Panggilan Terakhir Sebelum Al-Aqsha Runtuh

Juli 9, 2008

Oleh Mahmud Mubarak

Harina al-Hayat London (21/4/2008)

Di perempat tahun 2001, Dunia diguncangkan dengan suatu undang-undang negara yang membuat marah, ketika pemerintah Afganistan yang dipimpin Taliban mengumumkan niatnya untuk menghancurkan patung-patung budha yang ada di negaranya. Kebijakan tersebut dinilai bertentangan dengan undang-undang internasional. Terkait masalah ini, negara-negara Barat dan sebagian Negara Timur Tengah memminta pemerintah Taliban untuk mengurungkan niatnya. Mereka juga mengutus sebagian Negara muslim datang ke Afganistan. Mereka terdiri dari beberapa ulama senior dan pejabat diplomatik untuk mengajak pemerintah Afganistan agar membatalkan  niatnya. Keputusan Taliban tersebut akan memicu ketegangan di kawasan. Pada saat yang sama, Dewan Keamaan PBB mengeluarkan surat edaran yang bebunyi  keputusan pemerintah Taliban ini bertentangan dengan undang-undang internasional termasuk di dalamnya piagam Denhag tahun 1954 tentang kewajiban melindungi benda-benda yang bernilai sejarah dan kebudayaan.

Hari ini, di saat dunia disibukan dengan permasalahan Irak dan Palestina disibukan dengan serangan demi serangan yang dilancarkan Israel ke jantung Gaza. Juga ditengah konflik internal, Israel memanfaatkan situasi ini untuk terus menggali terowongan di sekitar Masjid Al-Aqsha dengan maksud meruntuhkanya. Langkah ini jelas bertentangan dengan undang-undang internasional. Namun tindakan Israel ini tidak mendapatkan reaksi apapun dari Negara-negara Barat. Boro-boro melahirkan resolusi dari Dewan Keamanan sebegaimana terjadi pada pemerintah Taliban.

Maka kekhawatiran yang diungkapkan ketua Gerakan Islam di wilayah Palestina jajahan 1948 beberapa hari yang lalu tentang adanya penggalian Israel yang sudah sampai di jantung areal al-Haram Masjid Al-Aqsha tepatnya di bawah tanah antara Qubbah Sakhra dan Masjid Kiblat. Kegiatan ini kontan telah menabuh genderang perang yang sangat berbahaya bagi kelangsungan Al-Aqsha dimasa yang akan datang. Kemungkinan runtuhnya al-Aqsha lebih cepat dari yang diperkirakan. Sebabnya semakin dekatnya penggalian mereka dan juga alat-alat kimia yang mereka gunakan untuk mempercepat lapuknya tiang-tiang al-Aqsha.

Maka situasi Al-Aqsha bisa masuk ke dalam undang-undang internasional dari beberapa sudut mana saja. Kedudukan Masjid Al-Aqsha sesuai dengan peraturan yang disepakati pada perjanjian Denhag tahun 1899 dan 1907. juga sesuai dengan Kesepakatan Jeneva tahun 1949 dan materi protokloler yang menyebutkan, al-Aqsha bagian dari Al-Quds Timur yang dijajah Israel tahun 1967. Selain itu Al-Aqsha masuk dalam perjanjian Denhag untuk perlindungan benda-benda yang bernilai budaya tahun 1945.

Yang terjadi saat ini, jika Negara-negara Arab dan Islam belum melakukan tanggung jawabnya untuk melindungi tempat sucinya, kemungkinan tuntutan untuk menjaganya juga sangat terlambat. Organisasi Islam OKI (Organization Conference Islamic) dulu pernah melakukan tanggung jawabnya ketika Yahudi berusaha membakar Al-Aqsha tahun 1969. OKI yang terdiri dari 50 negara yang bergabung di dalamnya harus dapat membentuk pasukan khusus seperti PBB. Atau dapat mengerahkan tentara anggotany untuk melindungi tempat suci ummat Islam sebelum terlambat.

Dengan kedudukanya yang mengakar OKI mungkin mampu meyakinkan dunia bahwa Masjid al-Aqsha bisa menjadi barang waqaf, walau tidak sama kedudukanya dengan patung budha. (asy)


Ribuan Umat Islam Ikuti Gerak Jalan Cinta Al Aqsha Wilayah Sumut – NAD

Juli 9, 2008

Binjai, Sumut ( Berita ) : Ribuan umat Islam dari sejumlah provinsi di Indonesia ikut ambil bagian dalam kegiatan Gerak Jalan Cinta Al Aqsha wilayah Sumatera Utara-Nanggroe Aceh Darussalam yang digelar Jama’ah Muslimin Hizbullah.

Peserta dilepas Imam Muslimin Indonesia H. Muhiddin Hamidy didampingi Kepala Kantor Departemen Agama Kota Binjai H, Jaharuddin Batubara dan Sekretaris Pertama Kedubes Palestina untuk Indonesia, Taher Hamad, di halaman Masjid Agung Kota Binjai, Sabtu (26/05) malam.

Peserta menempuh jarak sekitar 25,5 kilometer dari Kota Binjai menuju Kota Medan. Berangkat dari Masjid Agung Kota Binjai sekitar pukul 21.50 WIB, mereka dijadwalkan tiba di Masjid Raya Al Mashun Kota Medan sekitar pukul 04.00 WIB atau menjelang waktu shalat Subuh.

Mereka antara lain berasal dari Jabodetabek, Jatim, Jateng, Jabar, Kaltim, Kalbar, Lampung, Sumsel, Jambi, NAD dan dari sejumlah kabupaten/kota di Sumut.

Di antara para peserta juga tampak puluhan kaum ibu dan anak-anak. Belasan kaum ibu bahkan ikut menyertakan bayi-bayi mereka yang tertidur pulas dalam gendongan mereka.

Imam Muslimin Indonesia H. Muhiddin Hamidy ketika melepas peserta gerak jalan mengatakan, kegiatan tersebut ditujukan untuk menggalang kekuatan dan kepedulian umat Islam guna mendukung perjuangan merebut kembali Masjid Al Aqsha yang dikuasai zionis Israel.

“Melalui kegiatan ini kita menunjukkan kepedulian atas penderitaan muslim Palestina yang bertahun-tahun ditindas Israel. Palestina menunggu bantuan dan dukungan kita untuk membebaskan Masjid Al Aqsha dari cengkeraman kaum Yahudi,” katanya.

Lebih jauh dikatakannya, perjalanan pada malam hari itu merupakan perjalanan jihad atau perjalanan suci, layaknya perjalan Nabi Muhammad SAW ketika melakukan Isra’ Mi’raj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha menjelang naik ke Sidratul Muntaha.

Menurut dia, Jama’ah Muslimin Hizbullah juga akan menggelar kegiatan serupa di setiap kota di tanah air. Sejauh ini gerak jalan tersebut telah dilaksanakan di Jakarta, Bandung, Semarang, Lampung dan Pontianak.

“Setelah ini juga akan kita gelar di Jambi dan Surabaya, kemudian juga ke Sulawesi sebelum kita gelar di beberapa tempat di Malaysia,” katanya.

Kakandepag Kota Binjai H. Jaharuddin Batubara mengatakan pihaknya sangat mendukung kegiatan itu. “Ini merupakan bukti nyata bahwa umat Islam itu bersaudara dan umat Islam itu cinta akan perdamaian,” katanya.

Menurut dia, sudah seharusnya umat Islam di seluruh dunia ikut peduli dengan kondisi yang menimpa Masjid Al Aqsha yang dewasa ini dikuasai Israel.

“Kepedulian dan dukungan kita memang sangat dibutuhkan untuk membebaskan masjid yang selama 16 bulan pernah menjadi kiblat umat Islam itu dari kekuasaan pihak-pihak yang ingin merusaknya,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Pertama Kedubes Paletina untuk Indonesia, Taher Hamad, mengaku sangat terharu dengan kepedulian umat Islam di Indonesia atas penderitaan rakyat Paletina.

