Menlu RI: Selesaikan Konflik Palestina Tidak Mudah, Mesti Bertahap

Juli 11, 2008

Konferensi Pemberdayaan untuk Palestina (Ministerial Meeting on Capacity Building for Palestine) akan digelar pada 14-15 Juli 2008 di Jakarta. Dari proses itu, Indonesia selaku memprakarsa berharap agar berdirinya negara Palestina tak hanya sekedar menjadi impian, namun segera terwujud dan menjadi kenyataan.

Namun, mengenai target waktu kapan hal itu akan terwujud Indonesia tidak bisa memberikan batasannya.”Sebagai bukan pihak yang menjadi sengketa langsung dalam konflik ini, kita tak menetapkan target. Kita tahu, ini proses yang tidak mudah yang dihadapi para pihak dan bukan tidak mungkin target itu tidak dipenuhi tapi yang penting adalah guliran proses ini terus berlangsung, yang penting bahwa dialog dan negosiasi dapat diteruskan kalau perlu, sesudah Desember 2008, ” kata Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, di Departemen Luar Negeri, Jakarta, Kamis (10/7).

Menurutnya, dialog itu perlu dilakukan, jangan sampai meneruskan apa terjadi pada 2006 tanpa adanya dialog, akhirnya masing-masing kelompok mengambil caranya sendiri, yang menimbulkan tindak serangan balas-berbalas yang mengakibatkan banyak orang terbunuh dan menderita.

Ketika ditanya apakah kemerdekaan Palestina harus didapat dengan mengemis kepada Israel melalui dialog-dialog yang dilakukan, Hassan menyatakan, dialog tak bisa disamakan dengan mengemis, akan tetapi dengan cara menetapkan harapan dan target yang ingin dicapai dengan merundingkannya bersama dengan pihak yang berkepentingan.

“Memang tidak mudah dan faktanya begitu. Jangan berilusi bahwa besok bisa selesai. Kenapa tidak merekomendasikan deklarasi unilateral atau seperti yang dilakukan kosovo? Faktanya dari dua atau tiga kasus itu tak selalu sama, ” ujarnya.

Berbagai pihak banyak pesimistis target Annapolis, apakah konferensi ini akan bernasib serupa, Hassan menyatakan, yang dilakukan di sini adalah dorong persatuan dan dialog, serta upaya rekonsiliasi membantu proses damai yang dapat dilakukan dengan ciptakan konstitusi perdamaian.

“Kita harus optimis, sebab kalau pendukungnya tidak optimis, jangan harap ada kemerdekaan itu sendiri. Bagi kita sekecil apapun yang kita bantu, maka kita akan melakukannya, ” pungkasnya. (novel)

sumber : eramuslim.com


Pasangan Suami Isteri Galang Aksi Solidaritas Skotlandia untuk Ghaza

Juli 11, 2008

Pasangan suami isteri Palestina-Skotlandia, Khalil Al-Niss dan isterinya Linda Willis melakukan aksi solidaritas untuk masyakarat Palestina di Ghaza, dengan melakukan perjalanan menggunakan mobil van ke seluruh Eropa dan Timur Tengah.

Mobil van mereka berisi bantuan berupa berbagai peralatan kesehatan dan obat-obatan yang akan mereka bawa ke Jalur Ghaza, yang hingga kini masih diblokade oleh rezim Zionis Israel. “Barang-barang untuk keperluan medis sangat sulit didapat di Ghaza. Saya merasa apa yang kami lakukan ini akan sangat membantu, ” kata Khalil Al-Niss pada Edinburgh News beberapa jam sebelum memulai perjalanannya.

Khalil yang asal al-Quds, bersama isterinya Linda berangkat dengan van mereka dari depan gedung parlemen Skotlandia di Edinburgh Tengah. Mereka membawa muatan berupa barang-barang keperluan medis seberat 1, 5 ton, mulai keperluan medis untuk penderita penyakit jantung, diabetes, perban antibiotik dan peralatan untuk keperluan operasi. Bantuan tersebut adalah sumbangan dari masyarakat dan organisasi-organisasi amal yang ada di seluruh Skotlandia.

Mereka menargetkan perjalanan melewati Eropa dan Timur Tengah akan selesai dalam lima hari, dan akan sampai di perbatasan Rafah-perbatasan Ghaza-Mesir- pada tanggal 15 Juli mendatang.

Menurut Linda yang berprofesi sebagai perawat, ide itu datang dari suaminya. “Saya tahu peralatan medis dan obat-obatan sangat dibutuhkan di sana. Saya membayangkan, ini akan menjadi pengalaman yang menantang, melihat sendiri bagaimana kondisi di sana, ” kata Linda.

Khalil menggunakan vannya sendiri yang sengaja ia beli belum lama ini untuk keperluan perjalanan itu. Niat dan semangatnya mendapat sambutan positif dari para pemuka masyarakat di Skonlandia. “Kami sangat terkesima dengan respon semua orang di sini, ” ujar Khalil.

