Lebanon yang bertubuh atletis itu, wajahnya tampan, dibawah alisnya yang lebat terlihat matanya menyorot lembut sekaligus tajam menandakan bahwa ia seorang pemuda yang cerdas. Diantara dagu dan pipinya yang berbulu, kulitnya terlihat putih kemerahan ciri khas orang Lebanon. Ia menguasai beberapa bahasa. Ia hafal Al-quran dan ribuan hadits shahih, Bahasa Arabnya sangat faseh dengan gramatika yang baik karena sering berhubungan dengn para petinggi diIstana Sultan, ia juga menguasai bahasa Ibrani, Persia, Andalusia, Italia, Prancis dan bahasa Inggris dengan baik, karena keahliannya itulah maka ketika terjadi perang ia mendapat tugas prajurit pembawa informasi. Keahliannya berbahasa diawali ketika ia membantu para iluwan di Universitas Cordoba dalam menterjemahkan atau menyalin manuskrif-manuskrif yang ditulis untuk kemudian disimpan di perpustakaan. Belakangan ini ia sudah mulai menguasai bahasa Rusia yang ia pelajari dari para prajurit yang berasal dari daerah Samarkand. Ia dapat berbicara kepada para pimpinan pasukan muslim yang berasal dari banyak wilayah.

    Menjelang siang, Ahmed belum juga muncul! Suara dentuman meriam semakin menggema! Kini Abdullah dapat dengan jelas melihat bendera putih berlambang salib besar yang diapit oleh gambar dua buah singa emas yang berdiri seperti mencakar. Pertanda pasukan musuh semakin mendekat. Abdullah meraskan pertanda kejatuhan Istana semakin dekat. Pasukan salib dibawah komando prajurit-prajurit Jerman dengan perlatan tempur yang jauh lebih canggih.

    Selepas Juhur, seorang prajurit berlari tergesa-gesa menghadap Abdullah, seorang prajurit berdadan agak kurus dan berkulit agak hitam kecoklatan, dengan bahasa arab beraksen Maroko, pemuda itu berkata kepada Abdullah dengan nada terengah-engah..

    “Komandan, aku membawa kabar untukmu, bahwa Ahmed, prajurit pembawa informasi telah syahid pagi tadi. Kakinya kanannya putus dan dadanya tertembus terkena serpihan ledakan meriam, jika saja bukan karena bajunya yang punya ciri khas tentu kita tidak akan dapt mengenali mayatnya, karena wajahnya hancur!”

    “Innalillahiwainnailaihirojiuun, Allahumagfilahu, warhamhu, waafihiwafuanhu..”. Abdullah berdoa sambil memandang kelangit lalu tertunduk. Ia menangis. Baru kali ini ia menangis untuk seseorang. Terakhir kali ia menitikkan airmata dan menangis ketika ibunya meninggal dunia duabelas tahun yang lalu ketika menderita sakit akibat usia lanjut dan terlalu lelah sepulang dari menunaikan ibadah haji.

    Abdullah teringat kembali percakapannya dengan Amed, janjinya untuk mengirim Ahmed KeIstambul gagal sudah. Ia kembali berdoa, menengadah kelangit seolah Ia dapat melihat Ahmed yang bergelar “syuhada” sedang terbang bersama malaikat menuju syurga.! Ia jadi iri!. Ya Rabb, kenapa kau panggil dia! Desisnya dalam hati. Ia tertunduk, dalam hatinya kini ada keyakinan aneh, kini ia baru mengerti kata-kata Ahmed. Keunggulan teknologi dan Ilmu pengetahuan ternyata sama pentingnya dengan Ibadah ritual seperti sholat, zikir dan mengaji.

    ****

    Hari ketujuh semenjak musuh menggunakan meriam.