Ia juga menyatakan sangat menghargai dukungan Umat Islam di Indonesia dalam upaya kembali merebut Masjid Al Aqsha dari cengkeraman Zionis Israel. “Masjid Al Aqsha adalah hak kita, milik umat Islam di seluruh dunia,” katanya.

Israel Berusaha

Bangsa Israel dewasa ini terus berupaya menghilangkan suasana keislaman di kawasan Masjidil Aqsha, ujar Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Palestina untuk Indonesia, Taher Hamad.

Upaya yang sejak lama telah dilakukan Israel untuk menghilangkan suasana keislaman di Masjidil Aqsha adalah dengan membatasi atau bahkan melarang umat Islam shalat di masjid tersebut, katanya kepada Wartawan di Binjai, Sabtu (26/05) malam.

Di sela kegiatan Gerak Jalan Cinta Al Aqsha yang digelar Jama’ah Muslimin (Hizbullah) dalam rangkaian Pekan Solidaritas Cinta Al Aqsha ia mengungkapkan bahwa Israel kini juga berupaya untuk meruntuhkan Masjidil Aqsha dengan menggali lobang-lobang di sekitar dan bahkan di bawah masjid.

“Alasan mereka adalah untuk mencari bekas istana sekaligus harta karun Nabi Sulaiman yang diperkirakan terkubur di bawah bangunan Masjid Aqsha, tapi sampai kini mereka tidak menemukan apa yang mereka cari,” ujarnya.

Taher Hamad mengatakan, apa yang dilakukan bangsa Yahudi terhadap Masjidil Aqsha sangat-sangat melukai bangsa Palestina dan juga umat Islam di seluruh dunia.

Palestina, menurut dia, bukan Palestina tanpa Masjidil Aqsha. Namun demikian Masjidil Aqsha bukan hanya hak bangsa Palestina atau punya bangsa Arab, melainkan juga milik umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Masjidil Aqsha memiliki nilai sejarah yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Islam karena pernah selama 16 bulan lebih menjadi kiblat umat Islam. Masjidil Aqsha juga masjid suci karena merupakan bagian terpenting dari perjalan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

“Yahudi menjajah Masjidil Aqsha selama 40 tahun dan terus mencoba menghilang arti penting sekaligus suasana keislaman itu dari Masjidil Aqsha. Ciri keislaman suatu daerah adalah masjidnya, hal itu yang coba dihilangkan Israel dari tanah Palestina,” tambahnya.

Lebih jauh Taher Hamad menekankan bahwa kewajiban seluruh umat Islam untuk menjaga dan menyelamatkan Masjidil Aqsha dari kehancuran.

Umat Islam, katanya, ibarat satu tubuh. Sakit yang dialami salah satu bagiannya akan dirasakan oleh bagian tubuh yang lain.

“Karena itu juga seluruh bangsa muslim termasuk Indonesia mengutuk tindakan keji Israel terhadap bangsa Palestina dan Masjidil Aqsha,” katanya. (ant)


Ribuan Jamaah Muslimin Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha

Juli 9, 2008

BANDUNG-MIOL: Sekitar 3.000 Jamaah Muslimin (Hizbullah) dari beberapa provinsi di Jawa dan luar Jawa mengikuti “Gerak Jalan Cinta Al-Aqsha”, berjarak 32 kilometer pada Sabtu (11/11) malam dilanjutkan pada Minggu pagi dari Tanjungsari Sumedang hingga Kota Bandung.

Gerak jalan yang dimaksudkan untuk sosialisasi dan membangkitkan ruhul jihad (semangat juang) kaum Muslimin dalam upaya membebaskan Masjidil Aqsha dari tangan Zionis Israel di Yerusalem itu mengambil start di Pondok Pesantren Al Fatah Ciluluk Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat sekitar pukul 20.30 WIB.

Selanjutnya Jamaah Muslimin yang mengenakan kaos putih dan berbando (ikat kepala) putih bertuliskan “Allahu Akbar” itu berjalan kaki menyusuri jalan utama Sumedang Bandung, yakni Tanjungsari – Jatinangor – Cileunyi – Cibiru – Cicaheum – Jalan Surapati dan finish pertama di Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jabar di Bandung sekitar pukul 02.00 WIB.

Iring-iringan massa itu mengalunkan ayat-ayat suci Al Quran, Takbir dan Tahmid diselingi dengan orasi dari koordinator massa yang intinya mengajak umat Islam di seluruh dunia untuk membebaskan Masjid Al Aqsha dari penguasaan kaum Yahudi.

Ikut pula pada gerak jalan itu Pimpinan Ponpes Al-Fatah, Imamul Muslimin KH Muhyiddin Hamidy yang juga melepas keberangkatan peserta gerak jalan itu di Tanjungsari Sumedang.

Massa yang bergerak di kegelapan malam itu membawa senter dan lilin, dan sesekali melambaikan tangan kepada para pengendara yang berpapasan di jalan.

Rombongan pejalan kaki berada di barisan paling depan, diikuti oleh ratusan pengendara sepeda motor yang dilengkapi dengan bendera hitam. Peserta gerak jalan tertua berusia 76 tahun dan yang termuda 15 tahun

Beberapa peserta yang tidak kuat lagi untuk berjalan kaki langsung disisir dan dinaikkan ke atas mobil atau dibonceng dengan sepeda motor. Setiba di Pusdai, Minggu sekitar pukul 02.00 WIB, massa langsung beristirahat dan menunggu Shalat Subuh.

Kemudian mereka bergerak kembali ke Masjid Raya Bandung, sekaligus menggelar pengajian di masjid yang berlokasi di Alun-alun Kota Bandung itu.

Beberapa peserta Gerak Jalan Cinta Masjid Al Aqsha tampak tertatih-tatih akibat letih dan kakinya bengkak, namun mereka tetap menunjukkan semangat dan kecintaannya terhadap Masjid Al-Aqsha.

“Saya lakukan perjalanan ini tidak lain karena kecintaan saya pada Allah dan Al Aqsha. Kami tidak dibayar karena bayarannya dari Allah,” kata Muhamad Agus Solihin, asal Tanjung Priok Jakarta.

Setibanya di Masjid Raya Bandung, peserta gerak jalan juga disambut oleh Wakil Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Syeikh Taher Hammed, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Raya Bandung Tjetje Subrata serta Deputi Pemberdayaan Pemuda Kementrian Pemuda dan Olahraga, Iman Gunawan.

Wakil Duta Besar Palestina, Syeikh Taher Hammed sangat menghargai dan mengucapkan terima kasih atas kepedulian ummat Islam di Indonesia terhadap Masjid Al-Aqsha dan Palestina. “Rakyat Palestina tidak mungkin melupakan solidaritas dan kepedulian dari Rakyat Indonesia,” katanya.

Sementara itu Imamul Muslimin, KH Muhyiddin Hammidy mengatakan, kegiatan gerak jalan itu merupakan yang kedua kalinya digelar oleh Jamaah Muslimin.

Beberapa waktu lalu gerak Jalan serupa juga digelar dengan rute Cileungsi Bogor – Kedubes Palestina di Jakarta sejauh 41 kilometer.

“Kegiatan ini sangat penting untuk menumbuhkan jiwa dan semangat jihad dalam upaya mengembalikan Masjid Al Aqsha dari penguasaan zionis Israel,” tuturnya.

Ia menambahkan, Masjid Al Aqsha adalah masjid yang termaktub dalam Al-Quran dan menjadi tempat persinggahan Rasulullah Nabi Muhammad SAW ketika ia melakuan Isra Mi?raj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yag diberkahi Allah.

“Nabi Muhammad bahkan menganjurkan umatnya, Umat Islam untuk melakukan perjalanan ke Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha, menurut salah sebuah hadits beliau,” demikian KH HM Hamidy. (Ant/OL-03)

sumber : media-indonesia.com


Imam Jama’ah Muslimin : Ada yang Merusak Akidah Orang-Orang Aceh

Juli 9, 2008

Jakarta-RoL– Imam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) H. Muhyiddin Hamidy menyatakan, dia tidak menduga ada misi-misi kemanusiaan dari beberapa negara di Nanggroe Aceh Darussalam menyebarkan hal-hal yang merusak aqidah orang-orang Aceh, termasuk anak-anak yang tidak tahu apa-apa.Hal tersebut diungkapkan H. Muhyiddin Hamidy Senin malam setelah dia menerima laporan langsung dari Banda Aceh dan Meulaboh dari sejumlah relawan yang mendengar dan melihat secara langsung apa yang diperbuat sebagian anggota misi kemanusiaan dari beberapa negara terhadap para remaja dan anak-anak pengungsi Aceh.