“Kami menerima banyak sumbangan, dan hampir tidak muat jika dimasukkan semua ke van kami. Sisa bantuan akan dibawa oleh kelompok lain, ” sambung Khalil yang mendapat bantuan dari Scottish Palestine Solidarity Campaign dalam menyebarluaskan rencana aksi solidaritasnya untuk rakyat Palestina.

Komunitas Masjid Edinburgh juga membantu pasangan itu mengumpulkan sumbangan uang dan bantuan medis. Glasgow Palestine Human Right Campaign mengkordinir siaran di radio-radio lokal dalam mempromosikan rencana perjalanan Khalil dan Linda. Seorang warga Glasgow, John Noble, menawarkan untuk menghias van Khalil dan seorang warga lainnya menawarkan untuk membuat situs berisi informasi perjalanan Linda dan Khalil.

Anggota Parlemen Skotlandia Margo MacDonald memberikan dukungan pada misi kedua suami-isteri itu. “Mereka adalah pasangan yang biasa yang melakukan apa yang mereka bisa lakukan untuk menyediakan keperluan medis bagi orang-orang yang membutuhkan. Maka, saya memberikan yang terbaik untuk membantu mereka menceritakan pada masyarakat tentang perjalanan mereka dan mendapatkan apa yang mereka butuhkan, ” tukas MacDonald pada Evening News.

“Setiap orang yang tahu tentang apa yang terjadi di Ghaza, akan mengagumi apa yang dilakukan oleh pasangan ini, ” sambungnya. (ln/iol).

sumber : eramuslim.com


Dinasti Bush Ternyata Berdarah Yahudi

Juli 11, 2008

Masih ingat dengan tulisan “George W Bush Sudah Lahir di Tahun 1796”? Yang dimuat di rubrik ini pada 1 Juni 2007? Kala itu tertulis bahwa di tahun 1796 atau 20 tahun setelah The Founding Fathers Amerika Serikat menandatangani Deklarasi Kemerdekaan AS, moyang dari Presiden AS George Walker Bush dilahirkan. Dia bernama George Washington Bush. Sama-sama George W Bush.

Michael Collins Piper, seorang kolumnis independen Amerika dan termasuk salah satu pengecam gerakan Zionisme, di dalam karyanya “Jerusalem Baru: Kuasa Zionis di Amerika” (edisi Malaysia diterbitkan Saba Islamic Media), mengutip penemuan Shalom Goldman, seorang Profesor Madya dalam kajian Ibrani dan Timur Tengah University Emory, yang mengatakan bahwa George Washington Bush merupakan moyang dari George Walker Bush.

“George Washington Bush yang dilahirkan pada 12 Juni 1796 dan meninggal dunia ada 19 September 1859 merupakan seorang profesor dan penulis buku ‘The Life of Muhammad’, sebuah pertama terbitan Amerika yang menyerang Islam, ” demikian Goldman. Goldman yang juga berdarah Yahudi ini juga menegaskan bahwa Profesor Bush merupakan pelopor atau perintis lahirnya kelompok Zionis-Kristen Amerika yang sekarang menguasai Gedung Putih dan Pentagon. “Profesor Bush sangat akif mendukung Zionisme di Amerika dan berperan penting di dalam mengirimkan orang-orang Yahudi Diaspora ke Tanah Palestina, ” lanjutnya.

Wikipedia menulis, “Selain sebagai akademisi dan penulis, Profesor Bush juga seorang sarjana Alkitab, penginjil, dan seorang kontroversial. Dia lulus dari Dartmouth College di tahun 1818 dan masuk Princeton Theological Seminary. Bush ditahbiskan di Salem Presbytery, Indiana, tahun 1825 dan menjadi pendeta di sebuah gereja Indianapolis, sebah gereja yang dipandang sangat liberal pada masanya. ” Dari tahun 1831 hingga 1847, Bush menjadi Professor dalam kajian Ibrani dan Timur Tengah di New York University.

Di tahun 1845 Bush memperlihatkan dukungannya secara terang-terangan terhadap lobi Zionis di Amerika dengan berpindah gereja dan masuk ke dalam General Church of the New Jerusalem. Bush dengan cepat meraih popularitas dan dijadikan juru bicara gereja tersebut, termasuk di dalam majalah yang diterbitkan oleh gereja (New Church Review) dan The Hierophant, sebuah majalah yang sangat dokriner. Inilah sosok salah satu moyang dari Presiden Amerika George Walker Bush. Jadi, tidaklah mengherankan jika sikap dan kelakuan Presiden AS ini sangat pro-Zionisme dan sangat anti-Islam, karena moyangnya pun nsudah demikian.