    Musuh semakin mendekat. Letak kota Cordoba yang sangat strategis karena dapat diakses dari tiga penjuru laut sekaligus menjadikannya rawan karena dapat diserang dari ketiga penjuru itu. Kota akan dapat ditaklukan dengan mudah manakala musuh telah berhasil menghancurkan pasukan-pasukan angkatan laut dipelabuhan. Kini pasukan muslimin semakin banyak yang berguguran. Dinding benteng sebelah timur mulai kewalahan.. Teriakan takbir mengiringi kematian semakin sering terdengar. Setiap kali terdengar dentuman, terlihat lubang besar didinding benteng dan juga diatas puncak benteng, batu-batu dinding benteng berjatuhan menimbulkan suara bergemuruh , debunya yang putih becampur asap hitam membumbung melewati puncak benteng. Alat pelontar bola api mulai berkurang karena rusak dihantam peluru meriam, disekitarnya bergelimpangan prajurit yang tewas ataupun terluka parah. Lubang-lubang diatas dinding benteng berbentuk jendela sebagai tempat perlindungan ketika melepaskan anak panah mulai banyak yang menganga.menjadikan prajurit muslim disana menjadi sasaran empuk serangan anak panah musuh.

    Tangga-tangga kayu mulai menjulang bersandar didinding-dinding benteng. Prajurit-prajurit musuh mulai menaiki tangga tersebut. Dentingan pedang dan pekikan semakin riuh dipuncak benteng. Prajurit-prajurit berperisai bergambar salib semakin merangsek. Parjurit-prajurit bersorban mulai berjatuhan. Bahkan yang telah mati terkena panahpun masih ditusuk-tusuk dengan pedang.

    Tiba-tiba sebuah dentuman besar jatuh beberap meter didekat Abdullah, ia limbung. Lalu ia merasa kakinya kesemutan. Sebuah anak panah api tertancap dipaha kanannya. Lalu ia jatuh pingsan,

    Ketika Matahari mulai tergelincir kebarat, pintu gerbang berhasil dijebol musuh. Prajurit-prajurit pembawa bendera bergambar salib dan singa mulai merangsek! Hari itu Benteng terakhir kota Cordoba Andalusia jatuh ketangan pasukan tentara salib. Lalu tejadilah pembantaian yang paling mengerikan disepanjang sejarah Islam! Jeritan kesakitan dan pekikan takbir membumbung besama debu dan darah dilantai depan gerbang. Ribuan kaum muslimin, lelaki, perempuan, tua muda dan bayi digiring dan disembelih. Darah mengalir diselokan-selokan kota Cordoba.

    ****

    Dua hari setelah penaklukan.

    Abdullah siuman dari pingsannya, kemarin ia dijemur dan dikumpulkan dihalaman istana, karena ia termasuk pimpinan salah satu divisi benteng bagian barat kota, maka ia dikumpulkan bersama pimpinan-pimpinan pasukan yang lain. Sedangkan parurit-prajurit dalam divisinya yang masih selamat telah disiksa dan dibunuh kemarin siang. Dia menyaksikan pembantaian prajurit-prajurit kesayangannya yang telah belasan tahun ikut bersamanya. Kemarin dia hanya disiksa lalu ia pingsan. Kini ia mendapati tubuhnya yang kurus sedang tergantung. Kedua tangannya terikat, Ia dan beberapa orang pimpinan pasukan disalib disebuah tiang diruang bawah tanah Istana sultan. Dadanya yang kerempeng disulut besi panas hingga terkelupas dan tulang iganya kelihatan. Punggungnya meneteskan darah dari gari-garis luka bekas dicambuk, Ia pingsan ketika lukanya disiram air asam yang terasa sangat pedih bila terkena luka. Ia juga sempat melihat anak-anak dan wanita anggota keluarga Sultan dan para mentrinya disiksa dan dibunuh. Sangat kejam!.. Ia memejamkan matanya ketika melihat salah seorang anak mentri yang dia kenal sedang ditusuk dengan pedang hingga menembus punggung. Ditengah rasa sakit karena luka dan sakit hatinya melihat kekejaman yang terjadi didepan matanya, Ia hanya bisa bergumam, “Allahuakbar…..,Subhanallah,….ya Hafidz, Ya Rahman….”. tetapi setiap kali ia mengucapkan kalimat itu, orang yang menyiksaannya bertambah semangat! Abdullah tersenyum karena sebentar lagi ia dapat bertemu Ahmed, Ia bahagia karena ia juga berharap dapat menjadi syuhada. Ia ingin bertemu dan berkumpul segera dengan pemimpin para syuhada Sayyidina Hamzah, paman Nabi. Menjelang sore dadanya ditembus besi panas, dan nyawanya terbang kelangit.