Ia menyayangkan, misi kemanusiaan itu menjadi alat untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dari beberapa negara dan LSM yang seharusnya membantu meringankan penderitaan masyarakat Aceh yang tertimpa musibah secara tulus tanpa maksud-maksud lain.

Dia berharap pemerintah dapat lebih arif melihat apa yang terjadi di lapangan dan bila perlu menegur mereka yang melakukan hal-hal yang merusak aqidah orang-orang Aceh, yang sejak dulu dikenal kuat memegang teguh Islam sebagai agamanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pihaknya telah mengirimkan laporan ke Bapornas dan Satkorlak dengan lampiran-lampiran fakta atau bukti tentang masalah tersebut.

Tentang sikap masyarakat Aceh terhadap masalah itu, Muhyiddin Hamidy, yang baru pulang dari Banda Aceh dan ikut dalam evakuasi korban bencana alam di Aceh, mengatakan: “Kami juga mendengar ketidaksenangan masyarakat Aceh. Mereka mengeluh dan kelihatannya menggalang aksi untuk menentang perbuatan misi-misi itu.”

“Ini masalah baru, yang semestinya tidak ada,” tambahnya setelah mendapat laporan dari beberapa tempat tentang adanya usaha menyebarkan hal-hal yang merusak aqidah seperti terjadi antara lain di Lhoknga, Lamno, Nehan dan Calang.

Kepada kontingen peduli Aceh lainnya dari berbagai organisasi Islam, Imam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) itu juga mengharapkan agar mereka menyatukan diri bersama-sama untuk mengadakan laporan investigasi agar hal-hal seperti itu tidak berlanjut.

Sementara itu, dr. Herman, yang anak dan istrinya hilang ditelan tsunami di Meulaboh, mengatakan dia sangat sedih orang-orang Aceh yang tertimpa musibah banyak yang aqidahnya dirusak.

Pria Aceh beranak satu dan lolos dari maut setelah diterjang gelombang tsunami hari Ahad akhir tahun lalu mengatakan daerah-daerah yang tidak dapat masuk kenderaan darat ke sana didatangi oleh helikopter yang membawa misi negara asing.

Mereka tidak saja memberikan bantuan pakaian dan makanan, tetapi juga membelokkan aqidah orang-orang muslim di sana.
Nanggroe Aceh Darussalam di goncang gempa bumi dahsyat 8,9 pada skala Richter dan terjangan gelombang tsunami yang meluluh lantakkan 15 kota dan derah dari 21 kota di propinsi Daerah Istimewa Aceh yang berpenduduk muslim itu. Musibah itu menewaskan hampir 200.000 jiwa manusia. ant/fif

sumber : icmi.or.id


Setelah Terjadi Keruntuhan di Al-Aqsha, Apa Lagi Yang Ditunggu ?

Juli 9, 2008

Oleh Ziyad Miqdad

Setelah Israel menguasai sebagian besar wilayah Palestina, maka kota al-Quds, baik sebelah barat maupun timur berada dibawah otoritas Israel. Masjid Al-Aqsha menjadi tawanan, air mata darah dan kesedihan tumpah, kepedihan dan penderitaan menyelimuti al-Aqsha. Semua itu akibat penodaan dan penganiayaan Israel terhadap masjid kiblat pertama ummat Islam ini.

Kepedihan al-Aqsha bertambah-tambah, menyaksikan para pemimpin Arab dan kaum muslimin terpatung membisu, tidak bergerak atau tergerak hatinya untuk menyelematkan al-Aqsha. Mereka diam seribu bahasa, berlepas diri dari identitas kearaban mereka, dari masjid al-Aqsha, kiblat pertama mereka al-haram ketiga dan mesjid kedua yang dibangun manusia.

Akibat sikap diam bangsa Arab, sangat berpengaruh terhadap keberanian Israel untuk meningkatkan kejahatannya, merealisasikan cita-cita dan rencana mereka membangun Haikal ketiga yang sudah diimpi-impikan sejak ratusan tahun yang lalu.

Inilah yang terjadi, Yahudi diberikan keleluasaan untuk merealisasikan tujuan-tujuannya, memanfaatkan kelemahan dan ketakutan bangsa Arab.

Mulailah mereka membangun makar secara sistematis dan terorganisir, tahap demi tahap secara sembunyi maupun terang-terangan. Sebagian rencana mereka publikasikan di antara para pembesar kaumnya dibawah pendengaran dan penglihatan dunia, kaum muslimin dan bangsa Arab seluruhnya.

Untuk langkah pertama, Israel berupaya menguasai sebagian kecil Masjid Al-Aqsha untuk melaksanakn ritual ibadahnya dan sebagai basis pemantauan mereka terhadap langkah selanjutnya. Dialah Tembok al-Buraq, bagian tak terpisahkan dari Masjid Al-Aqsha. Tembok ini kemudian mereka namakan “Tembok Ratapan”.

Setelah dua tahun dari penjajahan mereka terhadap Al-Quds, Zionis Israel lalu berupaya membakar masjid tersebut dan menghanguskan sebagian ruangannya. Mimbar Shalahuddin rahimahullah yang berhasil direbut dari tangan kaum salib oleh Shalahuddin al-Ayubi dan mengembalikanya kepada pangkuan kaum muslimin, setelah 90 tahun berada di bawah penodaan kaum Kristiani, kini telah terbakar, akibat kedengkian dan kejahatan kelompok Zionis.

Setelah itu, muncul pelarangan dan pembatasan bagi kaum muslimin yang mau melakukan shalat di dalam Masjid Al-Aqsha, terutama di hari-hari orang berkumpul di dalamnya, seperti hari Jum’at dan di bulan Ramadhan. Kaum muslimin sangat rindu untuk shalat di dalam Masjid Al-Aqsha. Tempat dimana pahala-pahala dilipatgandakan menjadi 500 kali lipat di selain al-Aqsha.

Bahkan pelarangan ini sampai pada tingkat penganiayaan terhadap jama’ah shalat, melalui penembakan terhadap mereka. Akibatnya pembantaian pun terjadi, darah suci mengalir tumpah di tanah suci Al-Quds.

Semua ini terjadi di depan mata dunia, tanpa rasa khawatir, sedih ataupun malu. Tidak ada yang bergerak atau bertindak secara nyata dari kalangan pemimpin Arab, selain ungkapan penyesalan, penolakan ataupun kecaman menyaksikan pelanggaran ini.

Namun, yang paling berbahaya dari semua tindakan mereka ini adalah, pelanggaran yang mereka tidak publikasikan. Yaitu kegiatan yang mereka lakukan pada malam hari, berupa penggalian terowongan yang besar dan dalam di bawah Al-Aqsha. Dengan menggunakan alat-alat modern dan canggih, siang dan malam mereka menggali dan membuat bangunan di bawah Masjid Al-Aqsha. Tidak sampai di situ mereka juga membangun gedung kota transit di bawah al-Aqsha sebagai mukkadimah pendirian Haikal di atas reruntuhan al-Aqsha, jika sudah ambruk.

Mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi, tanpa dipublikasikan, walau sejumlah bukti dan fakta mengarah kepada apa yang mereka rancanakan. Keadaan ini terus berlanjut, hingga terbukalah cadar penutup dan terjadilah keruntuhan di pelataran al-Aqsha, separti dapat kita saksikan pada beberapa hari yang lalu lewat channel televise, dimana terjadi keretakan dan keruntuhan di beberapa bangunan.

Namun demikian, tidak membuat Israel mengaku. Ia bahkan mengklaim bahwa keruntuhan itu akibat gempa bumi lokal.