Itulah sekilas tentang moyang Dinasti Bush. Namun ternyata ada penemuan lain sekitar asal-muasal Dinasti Bush yang tak kalah penting untuk diketahui.

Texe Marrs

Texe Marrs, seorang peneliti masalah-masalah Illuminati dan Zionis berkewarganegaraan Amerika Serikat, dengan susah payah berusaha menelusuri jejak sejarah Dinasti Bush selama bertahun-tahun. Dalam penelusurannya, Marrz menemui banyak sekali data yang mengagetkan terkait salah satu dinasti berpengaruh di Amerika ini. Salah satunya seperti yang dituangkan dalam satu artikel berjudul “George W. Bush, Zionis Double Agent, American Traitor” (George W. Bush, Agen Ganda Zionis, Pengkhianat Amerika).

Dalam artikel yang halamannya ditulisi sebagai “Exclusive Intelligence Examiner Report”, di awal artikelnya, Marrz mencantumkan dua kutipan: satu dari Hillaire Belloc dalam bukunya Cultural Warrs (Sept 2000) yang menyatakan, “Seseorang sudah bisa dicap anti-Semit jika mengatakan bahwa orang Yahudi itu adalah Yahudi” dan satunya lagi dari Injil Yohannes 20:19 yang berbunyi, “Then… When the doors were shut where the disciples were assembled for fear of the Jews, came Jesus and stood in the midst, and saith unto them, Peace be unto you. “

Dalam artikelnya, Marrs yang beragama Kristen ini menulis bahwa mantan Presiden AS George Herbert Bush dan juga puteranya, George Walker Bush, demikian pula Jebb Bush, adik kandung George Bush Junior yang menjadi Gubernur Florida, merupakan para pelayan dan pembantu kepentingan Zionisme. Marrs awalnya ingin mengetahui akar kekristenan Dinasti Bush, namun yang didapat sungguh mengejutkannya.

Marrs mendapatkan sebuah dokumen yang dikeluarkan National Jewish Welfare Board, saat berlangsungnya perang revolusi Amerika Serikat melawan kolonialis Inggris, mencatat bahwa seluruh anggota Dinasti Bush ternyata berdarah Yahudi dan sengan sendirinya memeluk agama Yahudi. Mereka tercatat sebagai tentara dan juga pelaut Yahudi-Amerika. Ada yang bernama Mayor George Bush, Mayor Louis Bush, dan Mayor Solomon Bush. Nama-nama itu muncul di dokumen tersebut secara jelas. Dengan temuan ini, Marrs sangat yakin bahwa Dinasti Bush adalah sebuah dinasti Yahudi yang berpura-pura komit dengan kekristenannya guna mengelabui warga Amerika dan dunia pada umumnya.

Hubungan antara Dinasti Bush dengan pusaran elit Zionis Amerika juga sangat dekat, sehingga Marrs tanpa ragu menyatakan bahwa Dinasti Bush merupakan sebuah kelompok elit dalam lingkaran pusat kelompok Illuminati Amerika. “Berkedok sebagai penganut Kristen fundamentalis, Bush sebenarnya bekerja sepenuhnya untuk kepentingan Zionis-Yahudi, ” tegas Marrs yang telah melakukan penelitian soal keluarga Bush selama enam tahun.

Buku ‘Rahasia di Balik Penggalian Al-Aqsha’ (Abu Aiman, 2007) yang juga mengutip artikel dari Texe Marrs menulis, “Sewaktu terpilih sebagai Presiden AS, George W Bush langsung melantik staf pertamanya untuk Gedung Putih, Ari Fleischer. Dia adalah seorang Rabbi dari sekte radikal Yahudi Lubavitch. Kemudian Bush juga mempertahankan posisi Allan Grenspan, seorang bankir Yahudi, sebagai Komisaris Federal Reserve, dan juga mengangkat seorang Rabbi Yahudi, Dov Zackheim, sebagai pengawas keuangan Pentagon!”

Lalu, Bush juga mengangkat Michael Chertoff sebagai ketua Dalam Negeri (Homeland Security). Padahal ia adalah ideolog Yahudi dan sangat benci kepada Kristen. Ayah Chertoff adalah seorang Rabbi dan tokoh radikal Yahudi di AS. Marrs bahkan menyamakan Chertoff sebagai Himmler-nya Amerika (Himmler merupakan ajudan Hitler yang sangat kejam).

“Saya tegaskan, saya telah meneliti latar belakang Dinasti Bush, termasuk dari faksi Rothschild, tanpa keraguan sedikit pun saya tegaskan kepada Anda bahwa Dinasti Bush dan George Walker Bush memang benar adalah Yahudi tulen. Seorang Yahudi berdasarkan keturunan, seorang Yahudi berdasarkan keyakinan. Hanya saja, mereka menyembunyikan itu dari publik dan memakai kedok sebagai keluarga Kristen yang taat. ” (Rizki Ridyasmara)