    Puncak segala kehancuran.

    Sementara itu, beberapa puluh meter dari ruang gudang makanan yang kini berubah menjadi penyiksaan bawah tanah. Dilantai atas, disebuah ruangan yang sangat besar dan sangat indah yang disetiap sisi dan sudut-sudutnya dikelilingi dengan rak-rak yang menjulang tinggi, rauang yang kemudian tersambung dengan lorong jalan menuju universitas Cordoba, yang biasanya tempat ini ramai oleh trasaksi penjualan buku dan ramai oleh para pelajar dan orang-orang yang mencari referensi. Tercatat dalam sejarah ada tujuribu kios atau took buku dijalan itu.

    Didalam ruangan perpustakaan dan laboratorium terbesar yang kini telah ditinggalkan para penghuninya itu, karena para ilmuwan muslim telah dibantai dan dieksekusi, pimpinan pasukan musuh bersama beberapa penasihat ahli strategi sedang berbincang-bincang.

    “Kita akan bakar tempat ini berikut isinya!” suara pimpinan itu dengan lantang, sikap berdirinya sangat congkak, tangan kakannya menghunus pedang dan tangan kirinya memegang helm perang yang dikepitkan kepinggang.

    ” Jangan Jenderal!. Tempat ini adalah pusat perpustakaan terbesar kaum muslimin setelah perpustakaan diBaghdad dan Kairo!. Harap Tuan Ketahui, tidak seperti perpustakaan Bagdad dan Kairo yang kebanyakan hanya menyimpan buku-buku tentang Syariat dan Ibadah dalam agama Islam, Perpustakaan Cordoba adalah satu-satunya perpustakaan tempat dimana karya-karya para ahli dan ilmuwan muslim menyimpan karyanya disini. Para Ilmuwan atau yang biasa mereka sebut ulama-ulama itu datang dari berbagai negri muslim, bahkan ada yang datang dari negri Cina, India dan Samarkand. Mereka mengkaji segala macam ilmu disini, dari ilmu kedokteran, geografi, fisika, kimia, optik, matematika, pelayaran, ekonomi dan perdagangan bahkan ilmu konstuksi bangunan dan juga Astronomi”. Lalu sang penasehat itu berjalan dan mengambil sebuah buku tebal berwarna coklat. ” Lihat ini! Ini adalah buku kedokteran karya ilmuwan Islam! Lihat! Dibuku ini ditulis bagaimana caranya mengoperasi mata! Sungguh menakjubkan! Gila! Mereka telah bisa melakukan transplantasi mata! Dan lihat gambar-gambar ini, ini adalah gambar jantung dan pembuluh-pembuluh darah, ini juga ada gambar alat-alat dan pisau untuk melakukan operasi bedah. Aha..! Dia menulis bahwa untuk mencegah luka menjadi membusuk karena kuman, luka harus di cuci dengan al-kohol. Dia juga menulis bagaimana cara membuat alkohol dari permentasi buah-buahan yang disuling”. Sang penasehat itu membolak-balik kitab tebal itu dengan hati-hati, jemarinya bergetar seolah ia baru menemukan sebongkah emas, matanya memandang tak berkedip karena takjub.