Sekarang, setelah terjadinya beberapa peristiwa di al-Aqsha akibat upaya penghancuran Zionis Israel dan setelah tampak bukti berupa keruntuhan pelataran al-Aqsha, pertanyaanya adalah, sampai kapan wahai ummat Islam yang berjumlah semilyar setengah, akan menunggu ? atau kita akan bersumpah tidak akan sadar ataupun bangun sebelum melihat al-Aqsha tinggal puing-puing batu ???.


Al Aqsa Foundation warns of new Israeli excavation south of the Al Aqsa Mosque

Juli 9, 2008

The Al Aqsa Foundation for rebuilding Islamic Holy Sites, warned on Thursday from the dangers of new Israeli excavations carried only fifty meters away from the southern wall of the Al Aqsa mosque, and only a few meters away from the walls of the Old City.

Archive Photo
Archive Photo

The Foundation stated that the excavations are shaking the ground and causing damages to Palestinian houses near the site.

Also, the foundation reported that the Israeli authorities are conducting these excavations in order construct trade and tourism facilities, and that some of these facilities start underground. The excavations re also carried out to create a tunnel to link these facilities with Al Mughrabi Wall and the Western Wall.

In an urgent press release, the Foundation said that its field teams toured on Wednesday some of the entrances of Silwan town, especially the main entrance which is only a few meters away from the Mughrabi Gate, and observed the excavations which are carried out by huge machines and are heavily shaking the ground which inflicts serious danger to the foundations of the Al Aqsa Mosque, and endangering the houses of the residents in Silwan.

In its release, the foundation considered these excavations as part of an Israeli plan to divide the mosque as the first step to create a Jewish temple there.

Several Inhabitants of house close to the digging, in Silwan, said that the excavation always start early in the morning and continue until late evening hours, and sometimes are also carried out at night.

One child, Haneen Mohammad Qara’een, stated that she cannot study during daytime, and that she has to do that after ten at night which is the time when the excavations usually stop.

Translated by; Saed Bannoura – IMEMC

sumber : www.imemc.org


KUIL SULAIMAN

Juli 9, 2008

Ada sebuah rahasia Israel yang selama ini mungkin tidak banyak orang yang tahu. Mengapa Israel bersikeras untuk merebut Palestina dan berusaha untuk menghancurkan Masjid al-Aqsha yang merupakan tempat suci bagi umat Islam.

JIka ditarik sejarah kebelakang maka kita akan mengetahui apa sebenarnya yang mereka inginkan. Karena mitos tentang Kuil Sulaiman-lah mereka melakukan ini semua. Bagaimana kisahnya? Mari kita ikuti ulasan berikut ini )

Tulisan Ini saya ambil dari situs mereka yang saya tidak tahu persis tentang penulisnya apakah dia seorang Israel seperti kebanyakan atau seorang Yahudi yang mengamalkan kitab sucinya. Yang jelas dia bisa memberikan solusi yang bagus tentang pembangunan kuil Sulaiman ini tanpa mengorbankan siapapun dan mengganggu stabilitas perdamaian agama manapun. Situs bahasa Inggris ini saya terjemahkan denga bahasa yang sangat minim, jadi saya mohon koreksi atas kesalahpahaman dalam menerjemahkannya.

RINGKASAN

Kuil Sulaiman Adalah lambang kekuatan, sangat berguna bagi situasi internasional saat ini. Mereka meyakini kalau pondasi kuil Sulaiman berada di masjid Al-Aqsha maka kuil ini tidak bisa dibangun kembali, akan tetapi ada sebuah cara yang bisa menyelesaikan masalah ini yaitu : Lokasi sebenarnya tidak begitu penting untuk pembangunan kuil ini akan tetapi yang lebih penting adalah simbol dari kuil ini.

Ada sebuah tempat yang bagus untuk pembangunan kuil Sulaiman yang baru ini yaitu di sebuah bukit Zaitun, mudah dalam penguasaannya dan mempunyai pemandangan yang bagus serta mempunyai legimitasi bagi kelangsungan orangYahudi di Yerusalem timur ini.

Selanjutnya, Zionis Kristen, Yahudi Messianic, orang Israiel inggris diharapkan untuk mendukung proyek tentang pembangunan kuil yang baru ini, karena kuil ketiga ini mungkin berguna bagi mereka dan karena Yahudi dan Nasrani mempunyai simbol yang sama yaitu Bukit Zaitun.

Situasi sekarang yang sangat sulit untuk membangun kembali pada posisi semula maka lebih baik mendirikan kuil pada tempat yang telah saya katakan di atas yaitu bukit Zaitun daripada orang Yhaudi tidak mempunyai simbol.

Kenapa Sulaiman membangun Kuil?

Nabi Sulaiman membangun kuil karena diperintahkan oleh Tuhan

Apakah fungsi dari kuil tersebut?

Fungsi kuil ini penting bagi orang Israel karena :

-Memelihara agama Yahudi. Kuil merupakan pusat dari agama Israel .

Kuil Diyakini Oleh orang Israel sebagai tempat yang paling penting dan katanya agama TUHAN berakar di agama Yahudi.

- Mengampuni dosa Israel: Yahweh memilih suku Levi untuk melayani Dia di Kuil dan Aaron untuk kependetaan; pendeta diangkat untuk mempersembahkan, pemberkatan, dan re-misi dosa Israel.
re-misi sangat penting, karena pikiran dan tindakan mengubah keseimbangan psikologis dan rohani setiap orang, mempunyai dampak negatif, mengubah jiwa dan struktur rohani.
Rohani haruslah imbang, itulah sebabnya mengapa pendeta dahulu biasa melakukan pengorbanan.

Pendeta berpikir bahwa pengorbanan yang dilakukan di kuil teramat efisien untuk re-misi dosa Israel, karena aura hebat Shekinah, energi rohani terdapat di Kuil.
Ketika orang Yahudi melupakan Kuil, mereka tidak dapat lagi mendapatkan re-misi dosa mereka, mereka disequilibria pada keseimbangan rohani mereka dan Israel terancam bahaya.

- Menerima Shekinah, adanya Tuhan yang ditunjukkan: di bawah ini adalah perbandingan di antara the Shekinah Glory dan the Holy Spirit:

Holy Spirit Shekinah Definition
Transcendent Immanent
Masculine Feminine
Im Eloah
El Shaddai
Many locations through the world depending on God’s Will More intense at the center of spiritual gravity of the World
Prophets receive the Holy Spirit by God’s choice Kabbalists receive the Shekinah by spiritual training
Contingent Personal Gift Necessary Geometric Fact
Active Passive
Prayer Contemplation

Shekinah merupakan pusat gravitasi rohani Dunia:
– > pusat ini adalah Israel, karena Tuhan memilih Israel di antara bangsa untuk menerima Sepuluh Firman Tuhan dan disebabkan Judaism, Christianism dan agama Islam mempunyai tempat suci di Israel.
– > di Israel, tempat yang paling suci di Yerusalem
– > di area Yerusalem, tempat yang paling suci ialah Temple Mount, di mana kuil dibangun. Juga dikenal sebagai Mount Moriah, yaitu tempat di mana Ibrohim diberangkatkan untuk mengorbankan Isaac 3800 tahun yang lalu, 900 tahun sebelum kuil Sulaiman dibangun.

Dimana lokasi kuil Sulaiman?

Solomons temple
terletak di sebelah selatan Dom of the Rock, dan yang lebih penting, bahwa Holy of Holies mungkin terletak di daerah Masjid Al-Aqsha.
Air mancur berada kira-kira ditengah di antara Dom of Tthe Rock dan Al-Aqsa Mosque:

location of solomon's temple

Kapan Kuil Sulaimn dibangun?

Kuil pertama dibangun selama pemerintahan Raja Sulaiman, bertahan selama 40 tahun (satu Pembangkitan alkitabiah), dari 967 S.M. sampai 927 S.M.
Dibangun 480 tahun sesudah Eksodus 1446 S.M., akan kata itu 12 Generasi alkitabiah, satu pembangkitan sebanyak 40 tahun bagi masing-masing suku Israel.