    Sang Jenderal mulai tertarik, lalu mengambil sebuah buku. “Hmmm, nampaknya ini buku yang ditulis oleh ulama dari Mesir. Lihat ini…,orang-orang Azam itu ternyata sudah membuat gambar bagaimana cara membangun bendungan dan membangun irigasi, lihat ini cara bagaimana memompa air dengan menggunakan kincir yang digerakan oleh tenaga air”. Ia kemudian memandang kesekeliling ruangan yang sangat besar dan berornamen indah itu. Rak-rak buku itu diatur dengan sangat rapi dan dengan menggunakan system penyimpanan yang sangat menakjubkan. Buku-buku tersebut telah disusun berdasarkan bidang Ilmu pengetahuan, dan berdasarkan abjad. Sungguh hebat system pencatatan dan administrasi diperpustakaan itu membuat setiap orang dapat dengan sangat mudah untuk mendapatkan jenis buku apa yang ia cari. – sang Jenderal tidak tahu bahwa penemuan system pencatatan yang rapi tersebut adalah hasil karya sekertaris Nabi bernama Said, ketika sekertaris itu ditugaskan oleh Khalifah Abubakar As-Sidik RA dan Khalifah Umar RA untuk menyusun kumpulan Alquran-. Sang Jenderal berkeliling ruangan, dimeja panjang dekat jendela yang menghadap taman air mancur, Ia juga melihat ratusan alat peraga, ada jam pasir, ada alat berbentuk piring yang dibelakang pringannya terdapat piringan-piringan bergerigi besar dan kecil dari metal yang terhubung dengan kawat melingkar dan sebuah bandul- ternyata itu adalah alat pengukur waktu-atau jam bandul, ada alat seperti tempat lilin berbentuk bunga yang dapat bergerak yang ternyata merupakan peraga atau alat simulasi dari system orbit planet yang digunakan sebagai basis penghitungan kalender. Dimeja panjang itupun terdapat sebuah alat berbentuk bulat yang diameternya bertingkat-tingkat, bagian depannya ditutup dengan bahan dari batu transparant seperti kaca dengan permukan yang melembung seperti bola mata. Alat itu adalah teropong untuk mengamati bintang dan planet-planet. Disebelahnya ada alat serupa tetapi lebih pendek, itu adalah microskop pertama didunia. Didekat alat itu ada lempengan dari tembaga dengan ukiran-ukiran angka-angka-yang ternyata itu adalah kalender.

    Dari Ratusan Rak-rak besar yang berisi ribuan buku, ada satu rak besar yang didalmnya hanya terdapat buku-buku yang membahas tentang syariah, tasawuf, sufi, ibadah, dan buku-buku yang bahasan-bahasannya melulu mengenai ibadah.

    “Bagimana dengan ini?”tanya sang jenderal seraya menunjuk kearah rak tersebut yang berisi buku-buku tidak terlalu banyak. ” Menurutku ini tidak berguna, dan aku juga tidak tertarik! lagipula membaca buku-buku ini bisa merusak iman Kristen kita. Mungkin lebih baik kita bakar saja dan kita dijadikan api unggun untuk menghangatkan para prajurit kita yang sedang pesta ditengah-tengah lapangan didepan istana! “.

    “Jangan Jenderal!” sergah sang penasehat yang berkebangsaan Italia-Inggris- dan masih punya hubungan darah Yahudi- karena kakek buyutnya adalah orang Yahudi. Sang penasehat itu bernama Leonardo Alfred Ben-Nini “Saya usulkan, buku-buku yang bertema ilmu pengetahuan dan buku-buku hasil penelitian dan pemikiran para ilmuwan muslim yang cerdas ini kita bawa semua, lalu kita bisa mendirikan pusat kajian dan pendidikan diEropa, para anak muda-anak muda cerdas dinegri kita dapat belajar dan mengembangkan penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh para ilmuwan muslim ini, kita terjemahkan kedalam bahasa kita dan kita buat salinannya. Lalu buku-buku itu kita kirimkan kegubernur-gubernur kita agar mereka membangun pusat pendidikan dikota-kota mereka. Negri kita akan menjadi sangat maju nantinya.” Seorang pengawal yang berrambut ikal pirang berkebangsaan Jerman tersenyum setuju.

    “Dan terhadap seluruh kitab-kita ibadah ini, sebagian kita baker dan sebagian kecil kita biarkan dan kita tinggalkan disini, untuk nanti kita berikan kepada para pemimpin-pemimpin agama mereka. Nanti mereka dan juga generasi umat Islam berikutnya akan mengira bahwa agama Islam adalah agama yang hanya terdiri dari melulu tentang cara-cara ibadah. Mereka akan menjauhi ilmu pengetahuan dan teknologi , karena mempelajarinya menurut mereka adalah bid’ah. Kemudian mereka akan membandingkan buku-buku ini dengan buku-buku yang ada di Baghdad dan di Kairo, kemudian mereka akan berselisih dan bertengkar dengan sesama mereka karena mereka merasa bahwa kelompok merekalah yang paling benar. Mereka tidak akan pernah dapat bersatu, mereka akan lemah, bodoh dan bebal. Kelak mereka dapat kita jadikan budak atau buruh-buruh diperkebunan atau diperusahaan-perusahaan kita, mereka akan sibuk mencari nafkah, sibuk bekerja sehingga lupa kepada Tuhan mereka, atau mereka hanya akan mementingkan ibadah saja, mereka akan miskin, dan kita dapat mengatur mereka walaupun jumlah mereka sangat banyak dan menyebar diseluruh dunia. Walaupun mereka banyak dan tetap menjadi muslim, tetapi kelak kehidupan dan ekonomi mereka akan bergantung kepada kita, Diantara mereka nanti akan ada kelompok-kelompok yang sangat fanatik, nah dengan melalu agen spionase kita mereka kita kasih senjata peledak, mereka akan meledakkannya dinegri mereka sendiri, mereka akan mengira bahwa mereka telah mati syahid padahal mereka membunuh sesama mereka juga. Jadi kita tidak perlu repot-repot lagi memerangi mereka. Dimulai dari ruangan perpustakaan ini, mulai hari ini kita telah menguasai mereka dan anak cucu mereka. Hahahaha”. Leonardo terkekeh bangga,.

    “Kau sungguh hebat Leonardo! Kota Roma, London, Paris dan Berlin, dan seluruh orang Eropa berhutang jasa padamu! Dipesta kemenangan nanti, aku akan memberi hadiah padamu dan akan menyampaikan idemu ini ke Raja Inggris. Semoga raja akan meberimu sebidang tanah dan sebuah kastil lengkap dengan pegawainya. Dan…kau boleh melamar keponakanku yang cantik! Hahaha..” yang berada diruangan itu tertawa. Sang jendral tersenyum bangga seraya menepuk pundak Leonardo sebagai tanda takjub akan ide dan kejeniusan sang penasehatnya. “Kau boleh melakukan apa saja terhadap buku-buku ini. Dan aku akan menyiapkan orang-orang untuk membantumu. Kapanpun kauperlukan, kapal pengangkut akan kusiapkan untukmu”.

    Dengan mengepalkan tangan kanannya lalu menarik lengannya kearah dada, Leonardo Alfred Ben-Nini membuat gerakan seolah ingin menyikut lambungnya sendiri, lalu ia berkata.”Yessssss!” sebuah tanda kemenangan besar ala bapaknya. Tanda kemenangan ala orang Inggris.