Ada banyak kesamaan di antara selang waktu yang dipakai di dalam Alkitab dan juga ukuran Temple of Solomon seperti, Geometri keramat, numerology dan simbol

Siapa Yang membangun Kuil Sulaiman?

Ketika Sulaiman naik tahta, ia mulai bersiap untuk membangun Kuil, dia menulis kepada teman tua bapaknya, Hiram of Tyre, untuk mempersiapkan pekerja dan bahan yang harus diberangkatkan ke Yerusalem. Orang Yahudi dilibatkan di gedung kuil.
Oleh bantuan pekerja dan arsitek Tyrian, Sulaiman kemudian membuat kuil dengan bentuk yang luar biasa
Bagaimana kuil Sulaiman dibangun sedemikian rupa?

Karena lokasinya, Israel adalah rute dagang utama ke Mesir, Arabia dan Mesopotamia.
Untuk saling bertukar Emas, Minyak, Perak, Gandum, dan Kayu.

Kesejahteraan Israel.
Dan kemudian Sulaiman memutuskan menggunakan sumber penghasilan ini untuk membuat Kuil

Mengapa sebaiknya Israel, Christian Zionists, Messianic Jews, dan Israel Inggris membangun kembali Candi ketiga?

Membuat Kuil adalah perintah dari TUHAN, karena “Dia akan membangun rumah atas nama Saya, dan dia akan menjadi anak lelaki Saya, dan saya akan menjadi Bapaknya; dan saya akan mendirikan takhta kerajaannya di seberang Israel SELAMANYA.” (Chron 22:9-10)

Menurut Torah (Taurat), Israel dan Kuil sebaiknya ada untuk selama-lamanya.

Oleh karena itu, Israel dan Kuil sebaiknya dibangun kembali.
TerLebih lagi, Candi ketiga mungkin menjadi lambang yang sangat berguna tak hanya bagi orang Yahudi, tetapi juga bagi Christian Zionists, Messianic Jews, dan Israel Inggris.

Fungsi dari kuil ketiga

Kuil ketiga mempunyai fungsi sama seperti Kuil Sulaiman, karena manusia pada dasarnya sama:

- Memelihara agama Yahudi.
Kuil akan menjadi pusat agama Israel; merupakan tempat pusat Perjanjian yang berisi keSepuluh Firman.

Kelihatannya mustahil untuk membangun kembali (tetapi ini mungkin terjadi) jika Kuil dibangun kembali akan memajukan identias dan kebudayaan Yahudi ke seluruh dunia.

Terlebih, tidak akan terlalu menyakitkan bagi orang Yahudi untuk menyerahkan wailayah kepada palestina jika kuil dibangun kembali.
.
Tanpa pembangun kembali, konsesi teritorial secara mendalam akan membagi orang Yahudi.

- Mengampuni dosa Israel, Christian Zionists, Messianic Jews, dan Israel Inggris: keseimbangan rohani Israel akan kembali pulih, supaya membawa perdamaian dan kesejahteraan di dunia, oleh sebab itu mengapa perlu untuk membangun kembali kuil Sulaiman ini.

- Menerima Shekinah, meunjukkan adanya Tuhan :
Menerima Shekinah ini akan sangat penting untuk Israel dan Dunia:

- Israel lahir karena adanya Shekinah : karena Shekinah Isaac diterima di sini, Tuhan mengganti nama anak lelakinya Jacob menjadi Israel.

- Israel akan dipelihara oleh Shekinah: kalau undang-undang Tuhan dipatuhi di Kuil, Israel mendapat aliran Shekinah luar biasa, dan Negeri menjadi damai.

Dua poin terakhir (efisiensi pengorbanan yang terjadi di Kuil, mengisyaratkan adanya Tuhan) bergantung pada kemampuan untuk mendapat aliran maksimum Shekinah yang Suci dari Holies temple, oleh karena itu maka dipilih lokasi yang cocok.

Paragraf berikut menerangkan bagaimana caranya menemukan lokasi Kuil untuk menerima cukup Shekinah.

Di mana sebaiknya Kuil ketiga dibangun?

Lokasi terbaik adalah tentu saja lokasi yang sama seperti lokasi kuil pertama Sulaiman yaitu Sebelah selatan Dom of the Rock, dan membangunnya tanpa memusnahkan Dom of the Rock atau masjid Al Asha.
Karena, situasi internasional begitu tegang dan sangat membahayakan untuk membangun kembali Temple di antara Kubah dan Al Aqsha.

Di bawah ini ialah esoteric argumen untuk mengatasi kesulitan ini.
Apa benar-benar hal adalah tenaga rohani: satu kali mereka menerima ini tenaga, Pendeta bisa melakukan ritual yang sangat efisien untuk mengampuni dosa Israel, Christian Zionists, Messianic Jews, dan Israel Inggris.
Selanjutnya, Israel mendapat lebih banyak berkat dari Tuhan.
Yang menjadi Masalah ialah bahwa aliran Shekinah paling banyak di seluruh AL Aqsha.

Pemecahan secara artifisial akan memindahkan Shekinah dari satu lokasi ke lokasi yang lain.
Akan tercapai dengan menggunakan cara sebagai berikut.

Geometric definition of an ellipse: Let F ≠ F be two fixed points at a distance FF=2c apart. For a given a>c the corresponding ellipse is the set of all points M satisfying: MF + MF = 2a. In words this means that an ellipse is the set of all points in a plane, where the sum of the distances from the two fixed points is a given positive constant that is greater than the distance between the two fixed points.
key idea for temple rebuilding The diagram shows an ellipse with two fixed points, known as foci, F and F. These are known as focal points as if the ellipse was a mirror and there was a light source at one of them, then the light would REFLECT off the elliptical mirror onto the other focal point.

Here is a possible location in the area of the

Mount Olives

:

other location for temple rebuilding

The main advantage of this location is that there is enough space to

rebuild the Temple

, far enough from any Muslim holy place:

temple rebuilding on the mount olives
There is enough space to

rebuild the Temple

here.temple rebuilding on the mount olivestemple rebuilding on the mount olives



Thanks to the elliptical organization of the reflectors, all the Shekinah received by the El Kas Fountain will converge to the Holy of Holies of the new Temple. As regards the Shekinah, everything will be as if the new Temple was built exactly at the same location as Solomon’s Temple.

Last point, what the network of Shekinah reflectors must look like ?

Sacred flames, lasers or electromagnetic resonant devices should be efficient:

temple rebuilding with lasers

temple rebuilding with lasers



Network of sacred flamestemple rebuilding with lasers Network of lasers With only 2 sources of light, it is possible to draw the entire network of reflectors in the sky.

Kapan Candi ketiga sebaiknya dibangun?

Makin cepat makin baik.

Masih, saya berpikir kondisi utama akan dipenuhi segera 2007-2008 karena kesadaran semakin meningkat bahwa situasi sekarang tak dapat dipertahankan:

- Tekanan Luar Biasa ditaruh di Israel oleh himpunan internasional untuk menutup perdamaian dengan Arab.

Masih, tidak mungkin untuk sementara karena terorisme, fanaticism, kemiskinan, ketegangan ekonomis, teritorial dan agama di Timur Tengah. Menyatakan Israel diikat untuk berperang melawan tetangganya, lagi-lagi, dengan permusuhan semakin meningkat dari himpunan internasional.

Memakai Simbol pembangunan kembali kuil Sulaiman, dengan keterlibatan internasional, bukan hanya lebih baik, tetapi satu-satunya cara untuk Israel supaya keluar dari perangkap maut ini.

- Tekanan Luar Biasa ditaruh di atas Dolar dan ekonomi AS, karena defisit, kehilangan pekerjaan karena penyewaan tenaga luar, dan spekulasi properti,.

Situasi sekarang ini di bawah kontrol tetapi sekaligus sangat peka. Terlebih, ekonomi AS setiap tahun lebih tergantung terhadap uang internasional, dan emergent negara seperti Cina atau India akan dapat meragukan pimpinan AS dalam beberapa tahun.

Berarti AS, untuk menyimpan pimpinan mereka, terpaksa “untuk mendorong”, untuk bergerak secara agresif, untuk membuat hal baru. Temple akan akan berguna bagi kesatuan orang Amerika.