    Beberapa minggu kemudian Dengan diangkut sembilanbelas kapal layar besar, Leonardo Alfred berlayar menuju Roma dan pelabuhan Inggris dengan membawa harta rampasan perang, didalam rombongan itu ada delapan kapal layar besar yang membawa buku-buku jarahan dari perpustakaan Cordoba. Buku-buku yang belum sempat dibaca oleh kaum muslim. Itu adalah rampasan perang paling berharga dalam sejarah perang yang dilakukan manusia. Ironisnya kaum muslim tedak merasa kehilangan!. Beberapa tahun kemudian Eropa menjadi kawasan yang sangat maju pesat dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu-ilmu dan juga aplikasinya diterapkan dalam bidang persenjataan, arsitektur, peralatan pertanian, alat angkut, perkapalan, astronomi, kedokteran. dan juga mesin mulai memakmurkan Eropa, Walaupun beberapa dekade kemudian terjadi perselisihan antara kelompok ilmuwan yang diketuai olah Galileo, tetapi karya-karya yang bersifat engineering tetap diakui oleh pihak Gereja. Ilmu dan teknologi pelayaran memungkinkan mereka menjelajah negri-negri yang jauh.

    Kota Cordoba akhirnya musnah, dan hanya merupakan sebuah cagar budaya! Turis yang datang kesana sering berdecak kagum akan keindahan kota tersebut. Orang muslim yang datang kesana terpana sekaligus sedih! Tak percaya mengapa Tuhan membiarkan kota ini terlepas dari kaum muslim. Mengapa Tuhan membiarkan pembantaian kaum muslim disini hingga tak satupun yang tersisa.

    *****

    Beberapa ratus tahun kemudian

    Berjarak Ribuan kilometer dari Andalusia yang telah musnah dari peradaban kaum muslimin. Penjarahan terus berlanjut.

    Disebuah pantai diselat sunda, di ujung barat pulau Jawa, berlabuhlah kapal-kapal layar dan prajurit-prajurit dari negri-negri Eropa. Kemudian berlabuh pula kapal-kapal itu dipulau-pulau lain milik beberapa kerajaan yang penduduknya sebagian besar beragama Islam.

    Lalu terjadilah peperangan hebat antara kaum muslimin yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol , sang Imam beserta pasukannya hancur terkena senjata api VOC, begitu pula Teuku Umar dan pasukannya mengalami nasib yang sama. Mereka bukan kalah Iman, tetapi kalah strategi dan teknologi peralatan tempur dengan tentara kolonial Belanda VOC, kemudian Pangeran Antasari yang bersenjata klewang gugur dan tenggelam bersama kapal dan seluruh prajuritnya karena kalah digempur meriam VOC. Harta kekayaan negri itu dijarah, tenaganya diperas! hasilnya untuk membuat bendungan-bendungan dan kincir-kincir air-yang ilmunya dulu didapat dari perpustakaan Cordoba.

    Dalam waktu yang terbilang sangat lama, setelah didera penderitaan yang bekepanjangan, dan dengan pengorbanan harta, tenaga dan jiwa tak terkira, walaupun dikungkung dalam keterbelakangan pengetahuan dan teknologi akhirnya negri itu dapat merdeka, dan harus diakui itupun dengan bantuan dan peralatan persenjataan hasil rampasan pihak musuh. Bukan hasil dari kreasi sendiri. Dan tentu karena kebaikan Allah SWT sajalah bangsa itu dapat merdeka. – Kalau tidak, maka nasibnya sama seperti Andalusia- Pulau-pulau itu kemudian bersatu menjadi sebuah negara merdeka.

    Puluhan tahun setelah merdeka , kebododohan penduduknya yang sebagaian besar kaum muslim masih terus saja berlanjut, seorang Insinyur cerdas dijatuhkan dari kursi kepresidenannya oleh seorang kolonel berpendidikan rendah.

    Puluhan tahun setelah itu, terjadi pula pelecehan terhadap Ilmu pengetahuan, karena seorang profesor cerdas diganti dengan seorang kyai yang secara fisik dan akademik jauh dibawah sang profesor. Suatu pertanda nyata bahwa bangsa itu tidak menghargai kecerdasan dan ilmu pengetahuan.

    Kemudian, dan tanpa disadari oleh penduduk negri itu…., sebuah system penghancuran tengah berjalan, sebuah system yang dirancang untuk menghancurkan kaum muslim. Dan keadaan yang mengerikan sedang terjadi. Dinegri itu telah berdiri ratusan sekolah dasar dan sekolah umum yang sebagian besar mempelajari ilmu sosial, dan sebagian kecil sekolah agama. Namun pada saat yang bersamaan juga telah berdiri ribuan perguruan tinggi jurusan “ilmu sosial politik”

    Tetapi cuma ada tiga sekolah tinggi atau Institut Teknologi. Itupun dengan fasilitas yang buruk.

    Implikasinya. Dinegri yang berpenduduk duaratuslimapuluhjuta itu kelak akan lahir seratusjuta politikus yang akan memperebutkan hanya delapan ribu jabatan! Kelak akan terjadi pengangguran politik yang dahsyat. Mereka akan bersaing, berbaris dan berdemo dengan alasan “demokrasi”. Sehingga dinegri itu “Tiada hari tanpa demo”! Setiap kebijakan pemerintah didemo, setiap datang tamu negara didemo, kantor-kantor pemerintahan tutup karena dibakar pendemo, sawah ladang sepi ditinggal berdemo, daerah bencana tak terurus karena ditinggal berdemo, korban bencana bukannya sibuk membangun tetapi malah sibuk berdemo, kampus dan sekolah sekolah sepi ditinggal berdemo, pabrik-pabrik sepi ditinggal berdemo, kios-kios dipasar sepi ditinggal berdemo! Jalan-jalan macet digunakan untuk berdemo, para pengangguran sibuk berdemo, mesjid dan majelis-majelis belajar sepi karena orang-orang yang berjubah juga sibuk berdemo! Siaran televisi hanya menyiarkan kegiatan demo! Acaranyapun kebanyakan masalah politik dan berdemo, dan dengan diselingi acara joget-joget dan juga hantu dan kekerasan serta kriminal, karena para wartawannya pun orang-orang bebal yang cuma tahu, hantu, joget dan soal politik dan paling tahu soal demo.

    Sedikit sekali di negri itu orang yang pandai ilmu mesin, IT, dan rekayasa teknologi. Banyak penduduknya hanya modar-mandir berjalan berkeliling kawasan industri untuk mencari pekerjaan, tetapi mereka hanya tertunduk sedih karena mesin-mesin buatan negri seberang telah menggantikan fungsi mereka. Dinegri sendiri yang seharusnya menjadi negri yang makmur, meraka menjadi Manusia tak berguna.

    Seorang teknokrat bernama Swara Hadiwirosa memiperkirakan negri itu tidak lama lagi akan dilanda krisis politik dan perang hebat, karena penduduknya cuma pandai berdemo, sibuk joget dan mengurusi hantu. Rakyatnya kerjanya cuma berdemo, pemimpinnya cuma ngomong soal partai politik dan sibuk mengkoordinir pengikutnya untuk berkumpul dan berbaris melakukan demo, aparatnya sibuk mengamankan demo.

    Negri itu kelak akan hancur! Seperti hancurnya negeri Andalusia, Karena pemimpin dan penduduk negri itu sama bebal dan tidak peduli terhadap Ilmu pengetahuan dan Rekayasa Teknologi.

    Tahukah nama Negri itu? Negri berpenduduk muslim terbesar didunia itu bernama “Indonesia”.

    tamat.

    ****

    catatan:

    Sejarah kota Cordoba.