- Situasi di Eropa mampet: bukan politik, industri atau rohani proyek rohani, stagnasi ekonomis dan keuangan yang dibandingkan dengan perkembangan Asia.

Bermaksud elite, untuk orang Eropa dan keperluan “Israel” terlebih “Inggris” sesuatu baru untuk pergi ke depan.
Temple adalah pemecahan, karena agama, esoteric dan implikasi simbolik.

Bagaimana mungkin membangun kembali Temple?

Temple dikenal di seluruh dunia: merupakan lambang yang sangat besar, tetapi dengan bangunan yang tidak besar.
Bisa tercapai dalam beberapa bulan, serta menghabiskan dana sebesar $ 200 juta sampai $ 2 milyar dolar, tergantung pada banyaknya emas dan bahan.

Adalah kesempatan investasi bagus sekali, mengingat dampak di seluruh dunia.

sumber : dhymas.wordpress.com


Nasib Al-Aqsha Antara Kelemahan Bangsa Arab dan Terpecahanya Palestina

Juli 9, 2008

Kelanjutan program yahudisasi al-Quds dan upaya mereka untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsha memasuki tahap yang sangat mengkhawatirkan, ungkap DR. Abdul Wahab el-Musairi, pengamat politik Israel dalam tulisannya di harian Teluk Bahrain (31/03/07). Kejahatan mereka kali ini lebih berbahaya ketimbang peritiwa pembakaran al-Aqsha pada 21 Agustus 1969. Israel kini melanjutkan penggalianya di bawah masjid untuk mencari Haikal yang mereka klaim terkubur di bawah al-Aqsha.

Di sisi lain pengamat politik Israel ini mengungkapkan, maksud Israel sebenarnya adalah menghapuskan dan mengubah peninggalan bangsa Arab dari Al-Quds timur sebagaimana mereka telah lakukan pada Al-Quds bagian Baratnya.

Masjid Al-Aqsha bersama dinding dan gerbangnya merupakan peninggalan bersejarah yang sangat berharga bagi kaum muslimin Arab. Oleh karena itu pihak Israel berusaha untuk merubah banguan tersebut. Usaha mereka ini sudah dilakukan lebih dari 118 kali.

Yang paling dahsyat adalah apa yang dilakukan oleh Danis Michael Rouhan dengan membakar masjid AL-Aqsha pada tahun 1969 H. di saat bangsa Arab sedang lemah-lemahnya karena disibukan oleh kelompok radikal zionis di negerinya sendiri.

Ketika terjadi pembakaran oleh yahudi Raouhan, tidak terdengar tindakan ataupun kecaman dari dari bangsa Arab terhadap Israel, walau mereka telah menenggelamkan sejarah bangsa Arab dengan menjajah sebagian wilayahnya. Seperti pencaplokan atas  Tembok Al-Buraq yang menempel ke Masjid Al-Aqsha, yang suka disebut sebagai “Tembok Ratapan” Israel.

Walaupun sejak tahun 1967, PBB telah menetapkan bahwa Dinding Al-Buraq atau Tembok Ratapan itu milik keluarga bangsa Arab yang bernama Abu Daumah. Namun Israel tak pernah menghiraukanya ia tetap mencaplok wilayah itu dan menjadikanya sebagai tempat wisatawan. Hal ini dibuktikan dengan beberapa kali kunjungan para pemimpin Amerika yang datang ke wilayah tersebut dengan memakai topi khas yahudi dan melakukan ibadah di depan tembok tersebut.

Kelemahan dan ketidak berdayaan bangsa Arab semakin mendorong Israel melakukan berbagai penodaan terhadap masjid Al-Aqsha. Meski sampai kini para ilmuan purbakala Israel tak mampu mebuktikan secara ilmiah keberadaan nenek moyang mereka di wilayah tersebut. yang ada justru peninggalan bangsa Kan’an yang merupakan nenek moyang bangsa Arab. Oleh karena apa yang dilakukan Israel saat ini adalah proyek perencanaan untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsha melalui perubahan fondasi al-Aqsha dengan menggali terowongan di bawah masjid agar mereka bisa mengklaim telah menemukan peniggalan Israel di wilayah tersebut, terutama di bagian utara atau dimana terletak gerbang Al-Mughoribah yang telah dihubungkan dengan terowongan dan jembatan milik Israel. Setelah sebelumnya mereka juga mencaplok bagian Selatanya dimana terletak sekolah El-Tunkiriah yang dikenal denan sekolah hokum. Kini tempat tersebut menjadi markas militer Israel.

Hal ini juga dikuatkan oleh Hani Khalaf, pembantu menlu Mesir untuk urusan Arab yang menyebutkan Liga Arab sedang mempersiapkan resolusi pada pertemuan para menlu Arab yang berisi kecaman atas usaha Israel yang terus menerus melakukan perubahan dan penghancuran terhadap peninggalan bersejarah Islam di kota Al-Quds serta merubahnya dengan iklim yahudi.

Khalaf mengisyaratkan, rancangan keputusan Liga Arab tersebut mencakup tiga masalah utama. Yaitu, embargo seluruh rencana Israel termasuk di dalamnya upaya pembangunan museum di pekuburan Islam yang dikenal dengan nama, makam Ma’manillah. Kedua, penggusuran 1328 hektar tanah di wilayah Ananah sebelah timur Al-Quds yang dijadikan tembok rasial dan pembangunan sinagog yahudi di bawah teroowongan bagian Barat Masjid Al-Aqsha seluas 530 m. dan ketiga, menghantikan rencana mereka membuat terowongan baru antara pintu Sulaiman dan gerbang al-Amud seluas 13 hektar kemudian mereka rubah menjadi kawasan wisata Israel.

Khalaf menegaskan, pentingnya sikap dunia Arab dalam masalah ini. Memang ada beberapa langkah yang diupayakan bangsa Arab untuk memanggil dubes Israel dan mengingatkannya atas penodaan pemerintahnya terhadap masjid Al-Aqsha.

Di pihak lain, DR. Ahmad Yusuf Qurey, seorang pakar masalah al-Quds mengingatkan, penodaan Israel terhadap kota tersebut dimulai dengan mengancam setiap tempat bersejarah kota Al-Quds dengan memasifkan permukiman Israel di sekeliling kota. Saat ini mereka sedang merealisasikan rencananya untuk menghancurkan al-Aqsha.

Sampai sekarang Israel sudah melakukan 118 penodaan terhadap Al-Aqsha. Tidak hanya terjadi sejak tahun 1967, bahkan jauh sebelum itu, tepatnya tahun 1929 Israel sudah mulai menodai tanah suci Al-Quds ini. Mereka mulai eksodus dan menguasai sebagian pelataran Al-Aqsha dan mulai membuat terowongaan di bawah dinding masjid serta menghancurkan sejumlah pintu gerbang bersejarah dengan mengklaim bahwa tembok tersebut adalah bagian miliknya yang diberinama “Tembok Ratapan” hal ini mereka lakukan sejak tahun 1928 H termasuk di dalamnya propaganda internasional.

Adapun klaim mereka terhadap masjid AL-AQsha adalah, keyakinanya bahwa di bawah masjid Al-Aqsha terdapat Haikal Sulaiman. Dan untuk menampakan haikal tersebut harus menghancurkan dahulu Masjid Al-Aqsha.

Inilah masalah pokok konflik antara Yahudi Israel dengan kaum muslimin Palestina, selain penghancuran sebagian bangunan milik bangsa Arab dan Islam di Al-Quds. maka  dengan terpecahnya kekuatan bangsa Arab baik di tingkat pemerintahan maupun organisasi kemasyarakatan adalah factor terpenting yang mendorong Israel semakin berani melanjutkan penghinaanya terhadap kaum muslimin. Sementara Palestina pun terpecah-pecah hingga akhirnya gerbang Al-Mugaribah, satu-satunya pintu menuju Al-Aqsha yang pernah dilewati Rasulallah SAW. ketika melakukna isra dan mi’raj pun hancur tak bersisa. Langkah tersebut merupakan misi yang jelas bagi Israel untuk bangsa Arab, bahwa mereka akan terus melakukan yahudisasi al-Quds tanpa rintangan dari bangsa Arab walau sebatas himbauan kepada masyarakat dunia untuk mengintervensi masalah ini.

Mereka senantiasa melakukan propaganda dan pembodohan sejarah, tidak hanya di tingkat Al-Quds, tetapi mereka telah merampok sisa-sisa peninggalan bangsa Arab dan mengklaimnya sebagai milik yahudi, hingga galian yang mereka buat antara tahun 50 an, dimana mereka menemukan benda sisa-sisa peninggalan bangsa Kan’aniyah, mereka klaim, bahwa benda itu termasuk peninggalan bangsa yahudi. Mereka juga berpegang pada hikayat yahudi tentang keberadaan Haikal yang katanya akan segera tampak, walau badan waqaf Palestina menandaskan bahwa Masjid Al-Aqsha beserta pelatarannya merupkan milik Islam. Namun Israel tetap meneruskan panjajahan hingga menguasai gerbang Al-Mugharibah dan melakukan perombakan secara total disamping penggalian parit dan terowongan di bawah dinding Al-Aqsha yang bersejarah.

Oleh karena itu yang harus dilakukan bangsa Arab bukan hanya bersipat politis saja, tetapi harus mengakar pada budaya Arab. Sikap bangsa Arab juga bukan ditinjau dari sisi agama saja karena sikap Barat saat ini sedang memusuhi apa saja yang berbau Islam. Disamping itu, bangsa Arab hendakan membantu bangsa Palestina dalam memelihara peninggalan bangsanya dan berupaya melakukan renovasi seluruh bangunan yang ada di sana.

Sebab tujuan Israel begitu jelas, mereka ingin menghancurkan Masjid Al-Aqsha demi terkuaknya Haikal yang mereka klaim berada di bawahnya. Sementara itu Israel berusaha menyibukan bangsa Arab dan Amerika dengan kasus Irak serta kesepakatan deklarasi Makkah antara Fatah dan Hamas, agar mereka bisa lebih tenang melakukan renacanya. (pic/asy)


Tangisan Untuk Puing Al-Aqsha

Juli 9, 2008

Oleh Syaikh Najih Bakerot

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan symbol-simbol Islam tetap tegak dan menjadikan sekolah-sekolahnya tetap makmur. Ia akan tetap ada hingga akhir zaman bersmaan dengan orang yang berinfaq di jalanya atau memperhatikan perkembanganya. Tempat-tempat ini akan menjadi nafas bagi orang-orang shaleh diantara para umara dan penguasa. Hingga hilanglah perkampungan muslim akibat fitnah dan kelemahan atau penyakit “wahn” yang menghinggapi sebagian pemimpin muslimin yang mengakibatkan hancur luluh dan porak porandanya semua sendi-sendi islam seperti sekarang ini.

Walapun begitu, bangunan Jawaliyah merupakan salah satu symbol Aqidah Islam masih jelas terlihat bagi para pemimpin yang memahami pentingnya symbol ini.

Tempat :

Jawaliah terletak di sebelah utara Masjid Al-Aqsa yang dibatasi di bagian utara dan baratnya dengan sekolah Umar ibnu Khotob di areal lapangan dekat dengan tembok Al-Aqsha.

Pendiri

Bangunan ini didirikan oleh gubernur Ilmu Din Sanjar Jawali. Dulunya bekas rumah keluarga Bakar. Sanjar bekerja sama dengan Nasher Muhammad wali kotaGaza yang kemudian ia ditangkap dan dipenjarakan. Setela ia keluar Nasher kemudian pindah ke Kairo dam menjadi pangawas di Sekolah dan Rumah sakit Qalawan.

Setelah meninggalnya Nasher, Sanjar kemudian diutus ke Gaza mengantikan nasher menjadi hakim di Gaza dan membangun tempat ini.

Preode Pendirian

Sekolah ini didirikan pada tahun 685 H. pada zaman al-Muluk yaitu preode ketika Sanjar sebagai Hakim wilayah Palestina dan Gaza. Dibangun itu, tidak ada ukiran atau prasasti yang menandai pendirian bangunan ini. Besar kemungkinan prasasti ini sudah dihapuskan pada awal abad ke lima ketika Jawaliah mengawali renovasi pada masa kekhalifahan Utsmaniyah hingga tahun 1870.

Jawaliah masih merupakan gedung besar yang menghadap kiblat. Disampingnya terdapat dua ruangan yang mempunyai lima jendela. Selain itu di samping Jawaliah terdapat bangunan-bangunan baru seperti sekolah Umar Ibnu Khottob yang didirikan pada tahun 1923. Di sebelah utara, pada ruangan yang ketiga, terdapat lapangan yang memanjang yang merupakan tempat masuknya kaum muslimin ke al-Aqsha melalui jalan al-Saro kalau dulu, atau sekarang bernama jalan Al-Alam.

Di sana juga ada ruangan-ruangan di sebalh timur dan utaranya. Dan dibagian baratnya ada lapangan. Pada zaman penjajahan Salibis tempat ini dijadikan gereja bagi para prajurit Haikal.

Ketiga shalahuddin al-Ayubi membebaskan negeri ini dari tangan Salibis. Ia menjadikan ruangan ini sebagai kuburan pemimpin Ayubiyin.

Sekolah terbesar ini kemudian dihancurkan pada pertengahan abad dua puluh dan tidak tersisa kecuali puing-puing dan bekas bangunan yang mengelilinginya dari peninggalan Utsmaniyah.

Sekolah hari ini :

Hingga hari ini sekolah tersebut hanya tinggal dua ruangan. Di bawahnya dibangun terowongan yang digunakan Zionis Israel sebagai benteng kepolisian Israel dan tempat wisatawan manca Negara, untuk melihat secara langsung apa yang terjadi di dalam masjid Al-Aqsha

Penutup :

Kami menyerukan kepada para pengelola waqaf Islam atau kepada siapa yang berkepentingan terhadap symbol kaum muslimin saat ini untuk memperhatikan tempat tersebut. Karena saat ini tempat tersebut dijadikan pintu masuk cepat menuju al-Aqsha bagi Israel. Oleh karena itu, tempat tersebut layak mendapatkan prioritas renovasi, sebelum segala sesuatunya hilang.

Insya Allah di masa yang akan datang tempat ini akan menjadi cahaya dan sekolah yang mulia sebagaimana masa lalunya. (asy)

sumber infopalestina.com


Deklarasi Istanbul untuk Membela al Quds

Juli 9, 2008

Suasana penutupan forum al-quds internasional, Istanbul

Bismillahirrahmanirrahim

Kami, peserta Forum Al-Quds Internasional di Istanbul dengan tema ‘Mari Kita Jaga Wajah Peradaban’ yang diselenggarakan pada tanggal 5-7 Dzulqa’dah 1428H atau bertepatan dengan tanggal 15-17 November 2007, yang dihadiri lebih dari lima ribu tokoh mewakili para ulama, pemuka agama Islam dan Kristen, pimpinan politik, para pemikir dan budayawan, para tokoh yang mewakili lembaga-lembaga swasta dan profesional, sastawan, seniman dan para juru tinta.

Setelah mempelajari kondisi yang dialami oleh bangsa Palestina yang terbelenggu oleh penjajah, tapi tak pernah bergeming dari upaya yahudisasi dan pemberangusan. Bangsa yang berjuang untuk merebut kembali hak-hak kemanusiaan dan politiknya. Setelah melalui kajian seputar berbagai penindasan yang dialami oleh tempat-tempat suci, baik Islam maupun Kristen. Khususnya penggalian terowongan yang tak kenal henti di bawah Masjid Al-Aqsha Al-Mubarak dikhawatirkan akan menyebabkan runtuh, yang dibuktikan oleh delegasi dari Turki. Bertolak dari berbagai pengalaman bangsa-bangsa secara umum dan pengalaman konflik dengan pihak Zionis ‘Israel’ secara khusus, membuktikan bahwa perlawanan dengan berbagai bentuk dan levelnya, yang berdasarkan pada kesatuan nasional dan keikutsertaan rakyat secara bebas, adalah jalan yang paling sukses dalam menghadapi penjajahan dan pembebasan tanah Al-Quds, Palestina dan semua wilayah yang dijajah, baik di tanah Arab dan Islam maupun tanah di penjuru dunia lainnya.

Pengalaman itu membuktikan pula mandulnya gaung konferensi-konferensi dunia yang diselenggarakan di bawah bimbingan langsung Amerika yang berpihak pada pihak penjajah Zionis ‘Israel’ dan memberangus persoalan Palestina, sekaligus mendukung rencana pertikaian internal rakyat Palestina serta merobek kesatuan Arab dan Islam.

Untuk menjelaskan tentang prinsip-prinsip umum yang terkait dengan persoalan kota Al-Quds dan Palestina, secara historis dan realita, juga karena hak-hak bangsa Palestina secara kemanusiaan dan politik, serta karakter penjajahan Zionis ‘Israel’ yang bersifat perluasan pemukimannya. Untuk itu semua, kami, peserta forum, mendeklarasikan sebagai berikut;

Deklarasi Istanbul

Untuk Membela Al-Quds

Sabtu, 7 Dzulqa’dah 1428/17 November 2007

1. Al-Quds adalah kota perdamaian, tempat bertemunya beragam peradaban, tanah suci dan yang diberkahi, dengan keselamatannya manusia jadi damai. Namun jika ditindas, maka akan memicu konflik dan perang. Oleh karena itu, kota suci ini harus tetap menjadi simbol terjalinnya peradaban dan terjalinnya arti saling memaafkan, keadilan dan hidup berdampingan secara manusiawi.

2. Al-Quds kota sejarah yang dibangun oleh bangsa Yabus lebih dari lima ribu tahun dan mereka sebut dengan ‘Orsalem’ (kota perdamaian), kemudian dijaga oleh generasi selanjutnya yang datang dari Jazirah Arab. Walaupun bangsa-bangsa lain menguasai kota tersebut, eksistensi penduduknya dari bangsa Kan’an Arab dan Palestina tetap dipertahankan dan dilanjutkan oleh kabilah-kabilah Arab berikutnya. Tiada kata henti bagi mereka untuk terus membangunnya. Merekalah yang telah mewarnai Al-Quds dengan jati diri Arab dan tidak mungkin hak mereka dicabut dengan apapun.

3. Penjajahan Zionis atas tanah Al-Quds Barat tahun 1948 dan Al-Quds Timur tahun 1967, adalah penjajahan yang bersifat rasis, pendudukan, pemukiman dan teroris bertolak belakang dengan gerakan historis. Penjajahan ini merupakan bentuk dari fenomena pendudukan yang berdiri di atas kezaliman, penindasan dan pelanggaran hak-hak. Penjajahan atas tanah Al-Quds, Palestina, Dataran Tinggi Golan dan perkebuna Seba’ ini harus segera dimusnahkan, begitu juga dengan semua bentuk sisa-sisa penjajahan di atas dunia lainnya. Hal ini telah ditegaskan oleh resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sudah tekenal dengan mengatakan bahwa Zionisme adalah gerakan rasisme. Hal yang sama juga ditegaskan dalam Konferensi Durban, Afrika Selatan tahun 2001. Untuk itu, semua elemen kekuatan yang menolak setiap penjajahan, kelaliman dan pendudukan harus mendukung kegigihan bangsa Palestina bersama perlawanannya demi terbebasnya tanah air Palestina.

4. Semua tindakan pemukiman rasis yang bertujuan untuk menghapus rambu-rambu kota Al-Quds, melanggar hak-hak kebangsaan, nasionalis dan keagamaan bangsa Palestina yang, mengepung mereka dengan pagar pemukiman dan menjepitnya dengan tembok rasis, untuk mengusir dan mengucilkan penduduknya, adalah upaya yang ditolak dan dikecam.

5. Semua penindasan atas tempat-tempat suci Islam dan Kristen, terutama atas Masjid Al-Aqsha yang terus diterpa dengan penggalian yang akan mengancam keruntuhannya dengan tujuan untuk membangun Haikal Sulaiman di atas reruntuhan masjid tersebut. Semua penindasan yang mengancam perdamaian dan kestabilan itu, baik di wilayah Timur Tengah maupun di dunia lainnya, adalah penindasan atas warisan sejarah bagi peradaban kemanusiaan. Terlebih lagi akan bisa mengancam kota Al-Quds dan Palestina secara keseluruhan. Hal ini mengharuskan semua bangsa dunia untuk menghadapi dan segera menghentikannya tanpa tawar menawar lagi.

6. Keberlangsungan penjajahan Zionis ‘Israel’ atas Al-Quds dan Palestina, dengan senjata nuklir yang dimilikinya dan adanya kehendak untuk memperluas penindasan tersebut, akan masih menjadi faktor ketidakstabilan dan pendorong kekhawatiran bagi para pecinta perdamaian dan pendukung hak-hak asasi manusia di dunia. Penjajahan ini masih menjadi sumber ancaman untuk menjerumuskan wilayah Timur Tengah dalam perang yang terus menerus dan mengancam perdamaian dunia serta perkembangan manusia.

7. Penegasan hak kembali bagi pengungsi ke tanah Al-Quds dan semua tanah Palestina, karena hal itu merupakan hak secara pribadi dan massa yang tidak boleh diperundingkan dan dikompromikan. Juga penegasan hak bangsa Palestina untuk menunaikan semua hak-hak nasionalis di atas tanah sejarahnya, termasuk hak politiknya sebagaimana yang dirasakan oleh bangsa-bangsa lainnya.

8. Meminta negara-negara Arab, Islam dan semua negara yang mencintai perdamaian, lembaga-lembaga dunia lainnya untuk mengukuhkan semua upaya dalam menghentikan penjajahan Zionis atas tanah Al-Quds dan menjaga eksistensi ke-Arab-nya berikut tempat-tempat suci Islam dan Kristen. Melaksanakan proyek ekonomi, sosial, media, kebudayaan dan pendidikan yang bisa membantu kegigihan penduduknya mempertahankan tanahnya sekaligus membantunya terbebas dari penjajahan Zionis. Menghentikan segala bentuk normalisasi hubungan dengan pihak Zionis ‘Israel’.

9. Perserikatan Bangsa Bangsa, keputusan-keputusan sebelumnya yang diambil menjadi salah satu penyebab nestapa yang dialami bangsa Palestina, diminta untuk komitmen total dalam mengentaskan embargo dan permusuhan atas bangsa Palestina. Organisasi dunia itu juga diminta untuk mengaktifkan peran Komisi Penjagaan Al-Quds yang didirikan pada tahun 1947, juga atas negara-negara Arab dan Islam serta negara-negara dunia pecinta damai lainnya diminta untuk mengentaskan embargo dan membantu bangsa Palestina dengan segala apa yang mereka butuhkan.

10. Forum dunia ini telah membentuk sebuah kebersamaan dinamis bagi persatuan umat Islam seluruhnya demi membela Al-Quds dan Palestina. Forum ini mengajak semua negara merdeka di penjuru dunia dan menyerukan kepada mereka untuk mengadakan pertemuan kemanusiaan yang lebih luas dalam menyelamatkan bangsa Palestina dan menciptakan keadilan serta perdamaian di tanah tersebut. Seruan ini juga disampaikan kepada saudara-saudara kami yang diembargo di dalam Palestina untuk bersatu dalam menghadapi pihak penjajah dengan mengingatkan firman Allah Ta’ala, yang artinya;”Jangan saling bertentangan, karena akan mengalahkan dan melemahkan kekuatanmu.” Kami juga berharap agar pertemuan ini sebagai pendorong kembalinya proses dialog antara anak bangsa Palestina.

Kami semua bekerja untuk Al-Quds

Saling bergandengan tangan, saling bahu membahu kami meniti jalan menuju Al-Quds

Walaupun panjang dan mahal pengorbanannya kami tetap tak bergeming

Hari ini pertemuan untuk Al-Quds dan esok pertemuan di kota Al-Quds, dengan izin Allah Ta’ala

sumber : infopaestina.com