    Kota Cordoba dibangun oleh Raja Spanyol. Sekitar tahun 700M, spanyol jatuh ketangan kaum muslim pada masa kahlifah Dinasti Umayah; yang diawali oleh panglima perang Thariq bin Ziyad. Kemudian Cordoba mulain dibangun sebagai pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Cordoba mencapai puncak kejayaannya, pada masa kekuasaan sultan Abdurrahman dan diteruskan oleh putranya sultan Al-Hakam II.. Kota itu menjadi hiasan dunia, menjadi titik puncak kejayaan peradaban Islam dan juga merupakan pusat kebudayaan di Timur dan Barat. Pada masanya Universitas Cordoba adalah puncak dari perkembangan ilmu pengetahuan, sains dan kesenian dan menjadi mercusuar bagi dunia pendidikan diseluruh dunia. Perpustakaannya memliki ribuan koleksi buku dan manuskrif-manuskrif karya para ilmuwan Islam. .Istana-istana megah, taman-taman dan air mancur nan Indah dibangun. Ada tujuhratus mesjid dengan arsitektur terindah dibangun disana. Pada masa itu kaum muslin mencapai perkembangan peradaban yang terus dikenang sepanjang sejarah manusia. Karena keberhasilannya itulah Cordoba menjadi target penaklukan tentara-tentara Kristen dari Perancis, Inggris dan Jerman.

    Kejatuhan kota Cordoba terjadi pada beberapa dekade setelah mencapai puncak kejayaannya, ketika kekuasaan berpindah ke Sultan berikutnya. Dari sekian banyak sebab, kehancuran, ada salah satu penyebab yang jarang sekali dikaji secara mendalam oleh kaum muslimin- penyebab itiu adalah ketika terjadi perselisihan antara Sultan dan para mentrinya dengan para Ilmuwan dan Saintis.. Pihak Sultan dan para pemuka-pemuka agama yang menjadi penasihatnya menuduh para Ilmuwan telah menyimpang dari kerangka syariat Islam karena kebebasan berfikir dan berkreasi mereka. Kemudian mereka memecat beberpa ilmuwan, membatasi kreasi mereka. Persis seperti perlakuan yang dilakukan gereja katolik Roma terhadap Galileo.

    Kejatuhan kota Cordoba merupakan awal penderitaan dan kehancuran kaum muslim dinegri Andalusia itu dan juga menjadi titik awal runtuhnya perkembangan dan kemajuan peradaban Islam. Setelah kejatuhannya hingga beberapa tahun kemudian, orang-orang muslim disana masih terus dikejar dan disiksa, mereka yang mau murtad dibiarkan hidup sedangkan yang tidak mau menanggalkan keIslaman mereka dibunuh dengan sadis. Istana dan mesjid-mesjid indah dihancurkan dan dirubah menjadi Gereja, atau dibiarkan hancur. Akhirnya tak seorangpun penduduk negri itu yang beragama Islam. Sungguh tragis dan balasan yang keji, padahal awalnya negri itu hanyalah bukit-bukit berbatu. Dan ketika muslim berkuasa kota dan negri itu dibangun dan diperindah, para penduduk yang bukan muslimpun dilindungi dan mendapat perlakuan yang baik, pemerintahpun tetap mengijinkan pembangunan gereja.. Sungguh tak pernah terbayangkan bahwa Islam yang pernah sangat berjaya dinegri itu akhirnya punah. Segala hal yang berbau peninggalan muslim dimusnahkan.

    Apakah anda ingin Indonesia seperti Andalusia?

    *ceita ini hanya fiksi dan karangan bebas dari penulis, tetapi kisah kehancuran kota Cordoba adalah nyata, pembantaian di Cordoba adalah nyata, penjarahan buku-buku oleh pasukan Eropa adalah nyata, dan kisah penolakan Sultan terhadap rancangan senjata Meriam juga nyata.

    ** Kisah tentang sejarah para pahlawan disebuah negri bernama Indonesia juga nyata, keterbelakangan penduduknya terhadap penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi juga nyata.

    *** Dan ancaman bencana mengerikan akibat system pendidikan yang buruk serta terlalu banyak politikus juga sangat nyata!

    Story by: swara hadiwirsoa

    Kisah ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen inspirasi “ayat-ayat sang insinyur” yang sedang digarap oleh penulis.

  4. Thanks, I have recently been looking for info approximately this topic for a while and yours is the greatest I have found out so far. But, what in regards to the bottom line? Are you positive concerning the supply?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: